Berjuang untuk berganti haluan dari magang ke skripsi, bukanlah hal yang mudah. Selain harus bolak- balik ke kampus untuk menemui pihak- pihak yang berkaitan (sekretaris jurusan, ketua jurusan, dan dosen pembimbing), aku juga harus mencari topik dan judul baru. Namun aku tetap berusaha tenang sambil memegang perkataan-Nya bahwa Ia peduli padaku.
Perjuanganku dimulai sejak tanggal 9 Agustus, yaitu hari pertamaku kuliah di semester 7. Aku menemui sekretaris jurusan (sekjur) untuk mengajukan permohonan pindah ke skripsi. Sekjurnya mengatakan bahwa kemungkinan besar aku harus menunggu semester depan baru bisa mengajukan pindah, karena aku sudah memilih magang. Beliau mengatakan bahwa itu merupakan konsekuensi yang harus aku jalani. Kemungkinan kedua, apabila aku bisa pindah ke skripsi, konsekuensi yang aku terima adalah aku hanya akan mendapatkan 1 dosen pembimbing (dobing). Sungguh pernyataan yang melemahkan semangatku.
Namun aku tetap berjuang. Aku menemui ketua jurusan (kajur), menceritakan kondisiku, dan mengajukan permohonan pindah ke skripsi. Aku ditertawakan. Dalam hati aku berdoa, “Tuhan, kalau Engkau menghendaki aku skripsi, aku percaya pasti Kau buka jalan. Memang aku harus menjalani jaan yang tidak mulus, tapi aku yakin pasti Kau bekerja”. Kajurku menyarankan aku untuk mencoba menghubungi Bg Junction, karena ada kabara bahwa BG Junction membutuhkan tenaga akuntan.
Aku menelepon BG Junction, namun hasilnya nihil. Aku berdoa, berdoa, berdoa. Sampai aku nggak tahu aku harus ngapain lagi. Tanggal 11 Agustus, aku ke kajur lagi, menginformasikan bahwa au nggak bisa magang di BG Junction. Kajurku menyuruhku ke dobing, menanyakan apakah dobing setuju kalau aku pindah ke skripsi. Tanggal 16, aku baru ketemu dobing dan beliau bilang kalau beliau tidak bisa memutuskan karena itu adalah hak jurusan. Aku disuruh ke sekjur dan kajur lagi untuk membicarakan masalah ini. Fiuuuuhhhh…
Hari itu, aku ke sekjur dan lagi2 beliau mengatakan bahwa secara prosedur aku nggak bisa pindah ke skripsi dan ada konsekuensi yang harus aku jalani. Aku sudah pasrah, aku tahu aku salah. Kalau ada konsekuensi yang harus jalani, aku akan jalani. Aku menemui kajur lagi. Kajurku mengatakan, “Oke, kalau kamu mau pindah skripsi, kamu cari topik baru. Ajukan praproposal ke saya segera. Saya tunggu”.
Beberapa hari aku lewatkan dengan mencari topik, membaca jurnal, dan berjuang menemui kajur. Tanggal 22 Agustus, aku membawa praproposal ke kajur. Beliau langsung menyetujui topikku dan memberiku 2 dobing! Hari itu, Tuhan bener2 buka jalan bagiku. Praise God! Memang nggak mulus, tapi ujungnya semua perkataan manusia runtuh. Semua kemustahilan nggak terbukti. Tuhanku sanggup melakukan segala perkara.
Dari kejadian itu, aku belajar bahwa terkadang (atau seringkali) kita harus mengabaikan, bahkan menutup telinga terhadap perkataan2 manusia, yang melemahkan iman kita. Mungkin secara manusia atau prosedur, hal itu tidak mungkin, prosesnya sulit, atau menimbulkan konsekuensi tertentu. Namun aku percaya, ketika kita tahu bahwa Bapa menempatkan kita di tempat itu (atau situasi itu), Ia akan berkarya. Hal yang mustahil, akan menjadi mungkin. Apa yang belum pernah terjadi, pasti akan terjadi. Orang dunia berkata bahwa “nothing is impossible”, tapi bagi Tuhan “impossible is nothing!”
Aku sangat bersyukur karena aku punya Tuhan yang penuh kuasa, Ia menepati setiap perkataan-Nya, bahwa Ia peduli padaku dan akan membuka jalan bagiku tepat pada waktu-Nya. Hari2 penantian menuju kehendak-Nya memang menyakitkan dan merupakan hari2 yang panjang, namun dalam Tuhan selalu berakhir dengan bahagia.
Jalan-Mu tak terselami
oleh setiap hati kami.
Namun satu hal kupercaya,
ada rencana yang indah.
Tiada terduga kasih-Mu,
heran dan besar bagiku.
Arti kehadiran-Mu slalu,
nyata di dalam hidupku.
Reff: Penyertaan-Mu sempurna,
rancangan-Mu pnuh damai
Aman dan sejahtera
walau di tengah badai.
Ingin kuslalu bersama,
rasakan keindahan.
Arti kehadiran-Mu, Tuhan.
(Arti Kehadiran-Mu, by Jonathan Prawira)
Aug 25th 2011
7:08 pm
No comments:
Post a Comment