March 31, 2013

AKU, LAOSHI, EN MY CG


Aku udah lama banget ikut CG (connect group). Udah terbiasa dengan suasana akrab dengan para anggota CG, udah sering pergi bareng sambil makan-makan, ngerayain ultah para anggota CG, sharing tentang apa aja yang terjadi dalam hidup, dan sebagainya. Saking uda lamanya en udah terbiasanya, sampai-sampai aku udah nggak ngerasa kalo semua itu anugerah. Wew!
            
Aku baru disadarkan dari “tidur panjangku” pas sabtu lalu CG-ku pergi bareng ke Foodfest. Waktu itu, aku ngajak laoshi untuk join. En laoshi dengan senang hati join. Karena keterbatasan kosakata bahasa mandarin, akhirnya aku nggak tau mau ngajak ngomong laoshi dengan topik apa. Beruntung banget ada anggota CG yang bisa bahasa mandarin. Yey!
            
Waktu itu, laoshi ngeliat keakraban kami (yang menurutku biasa itu tadi) en tercengang. Dia tuh asalnya dari Guangxi, China. Tinggal di Indonesia sekitar 4 tahun en temen-temennya mayoritas para laoshi. Dia punya beberapa temen orang Indo, tapi nggak begitu banyak ato akrab. Disitulah aku baru nyadari betapa beruntungnya diriku karena aku punya CG *sigh*
            
Laoshi sempet bilang kalo dia pengen punya temen-temen yang bisa saling sharing, karena dia nggak punya. Ternyata oh ternyata, aku baru tau kalo laoshi ini cukup kesepian. Dari luarnya, dia tuh keliatan fun, nggak ada masalah dengan keberadaannya di Indo walopun dia nggak begitu fasih berbahasa Indonesia. Ternyata di hatinya tersimpan sebuah makhluk bernama kesepian.
            
Aku jadi merenungkan banyak hal. Udah berapa lama aku ikut CG en berapa kali aku bersyukur dengan keberadaan temen-temen CG-ku? Apakah aku pernah berpikir betapa beruntungnya aku memiliki mereka? Apakah aku pernah ngerasa betapa butuhnya manusia akan sebuah komunitas? Mungkin pernah, tapi nggak bener-bener sadar. Kalo diinget-inget, aku lebih banyak mengeluh daripada bersyukur tentang CG. Upsss. Mungkin aku lebih sering ngerasa biasa aja daripada berpikir, “WAOW, aku nggak sendirian di dunia ini karena aku punya komunitas yang support aku”.

Mungkin hal yang udah terlalu biasa ini emang nggak baik. Kadang kita emang perlu sedikit digoncang supaya sadar akan anugerah yang kita miliki. En aku menyadari hal itu setelah digoncangkan oleh pernyataan yang keluar dari mulut laoshi, orang yang nggak pernah kubayangkan akan ngomong kayak gitu.

Thanks laoshi, melalui perkataan laoshi aku disadarkan bahwa aku adalah manusia yang beruntung di dunia ini. Tanpa sadar, aku menganggap sesuatu yang bagi laoshi adalah hal luar biasa sebagai hal yang biasa. Tanpa sadar, aku udah lama nggak bersyukur secara sungguh-sungguh untuk kehadiran anggota CG-ku.

Thanks Tuhan buat keberadaan en kehadiran mereka-mereka yang kadang bikin emosi, yang kadang-kadang bikin ketawa, yang kadang-kadang bikin aku kepikiran. Thanks udah nempatin aku di antara mereka. Thanks udah kasi aku kesempatan untuk menjadi manusia yang memiliki komunitas di dalam Kristus.


March 8, 2013

MULUTMU HARIMAUMU!



Post ini sempet aku turunkan dari blog karena berbagai pertimbangan. Tapi, makin lama aku makin banyak ngeliat orang-orang yang berlabelkan “Kristen”, bahkan pemimpin rohani yang nggak paham akan bahaya sebuah lidah. So, akhirnya aku memutuskan untuk publish lagi post ini dengan tujuan agar orang-orang yang membacanya bisa berjaga-jaga minimal atas mulutnya sendiri, supaya nama Tuhan jangan sampai dihujat orang.

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Amsal 18:21).
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar” (Yakobus 3:5).
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (I Korintus 15:33).
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:11).


Jumat lalu (1 Maret 2013), aku sempet marah di menara doa. Waow, seorang Lucy terkenal sangat pendiam di menara bisa marah juga ternyata yah :P Waktu itu yang dateng cuma 7 orang. Pas aku dateng, ada 2 orang yang guyonan nggak karuan. Aku nggak nganggep mereka waktu itu, tapi aku liatin trus supaya mereka nyadar, tapi nggak nyadar jugak. Nggak lama setelah aku dateng, ada 1 orang lagi yang dateng (cece ini se-CG sama mereka berdua sekaligus ketua CG mereka).

Awalnya aku diemin aja, tapi tambah lama tambah gila guyonannya. Mereka saling hina satu sama lain, gojlok-gojlokan, pokoknya nggak karuan sama sekali deh. Trus diperparah waktu itu sama salah seorang cece yang dipercaya untuk mimpin menara hari itu, ngomong dengan sombongnya ke kedua temennya itu (karena kedua temennya itu ada pertemuan untuk pemimpin en calon pemimpin CG), “Kalian berdua nggak keluar ta? Aku mau mimpin”. Dalem hati aku langsung dongkol, “Ih, sombong banget, selama ini mimpin nggak pernah bener ae kok sombong banget seh”. Akhirnya ekspresi wajahku berubah karena nahan emosi. Nah pas itu, aku duduk berhadapan sama pemimpinku. Pemimpinku sadar kalo ekspresiku berubah en nanya ke aku, ada apa. Aku cuma bilang kalo aku nggak suka sama suasananya. Trus pemimpinku tanya lagi, kenapa. Aku jawab kalo ini kan menara doa, bukan tempat untuk guyonan kaya gitu. Pas aku jawab kaya gitu, ketiga orang geje itu kaget en langsung mematung. Pemimpinku juga nggak nyangka aku bakal jawab kaya gitu.

Sebenernya, udah lama banget aku keganggu sama model ketiga orang itu. Secara umur, mereka lebih tua dari aku 11-12 tahun, tapi cara ngomong, sikap, en tindakan mereka lebih childish daripada aku. Nggak jarang aku jengkel ngeliat mereka yang nggak bisa komitmen dalam pelayanan (pelayanan cuma 1 minggu sekali, itupun mereka belom tentu dateng 1 kali dalam sebulan!), trus hidup mereka yang kayak orang yang di luar Tuhan. Belom lagi mereka bertiga tuh pergaulannya eksklusif, cuma deket satu sama lain, nggak bisa membaur sama anggota menara yang lain. Pokoknya waktu itu numpuk puk trus langsung duaaar deh.

Aku marah bukan karena dendam pribadi. Tapi karena mereka tuh nggak nunjukkin sikap seorang hamba Tuhan. Kami semua ini pendoa, tapi nggak semua punya karakter seorang pendoa. Nggak semua punya karakter seperti Kristus (bahkan ada orang yang nggak punya hati yang mau ditegur en diajar alias ngerasa diri paling sempurna di muka bumi), nggak semua bisa pakai mulutnya dengan bener. Kalo kamu pendoa, please deh jaga hidupmu (termasuk sikap en mulutmu) dengan lebih ekstra. Jangan asal cuap-cuap aja. Gimana bisa mulutmu dipakai Tuhan untuk berdoa memberkati orang lain kalo kamu nggak jaga mulutmu dengan baik?

Aku aja yang denger guyonan mereka tuh sama sekali nggak ngerasa lucu malah eneg, bahkan ngerasa kalo mending mereka diem daripada saling hina kaya gitu. Bukankah seharusnya mulut kita dipakai untuk saling memberkati, saling menguatkan, saling membangun? En gimana bisa mulutmu mengucapkan perkataan dengan penuh kuasa kalo kamu nggak pernah jagai apa yang masuk ke dalam hidupmu (termasuk dengan siapa kamu bergaul)?

Yah, pengalaman itu menyadarkan aku akan satu hal. Aku nggak boleh diem terus kalo ngeliat sesuatu yang nggak bener, apalagi kalo yang nggak bener tuh diterus-terusin. Inget loh “penghakiman dimulai dari rumah Tuhan” (lihat I Petrus 4:7). Jadi, kalo kamu menyebut dirimu adalah anak Tuhan, hamba Tuhan, ato pelayan Tuhan, please jaga hidupmu dengan lebih baik lagi. Jangan sampai karena kehidupanmu yang nggak berubah, nama Tuhan jadi dihina atau dihujat oleh orang yang belum mengenal Kristus. Inget, kalo pelayan Tuhan tuh hidupnya disorot, dituntut lebih daripada jemaat biasa, en kepadamu dipercayakan nama Tuhan.

Aku harap kemarahan singkatku hari itu menempelak hidup mereka en membuat mereka berubah. Semoga aja mereka sadar en bertobat, karena aku rindu tim menara ini jadi orang-orang yang dipercayai Tuhan secara luar biasa. Amin.


March 8th 2013
12:34 pm



March 4, 2013

UNDERCOVER BOSS


Jumat lalu (1 Maret 2013), aku nonton sebuah acara yang namanya “Undercover Boss”. En aku sangat diberkati banget sama tayangan itu. Acara itu nyeritain tentang seorang big boss dari sebuah industri fast food bernama Lynn, yang menyamar menjadi Pam untuk perhatiin kondisi kerja di perusahaannya. Dengan penyamaran yang sempurna, dia terjun sendiri ngeliat beberapa gerai fast food yang ada, para pekerjanya, sikap kerja mereka, en kondisi kerja yang sesungguhnya.
            
Di tempat pertama, dia ketemu dengan Aaron, seorang yang bagiannya menggoreng ayam. Lynn aka Pam ngeliat gimana cara Aaron bekerja dengan baik, memperhatikan setiap teknik dengan detil sehingga persediaan ayam goreng nggak pernah habis. Namun, Pam juga ngeliat sikap buruk Aaron pada pelanggan en itu menjadi nilai minus di matanya. Mereka sempet ngobrol en Aaron cerita kalo dia pernah punya impian untuk kuliah di jurusan hospitality management, tapi sayangnya impian itu gugur karena masalah biaya.
            
Di tempat kedua, Pam ketemu dengan Gina, seorang wanita yang ngajarin dia teknik menjadi kasir, gimana ngelayani pembeli, en juga gimana bersihin toilet. Gina cerita kalo dia uda kerja disitu selama 27 tahun en dia enjoy banget. Tapi sayangnya, di gerai itu, nggak ada alat kebersihan yang memadai untuk bersihin toilet sehingga pengunjung sering mengeluhkan bau toilet. Selain itu, pipa di toilet pria bocor tapi nggak ada tanggepan pas gerai mereka nelpon ke tukang pipa. Gina juga cerita kalo dia en keluarganya terpencar-pencar karena badai Katrina sehingga dia kesepian.

Di tempat ketiga, Pam ketemu dengan Douglas aka Doug. Doug ini seorang pria paruh baya yang bertugas untuk bersihin tempat parkir, tempat sampah en sediain sabun untuk cuci tangan. Doug adalah orang yang punya totalitas yang luar biasa banget, dia perhatiin kebersihan tempat sampah sampe dia mau ngorek sisa-sisa sampah dengan sekop kecil. En yang bikin aku salut, Pam juga nggak segan untuk turun tangan walopun tempat sampahnya bau banget. Doug juga nyediain sabun yang aman bagi bayi di gerainya dengan uang pribadinya, karena gerai tempat dia kerja tuh nyediain sabun yang mengandung bahan berbahaya buat anak kecil. Doug punya prinsip kalo dia nganggep tempat kerjanya tuh kayaknya perusahaannya sendiri, jadi dia berusaha bersihin semuanya dengan sempurna supaya pembeli mau balik lagi. Prinsip yang patut diacungi jempol! Di samping totalitasnya dalam bekerja, ternyata Doug juga merupakan seorang aktivis gereja dimana tiap weekend dia masak untuk kegiatan amal gerejanya. Jadi gerejanya punya kegiatan dimana tiap weekend mereka kasi makan 140-160 orang secara gratis. Pam sangat terkesan ngeliat kehidupan Doug yang bener-bener berbagi buat orang yang kekurangan. Doug sempat cerita kalo bertahun-tahun lalu perusahaan tempatnya kerja ini ngasi reward buat pegawai terbaik tiap bulan sehingga hal itu memacu setiap pekerja untuk do their best. Dia sempet nunjukkin jam tangan yang pernah dia dapetin bertahun-tahun lalu sebagai reward-nya. Sayang banget karena reward itu udah lama dihilangin.

Di tempat keempat, Pam ketemu sama Josh yang ramah banget en sikapnya sangat menyenangkan. Josh ngajari Pam ngelayani pembeli dengan sangat baik en sukacita. Suasana kerja di tempat ini yang paling asik karena Josh selalu support rekan-rekannya dengan kata-kata positif. Namun, ada hal yang bikin Pam sedih saat Josh cerita kalo tiap lunch dia harus pergi jauh ke resto lain yang jual makanan yang murah karena gaji Josh nggak cukup buat beli makanan di gerainya. Josh bilang kalo dulu ada diskon yang memudahkan karyawan untuk membeli makanan di gerai fast food itu, tapi kebijakan itu dihapus.

Yang bikin aku hampir nangis adalah bagian akhir dari acara ini, dimana akhirnya Pam membuka jati dirinya sebagai big boss mereka en dia kasi reward sesuai dengan kebutuhan keempat orang tadi. Aaron dapet teguran, uang buat kuliah, en uang buat beli mobil. Gina dapet alat kebersihan, uang buat beli mobil, en reuni keluarga di hotel mewah. Doug dapet uang untuk ngelanjutin kegiatan amal gerejanya plus supply sabun cuci tangan yang nggak berbahaya, Lynn juga ngadain lagi kegiatan reward bagi karyawan terbaik tiap bulan. Josh dapet kesempatan untuk dipromosi en Lynn memberlakukan lagi diskon bagi karyawan serta kasi uang untuk Josh beli mobil.

Tiba-tiba aku inget satu sosok yang begitu mulia en berharga, Dia adalah Raja segala raja yang mau turun ke bumi untuk menanggung dosa manusia. Dia ada untuk jawab setiap kebutuhan manusia, jamah anak kecil, sembuhkan yang sakit. Dia ada untuk dengerin setiap keluhan en jeritan hati manusia. En Dia juga yang kasi semua hal yang sebenernya nggak layak untuk manusia terima. Pribadi itu namanya Yesus.

Aku jadi terharu banget, karena ngeliat sosok Lynn yang kayak Yesus. Dia turun tangan sendiri untuk liat kondisi perusahaannya, dengerin karyawannya, en dia kasi hal-hal yang baik yang dibutuhkan tiap karyawannya. Bukankah Yesus ngelakuin hal yang lebih keren daripada itu? Yesus mati di kayu salib buat tebus dosaku, Yesus turun tangan untuk hapus setiap air mataku, Yesus peluk aku tiap aku takut, Yesus cukupkan setiap kebutuhanku, Yesus juga yang berkati aku secara melimpah. Apa yang aku butuhkan, apa yang aku nggak bisa capai, Dia yang kasi semua itu ke hidupku.

Kemarin-kemarin aku lagi agak stress karena skripsi yang mulai terhambat lagi. Aku capek banget en kekuatiran mulai menggerogoti imanku. Tiap kali disuruh revisi, aku selalu nangis en kayak nggak ada harapan. Tapi pas liat acara “Undercover Boss” itu, aku dibangkitkan lagi. Kalo Lynn yang hanya seorang manusia aja bisa segitu peduli sama karyawannya, apalagi Bapa yang begitu mengasihiku. Kalo Dia nggak menyayangkan Yesus untuk mati gantiin aku, apa sih yang nggak bakal Dia kasi buat aku? Bukankah Dia pengen yang terbaik buat hidupku, lebih daripada yang aku pengen?


