Topik tentang toxic people lagi rame dibahas di sosmed akhir2 ini, en aku menelaah bahwa toxic people seringkali dihasilkan dari dysfunctional family, trutama dari sosok pria yang ga menjalankan tugasnya sebagai suami dan ayah yang mencukupi kebutuhan hidup serta menjadi imam dalam keluarga. Kedengarannya biasa, tapi itu adalah awal mula dari berbagai masalah yang ada di masyarakat.
Dysfunctional family itu seolah2 lumrah di jaman now, banyak pria yang ga berfungsi sebagai suami yang mengasihi istri (boro2 membawa keluarganya mengenal Tuhan), seorang ayah yang ga mendidik anak2nya dalam kebenaran serta memberikan teladan, serta seorang kepala keluarga yang melalaikan tugasnya sebagai provider. Ga jarang ngeliat seorang suami en ayah yang lebih sibuk maen game sehingga melalaikan semua tugas utamanya.
Kalo kita telusuri lebih dalem, kebanyakan remaja yang bermasalah tuh disebabkan oleh ketidakhadiran seorang ayah dalam keluarga. Anak2 yang pemberontak, kabur dari rumah, terikat dengan narkoba, menjadi prostitute, ato melakukan tindak kriminal tuh seringkali karena ga pernah merasakan peran seorang ayah yang memberi teladan, membimbing serta menegur mereka dalam masa2 pertumbuhan. Masalah ekonomi tuh bukan penyebab utama, tapi seorang ayah yang ga pernah berfungsi sebagaimana seharusnyalah yang menjadi dasarnya.
Tulisan ini lahir dari banyak ngeliat sekeliling en akibat dari ketemuan ama seorang temen yang cerita cukup detail tentang keluarganya, tentang papanya yang walopun rajin ke gereja tapi ga pernah provide the family sehingga mamanya yang kudu kerja banting tulang sambil didik anak2nya, tentang mamanya yang pontang panting jalankan peran papa sekaligus mama buat anak2nya sehingga hidupnya ga balance, tentang adek2nya yang ga punya arah hidup karena ga pernah diarahkan ato dikasi petunjuk tentang kehidupan oleh sosok ayah.
Bertaon2 lalu aku pernah baca artikel tentang menikah tuh bukan cuma sekedar cari suami buat diri kita, tapi juga cari ayah yang baik buat anak2. Seorang ayah tuh bukan cuma berperan sebagai pencari nafkah, tapi terutama sebagai seorang yang Tuhan percaya untuk membentuk kepribadian anak2nya, mengarahkan dan membimbing anak2nya untuk mencapai apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup anak2nya. En aku tau bahwa ini peran yang berat banget, ga semua pria tau tujuan Tuhan dalam hidupnya, gimana bisa arahin anak2nya untuk hal tersebut?
Banyak pria yang ga menyadari betapa pentingnya peran ini, bersikap sebodoh amat, atau emang sengaja mengabaikan karena ga mau repot. Tapi seperti yang kita tau, unit pertama yang Tuhan bentuk adalah keluarga karena Dia mau lakukan hal2 besar melalui keluarga, en iblis pun ga tinggal diam. Kalo kita pelajari lebih lanjut, keluarga yang rusak tuh menghasilkan anak2 yang kacau balau. Kalo mau perbaiki manusia, secara gamblang kita kudu perbaiki yang namanya keluarga terlebih dahulu.
Karena pernah jadi guru, temenku bilang, anak2 sedini mungkin tuh udah kena dampak dari keluarga. Anak2 yang dilahirkan dalam keluarga yang cinta Tuhan pasti akan berprestasi di sekolah, attitude-nya baik, tingkat fokusnya tinggi, en ceria. Sebaliknya, anak2 yang berasal dari broken home ato ortu yang sering bertengkar cenderung jadi trouble maker, nilai2nya jelek, susah konsentrasi, attitude-nya pemarah. Jadi pada dasarnya buah2 yang ditanam oleh keluarga udah bisa diliat sedini mungkin dari anak2nya. Ga heran firman Tuhan bilang:
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" (Amsal 22:6)
Di post ini, tujuanku ada dua. Pertama, bagi readers yang berasal dari dysfunctional family, don't lose hope! Kalo ayahmu ga pernah berfungsi sebagaimana seharusnya en kamu tumbuh tanpa arahan yang benar, belom terlambat. Jadikan Bapa di surga sebagai ayahmu yang akan mengisi peran tersebut, ijinkan dirimu mengalami pemulihan secara luar biasa. Teknisnya mungkin ga instan tapi carilah Dia dan biarkan kuasa-Nya bekerja, entah secara cepat atopun bertahap. Mungkin kamu perlu cari pemimpin rohani ato gembala yang bisa mendukungmu di area ini, bahkan mungkin mereka bisa menjadi "ayah rohani" yang Tuhan pakai untuk membantu proses pemulihanmu.
Kedua, buat ciwik2 yang masih single, yang lagi deket ama lawan jenis, ato yang udah dikejar2 umur buat segera menikah, pleaseeee ga usah buru2. Pernikahan tuh hal yang super serius, karena ga cuma menyangkut masa depanmu tapi juga masa depan anak2mu. Jangan jadikan pernikahan tuh sebagai sebuah pelarian, sebagai solusi atas masalah hidup yang sementara, atopun hanya sekedar bermodalkan cinta. Inget bahwa anak2mu ga bisa memilih ayah mereka, tapi kamu bisa memilih dengan siapa kamu menikah. Please jangan berpikir pendek atopun egois, jangan sampai salah pilih pasangan lalu nyesel seumur hidup. Bener2 minta petunjuk Tuhan, dengerin pendapat orang2 yang mengasihimu tentang pria yang sedang dekat denganmu ato sedang kamu pertimbangkan. Pernikahan tuh bangun keluarga baru, kudu beneran punya fondasi yang benar en kuat serta pasangan yang tepat agar pernikahan itu bisa menjadi surga di bumi.
Pernikahan tuh hal yang sungguh2 serius karena seharusnya menggambarkan hubungan Kristus dengan mempelai-Nya, yaitu gereja. Pernikahan ga bisa cuma bermodalkan cinta, kudu 2 orang yang sehat en sudah dipulihkan baru bisa membangun kehidupan baru yang sehat juga. Bereskan dulu issue2 masa lalumu, trutama kalo kamu berasal dari dysfunctional family supaya hal itu ga jadi beban buat pernikahanmu nantinya. Karena sejatinya pernikahan bukannya melenyapkan masalahmu, tapi semakin menyoroti masalahmu. Issue yang ga kamu bereskan saat single akan jadi bumerang dalam pernikahanmu kelak. Please be wise, arahkan hatimu seirama dengan kehendak-Nya.
Be blessed, guys!
No comments:
Post a Comment