October 26, 2020

SELF IMPROVEMENT

Sabtu lalu sempet ngobrol ama mama en papa angkat about many things. Aku bener2 bersyukur Tuhan taruh mereka di hidupku untuk mengajarkan banyak hal, mencelikkan mataku terhadap hal2 yang ga kupahami, memberikan wejangan dan insight untuk langkah2ku ke depan.


Jadi waktu itu aku cerita soal pertanyaan MD-ku (managing director) beberapa saat lalu mengenai apa aku punya pandangan ke depan mau buka usaha apa. Jujur aja, aku bilang aku ga tau karena semua bidang yang kusuka tuh seolah2 ga ada jalan kesana, en saat ini aku menjalani pekerjaan yang bukan passionku. MD-ku ini walopun usianya masih muda, tapi udah sukses, udah punya beberapa usaha yang menghasilkan passive income, panutan banget deh pokoknya.


Waktu itu aku cerita ke papa mama angkat bahwa di minggu itu aku sempet down karena aku ga perform di kantor property, aku minder karena ngerasa ga berbuah, en pengen ajukan resign. Papa nanya, apa yang kurasakan selama aku join di property en ktemu dengan banyak orang disitu. Aku bilang bahwa aku ktemu papa mama tuh menurutku sebuah berkat besar, aku ngalami banyak perubahan pola pikir sejak join di property, aku berubah jadi lebih supel en fleksibel, aku lebih memahami banyak hal dalam hidup, aku belajar banyak hal sehingga aku bisa melayani lebih banyak orang. 


Papa bilang bahwa itu adalah sebuah pencapaian yang besar! Papa bilang bahwa pencapaian tiap orang tuh beda2, walopun berada di tempat maupun musim yang sama. Contohnya, di masa pandemi gini, ada orang yang kehilangan pekerjaan tapi justru dia bisa bangun hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan. Sebenernya itupun sebuah pencapaian yang luar biasa, melebihi pencapaian dalam bidang pekerjaan atopun penghasilan sebesar apapun. Mama bilang mungkin aku down karena salah fokus, fokusku di closing bukan di hal2 yang sudah kucapai en perubahan hidup yang kualami. Emang aku ngerti bahwa berkat ga cuma bicara soal duid, tapi tujuanku join di property itu kan buat dapet penghasilan yang lebih besar daripada gaji kantoran.


Trus papa sharing sedikit tentang bukunya Steven Furtick "Greater". Intinya bahwa seringkali kita tuh berpikir greater berarti dapet duid lebih banyak, punya pengaruh lebih besar, dikenal banyak orang, ato apapun yang keliatannya waow. Tapi sebenernya greater untuk tiap orang tuh punya takaran yang berbeda2 karena tiap kita diciptakan dengan tujuan en panggilan hidup yang berbeda2 pula. Tuhan itu baik en sayang banged sama kita, ga mungkin kita ga dikasi clue untuk mencapai rencana-Nya yang besar. Menurut kacamata Tuhan, Thomas Alfa Edison menemukan bola lampu itu greater. Namun bagi Tuhan, ibu Thomas Alfa Edison yang "hanya" mengajar anaknya sehingga bisa menjadi ilmuwan itu juga greater. Kita ga bisa memandang seseorang hanya dari pencapaian yang kelihatan mata.


Ketika papa en mama ngomong, aku pengen nangis. Aku tau bahwa Tuhan punya panggilan besar di hidupku, tapi aku sama sekali ga tau di bidang apa, aku berusaha mencari tapi ngerasa belum menemukan "tempat yang tepat". En jujur aja hal itu bikin stress, karena usiaku ga terlalu muda tapi kok masih berputar2 di bidang yang ga kusuka hahaha. Tapi selama ini aku punya prinsip selagi aku mencari bidang yang tepat untukku, aku mengerjakan apa yang ada di tanganku. Aku percaya bahwa panggilan Tuhan itu akan kutemukan saat aku berani melangkah step by step. Dan aku mensyukuri semua yang Tuhan berikan di hidupku sampai hari ini, bahkan untuk pekerjaan di bidang ga kusukai. Aku percaya selama aku bangun keintiman dengan Tuhan, Dia akan menuntunku kepada orang yang tepat dan tempat yang tepat. Amen!


No comments: