Awal bulan ini, ada sebuah kejadian yang bikin ketua komselku chat dengan nada penghakiman (menurutku) . Dan chat itu langsung bikin traumaku mencuat lagi. Aku ambil keputusan untuk ga bales chatnya, bahkan ga angkat telponnya. Aku bergumul berhari2 ketika trauma itu muncul kembali.
Di hari2 itu, aku stress dengan kerjaan, ngerasa anxiety-ku mulai kambuh, jadi aku ngerasa ga berminat untuk nanggepi hal2 lain. Aku disadarkan bahwa trauma akan yang namanya di-judge oleh pemimpin itu masih belom sembuh. Dan aku banyak berdoa, minta Tuhan pulihkan aku di area ini. Aku ga mau terus menerus hidup dengan trauma yang menyiksa ini, aku mau sembuh, aku mau bebas.
Tuhan kirimkan seorang temen komsel yang hari2 itu nyuruh aku test karunia jawatan. Setelah sekian lama aku abaikan, aku ngerasa ada urgensi untuk garap test itu. Dan muncullah bahwa karunia jawatanku adalah nabi dan gembala/guru, yang mana bikin aku shock karena aku ga pernah ngerasa kalo aku bisa mengajar.
Romans 11:29 "For the gifts and calling of God are without repentance"
Singkat cerita, cece ini telpon aku en bilang kalo dia penasaran apa panggilanku en karunia jawatanku. Dia bilang kalo aku ngerti hal ini, pasti Tuhan akan pakai aku dengan lebih maksimal lagi. Trus dia sempet analisa akar dari traumaku akan di-judge itu. Aku ceritakan pengalaman2 traumatisku selama ikut CG en pelayanan, dimana aku selalu dihakimi oleh leader yang ga kompeten, lalu leader di atasnya lagi ga pernah kroscek langsung skors aku ato ngecut pelayananku, padahal pelayananku paling berbuah.
Disitulah aku disadarkan kalo ada penyebab utama di masa kecil yang bikin aku bermasalah dengan penolakan, ato ga diapresiasi. Dan semua itu berakar dari masa kecil, dimana ortuku menolak kehadiranku en selalu menyalahkan aku atas apa yang terjadi ke adekku (misal adekku nangis karena jatuh sendiri, tetep aku yang dianggep salah ato nakal). Aku punya trust issue dengan otoritas karena ngerasa ga dikasihi en didengarkan, boro2 dikasi kesempatan untuk membuktikan diriku ga bersalah. Dan hal itu bikin aku males konfirmasi atas tuduhan2 yang dilemparkan ke aku, karena ngerasa percuma menjelaskan toh ga pernah didengarkan ato dimengerti.
Ketika aku tau bahwa akarnya begitu kuat en dalam, aku pengen nangis. Aku menyadari trauma ini merusak banyak kesempatan di hidupku untuk aku bersinar terang, untuk melayani dengan luar biasa, untuk menjangkau banyak orang. Karena tiap kali aku di-judge, aku langsung mundur, males konflik atopun konfirmasi. Dan akhirnya aku ga melayani lagi disitu, aku ninggalin semua hal yang kubangun disitu.
Ga kebetulan Tuhan ijinkan trauma ini muncul lagi, karena Dia ingin pulihkan, Dia ingin bereskan. Aku tau kalo Dia mau pakai aku lagi dengan semua karunia en talenta yang Dia percayakan, tapi trauma ini harus sembuh dulu, supaya aku ga bisa dipukul mundur lagi oleh iblis. Aku ga mau iblis menyabotase kesempatan2 besar yang Tuhan berikan ke aku untuk melayani Dia en sesama, hanya karena penolakan masa lalu yang begitu melukaiku itu.
Aku belum berkemenangan di area ini en ga malu untuk mengakui kalo aku dalam proses. Aku tau bahwa masa2 ini menyakitkan, tapi aku mau terbuka akan karya Roh Kudus yang sanggup mengubahkan luka ini menjadi alat untuk memulihkan banyak orang. Aku kembali diingatkan kalo Tuhan ijinkan sesuatu yang buruk terjadi, itu bisa jadi sarana yang dahsyat untuk Dia memakai hidupku. Hanya orang yang terluka yang bisa berempati en melayani orang yang terluka, ada pesan yang kuat yang bisa dibagikan ke orang lain melalui trauma itu.
Aku ga mau trauma ini jadi kelemahanku, tapi aku mau ubah ini jadi kekuatan bahkan senjataku untuk hancurkan tipu muslihat iblis. Trauma bukanlah sesuatu yang perlu kuhindari, tapi harus kuhadapi supaya ada kemuliaan Tuhan dinyatakan disana. Aku mau bertumbuh sesuai kasih karunia Tuhan, bahkan di antara semua luka dan trauma yang pernah kualami. I'm Yours Lord, let it be unto me according to Your love.
Be it unto me
According to Your word
According to Your promises
I can stand secure
Carve upon my heart
The truth that sets me free
According to Your word O' Lord
Be it unto me
(Be it unto me, Don Moen)
*Thanks to ce Aixing yang support aku di masa2 gelapku ini, yang menyadarkanku akan karuniaku en kerinduan Tuhan untuk memakaiku lebih lagi.
No comments:
Post a Comment