Dari awal September, salah satu my bestie yang tinggal di Aussie ngabari kalo dia bakal pulang Surabaya sejenak. Waktu itu dia harus nemeni papinya di Kuala Lumpur karena dideteksi ada kanker ginjal. Aku shock dengan kondisi itu, tapi bersyukur karena dia memutuskan buat pulang Indo after 5,5 years. Syukurlah, Tuhan kasi mujizat sehingga kanker papinya hilang begitu aja, sampe dokter pun bingung.
Dari sharingnya dia, aku menyadari bahwa she's also an ordinary woman, yang bergumul soal adik bungsunya yang kelakuannya masih ugal2an (ga beda jauh ama adikku), yang selalu kudu buka suara baru ada perubahan di keluarganya, yang masih diomeli perkara2 sepele ama ortu padahal kita udah bukan anak kecil lagi. Selama ini aku ngeliat hidupnya jauhhh lebih baik, lebih nyaman, lebih diberkati daripada aku, but I was wrong. Kami berada di ujian yang hampir sama, walopun dengan kasus en level yang berbeda. That's why kami masih bisa connect satu sama lain, karena saling memahami apa yang jadi pergumulan en beban doa masing2.
Kalo menoleh ke belakang, di saat pertama kali kami kenal di taon 2006, bener2 ga nyangka kalo persahabatan kami bisa bertahan sampai hari ini dimana lebih banyak LDR ketimbang ketemunya. Tuhan ga pernah salah menempatkan dia di hidupku, Tuhan kasi aku kesempatan untuk ngajak dia ke gereja, en aku banyak belajar dari kesederhanaan serta kerendahan hatinya. Thanks Oray for our friendship, love you 😍

No comments:
Post a Comment