I have a Maker, He formed my heart
Before even time began, my life was in His hands
Chorus: 
He knows my name
He knows my every thought
He sees each tear that fall and hears me when I call

I have a Father, He calls me His own
He’ll never leave me, no matter where I go
Chorus: 
He knows my name
He knows my every thought
He sees each tear that fall and hears me when I call
(He knows my name- Edward Chen)

March 4th, 2013
12:35 pm

February 28, 2013

MY REST




Beberapa hari lalu, pas aku doa di sore hari, tiba-tiba aku galau banget tentang skripsi. Ini uda akhir Februari en skripsiku belom dapet acc dari dosen. Padahal untuk wisuda Mei, aku harus selesai skripsi (sidang akhir) paling lambat awal Maret. Duuuuhhh, aku nggak mau molor lagi. Pengen cepet lulus trus cari kerja. Bosen banget ngurus skripsi yang kayaknya tiada akhir gini T.T
            
Doa yang awalnya jadi persiapan buat aku pelayanan malem harinya, berubah arah jadi berdoa tentang skripsi. Tuhan, please donk buat mujizat supaya aku bisa cepet selesai. Lembutkan hati dosenku yang sekeras batu bara :P Dan sejuta doa yang isinya tentang permohonan supaya skripsi ini cepet kelar.
            
Tiba-tiba di tengah doaku yang penuh kegalauan itu, aku denger Roh Kudus nyanyiin lagu di atas dengan lembut banget. Aku denger lagu itu nggak secara audibel, tapi aku tahu kalo aku denger lagu itu dengan jelas di telingaku. Byuuurr. Langsung air mataku meluber kemana-mana.
            
Aku denger di hatiku Tuhan bilang dengan sangat lembut, “Apa Aku tetep jadi kepuasan terbesarmu ato skripsi yang selesai yang jadi kepuasanmu, Luc? Apa kamu ngerasa damai kalo skripsimu dapet acc ato damai itu Aku yang kasi? Apa sukacitamu ditentukan sama skripsi ato Aku yang tentukan?” Jleeeb jleeeb jleeeb. Tiga pertanyaan yang sukses banget bikin aliran tangisanku makin deras.
            
Pas Tuhan nanya gitu, Roh Kudus tetep nyanyiin lagu itu di telingaku. Lagu yang awalnya hanya sekedar aku denger, tiba-tiba aku pahami kata demi katanya. Kepuasan batinku Tuhan, kuperoleh dari-Mu (Cuma Tuhan yang bisa puaskan batinku, bukan skripsi yang kelar). Kedamaian jiwaku oh Tuhan, Kau yang berikan (Damai sejahtera tuh Tuhan yang kasi, nggak peduli apapun keadaan yang aku alami). Sukacita sukacita yang melimpah, dekapan kasih-Mu kurasakan (sukacitaku bersumber dari Tuhan, bukan dari kebutuhan ato keinginanku yang terpenuhi).
            
Thank You, Tuhan. Entah aku bisa wisuda Mei ato nggak, aku tetep mau percaya sama Engkau. Buat temen-temenku skripsi tuh gampang banget, aku nggak tahu buat aku kenapa sulit banget selesai, susah banget dapet acc. Tapi aku tahu kalo Engkau nggak tinggalin aku di masa-masa sulit ini. Aku mau belajar ngerti hati-Mu en maksud-Mu lebih lagi. Aku berserah sama Engkau.

“My souls finds rest in God alone.; my salvation comes from Him” (Psalms 62:1).


  
Kepuasan batinku Tuhan, kuperoleh dari-Mu
Kedamaian jiwaku oh Tuhan, Kau yang berikan
Sukacita sukacita yang melimpah, dekapan kasih-Mu kurasakan
Kau sumber pengharapan dan kota perlindungan
Kutahu sungguh Kau berarti bagiku
Reff: Yesus yang kuperlu di setiap waktu
Lebih dari semua Kau bagiku
Di atas sgalanya di dalam hidupku
Satu hal kutahu, hanya Kau Yesus, sobat yang kuperlu
(Sobat yang Kuperlu)