May 20, 2020

THE TRUE COLOR OF EVERYTHING

Selama dua bulan terakhir kantor udah menerapkan WFH dan PSBB, otomatis banyak hal yang sempat kulakukan di luar urusan kerjaan kantor. Bersyukur banget buat masa2 langka seperti ini dimana akhirnya banyak karakter orang tersingkapkan, banyak kesempatan untuk menelaah hal2 yang selama ini terabaikan. Aku jadi lebih bisa mengamati banyak hal secara terperinci, mempertimbangkan banyak hal, mengenali banyak motif terselubung orang2 di sekelilingku.

Tentang kerjaan, makin terungkap banyak problema karena emang dari awal proyeknya ga ada rencana yang matang, ga ada pengalaman, ditambah sikap sok tahu en lepas tangan dari owner. Akhirnya masa2 ini tuh banyak hal yang perlu dibenahi, yang akhirnya jadi menguras tenaga. Lucu juga karena dirut sempet tengkar ama owner soal hal2 kecil yang selama ini pembayarannya dilimpahkan ke kantorku, soal klaim2 seenaknya yang di luar kesepakatan. Cukup melegakan karena dirut mengambil langkah tegas untuk nge-cut owner yang selama ini ngerasa sok berkuasa en semena2.

Tentang anak buah, aku makin paham sifat asli mereka satu persatu, siapa yang bisa dipercaya, siapa yang kompeten, siapa yang sikapnya bener2 menyebalkan, bahkan siapa yang ga tau diri ahahaha. Jadi selain si C yang selalu cari perkara, ada si N yang selalu  ngeluh en iri ama orang2 di kantor, ada juga si S yang moody en sombong trus tiba2 ajuin resign semaunya. Aku ga mau ambil pusing, aku berusaha bersikap tegas serta merespon dengan bijak, menurutku seleksi alam perlu terjadi. Dan pada akhirnya, yang terbaiklah yang akan bertahan dan keluar sebagai pemenang.

Tentang rekan2 di kantor, aku jadi makin paham pola pikir, sikap hati, serta pergumulan banyak orang. Di usia yang sekarang, aku bisa melihat segala sesuatu dengan mata yang lebih jernih, dengan hati yang lebih lapang, serta dengan pola pikir yang lebih dewasa. Banyak rekan kerja yang kinerjanya ga karuan, manajemen kantor yang berantakan, ditambah WFH yang makin bikin mereka sulit dikontrol. Akhirnya aku banyak bersikap cuek daripada pusing sendiri, yang penting kerjaanku beres en bisa kupertanggungjawabkan ke dirut. 

Tentang calon investor en 2 anak buahnya yang udah memporakporandakan seisi kantor selama hampir 5 bulan, ujungnya mereka dengan santainya bilang ga jadi investasi. Aku ga paham pertimbangan para pemegang saham en owner yang mengijinkan mereka untuk mengakses semua data2 internal perusahaan tanpa ada batas kewenangan ato perjanjian apapun. Sikap 2 anak buah dari calon investor yang semena2 padahal mereka sama sekali ga kompeten, bener2 bikin aku berpikir betapa licik dan degilnya hati mereka yang hanya mau ambil keuntungan dan gaji buta selama 5 bulan. Makin ga respek ama orang2 seperti itu yang bersembunyi di balik kuasa uang. Di momen seperti ini, ketika berbagai proyek calon investor ga berjalan dengan lancar, aku merasa bahwa Tuhan sedang mengarahkan tangan-Nya terhadap mereka yang hanya mau mengambil keuntungan secara tidak benar. I thank God for this situation. 

Jujur aja, selama masa PSBB, tingkat stress-ku bertambah karena gaji dipotong 50% sementara boss sering banget ngontak tanpa batas waktu, ditambah lagi aku jadi sering kontak dengan divisi2 laen sehingga makin paham problematika di kantor secara menyeluruh. Banyak orang termasuk anak buahku yang kerjanya ga excellent, sering ga bisa dikontak di jam kerja dengan berbagai alasan, sehingga akhirnya aku handle banyak hal yang seharusnya bukan jobdesk-ku. Sungguh melelahkan secara fisik dan emosi.

Akhirnya aku cari berbagai pelarian, nonton drakor, sembahyang, bahkan beli es krim 4 liter buat pelampiasan. Sempet beberapa kali nangis sendirian karena ga tau harus mencurahkan kemana, ga ada temen cerita, ga bisa hangout juga, kangen doa ke BDI. Bener2 masa yang sulit bagiku, tapi justru disitulah kasih dan pemeliharaan Tuhan makin nyata. Tiba2 aja ada beberapa temen yang ngontak, bisa cerita en sharing banyak hal, jadinya beberapa beban terlepas. Aku sadar bahwa semua orang sedang struggle di masa2 ini, justru disinilah akan tampak kualitas asli setiap orang. Aku menyadari bahwa tau titik lemah kita sendiri itu baik, supaya kita bisa bersandar pada kekuatan Tuhan, supaya kita bisa meminta pertolongan dari sesama kita. Inilah momen2 dimana hatiku direndahkan oleh Tuhan, memahami bahwa ga ada yang bisa kubanggakan sama sekali.

Aku mensyukuri segala sesuatu yang masih Tuhan karuniakan: keluarga, pekerjaan, sahabat2, bahkan teman2 berbagi yang masih kokoh mengelilingiku seperti benteng. Aku bersyukur untuk setiap tekanan, masa sulit, serta ketidakpastian yang membuatku semakin kuat secara mental. Ga mudah untuk dijalani, tapi step by step hati ini semakin Tuhan teguhkan. Thank God buat semua pembelajaran di masa2 ini. 

No comments: