September 21, 2011

PERABOT YANG MULIA

“Duh Tuhan, orang itu nyebelin poooollll. Pengen banget ngebales dia deh, biar dia tau rasa”.
“Kamu bisa jahat sama aku, aku bisa lebih jahat lagi sama kamu”.
“Kamu jahat banget sama aku. Liat aja, kalau aku uda gede, aku bales semuanya”.

Guys, dalam kehidupan kita ini, pasti kita pernah (bahkan sering) ketemu sama yang namanya “orang jahat”. Orang yang sukanya nyakiti kita, suka sirik sama kita, suka jelek- jelekkin kita (padahal jelas- jelas kita cakep banget :p). En daging ini rasanya geregetan banget ngliat orang- orang kayak gitu. Pengen rasanya pites mereka (emangnya mereka semut?)

Aku pun sering banget ngalami kejadian, dimana aku disakiti sama orang, difitnah, dijelek-jelekkin, dihakimi. Sakit banget rasanya. Pengen ngebales mereka. Tapi…… selalu diingetin sama Roh Kudus, “Nggak boleh. Kamu tuh anak-Ku, nggak boleh ngebales mereka. Kamu diem aja”. En sering banget aku ngebantah, “Tapi Tuhan, mereka tuh keterlaluan, uda aku diemin, uda aku baik- baikin, eh ngelunjak”. Diingetin lagi sama Dia, “Pembalasan tuh hak-Ku. Kamu nggak boleh ngebales. Uda deh, diem aja sana. Percaya sama Aku”. Kalo uda lawan si Bos, kalah deh. Akhirnya diem. Hahahahahaha.

Kalau dipikir-pikir, di dunia ini nggak ada yang adil, guys. Kita uda berbuat baik, masih ada yang nggak suka sama kita. Masih ada yang jahat sama kita, memfitnah, memutarbalikkan fakta, dsb. Tapi apakah kita mau menuntut keadilan di dunia yang nggak adil ini? No no no. Kalau kita uda berbuat baik, tapi tetep dijahatin sama orang, ya uda, diem aja. Kita nggak punya hak untuk ngebales. Mangkel sih pasti ada, tapi jangan dipikirin truss. Lebih baik berdoa, ampuni orang- orang itu, lupain. Sukacita lagi deh ^^

Sebenernya kenapa sih Tuhan ngijinkan kita sebagai anak- anak-Nya ini, ngalami hal- hal buruk kaya begitu? Coba baca ayat di bawah ini baik- baik yah.
Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal- hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (II Timotius 2:20-21).

Jawabannya adalah SUPAYA KITA MENJADI PERABOT YANG MULIA. Proses yang kita alami itu, berguna banget membentuk karakter dan sikap hati kita, agar seturut dengan apa yang Tuhan mau. Tanpa orang- orang mbencekno, kita nggak akan muncul sebagai orang yang menyenangkan. Tanpa orang jahat, kita nggak akan bisa disebut sebagai orang baik. Tanpa orang- orang fasik, kita nggak akan disebut sebagai orang benar. Nah loh.

Untuk menjadi perabot yang mulia, ada syaratnya. Di ayat 21 dibilang “menyucikan dirinya dari hal- hal yang jahat”, jadi intinya kita harus melakukan apa yang baik. Semakin banyak kita disakiti, semakin banyak kesempatan bagi kita untuk memilih, apakah kita akan terus menyucikan diri kita ato kita memilih untuk membalas dendam. Semakin kita memilih untuk mengampuni bahkan mendoakan orang yang menyakiti kita, semakin cemerlang diri kita di hadapan Tuhan.

Aku tau, itu bukanlah keputusan yang mudah untuk diambil. Tapi kita selalu punya pilihan, guys. Dulu pernah ada gembala yang bilang begini, “Kalau kamu ketemu sama orang yang nyakiti kamu, nggak usa sakit hati. Anggap aja mereka sebagai abu gosok, yang menggosok dirimu sehingga kamu semakin mulia”.  Kalau dipikir- piker, bener juga. Tanpa kehadiran mereka, karakter kita nggak akan berubah. Tanpa sikap mereka yang menyakiti kita, kita nggak akan dibentuk semain indah. Justru kita perlu berterima kasih dengan kehadiran orang- orang seperti itu, sambil mendoakan mereka supaya mereka sadar en bertobat.

Gimana nih, sekarang uda tau kan, kenapa di sekitar kita banyak orang nyebelin? Nah, saatnya kita untuk mengambil keputusan, kita mau bersikap gimana terhadap orang- orang tersebut. Yuk, jadi perabot- perabot yang mulia supaya dipakai sama Tuhan. GBU all.

No comments: