April 24, 2012

BE FLEXIBLE

 “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang- orang Yahudi. Bagi orang- orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang –orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang –orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala- galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” (1 Korintus 9:19- 23).
                
Aku ini orangnya cuek abis en cenderung kaku alias ga gampang akrab sama orang lain. Tapi waktu aku baca ayat di atas beberapa hari lalu pas SaTe (saat teduh), rasanya jleeeb banget. Aku salut sama rasul Paulus yang radikal, tapi bisa jadi orang yang fleksibel, untuk tujuan memenangkan sebanyak mungkin orang. Hal itu bukan berarti dia berlaku munafik ato mendua hati gitu. Tapi dia berusaha berbaur en bergaul sama semua orang, supaya melalui ke-fleksibel-annya, dia bisa memenangkan orang lain yang “berbeda” dengan dia.
                
Buat aku, bukanlah hal yang mudah untuk “menjadikan diriku hamba dari semua orang” untuk memenangkan beberapa dari mereka. Aku adalah orang yang mudah untuk menerima perbedaan, namun cukup sulit untuk berbaur atau menjadi sama seperti orang lain dalam “perbedaan” tersebut. Buat aku, sulit untuk bisa bergaul en berbaur dengan orang yang “berbeda” dengan aku. Namun, di dunia ini banyak banget perbedaan yang kita hadapi. Tentunya, mau nggak mau kita harus bisa menerima en berbaur dengan “perbedaan” itu.
               
Ketika membaca ayat itulah, aku merasa bahwa aku mulai harus belajar. Aku bukanlah orang yang supel atau mudah akrab dengan orang lain, tapi aku percaya bahwa aku diberi kemampuan untuk bergaul dengan orang lain, asalkan aku mau untuk sedikit “memaksa” diriku untuk menerima perbedaan- perbedaan yang ada. Aku harus belajar untuk bisa masuk ke semua kalangan en golongan (suku apapun, tingkat pendidikan apapun, cara berpikir seperti apapun, dsb), agar aku bisa mulai membawa dampak dalam kehidupan orang- orang yang “berbeda” denganku. Mungkin bisa dimulai dengan memulai percakapan biasa, ngobrol- ngobrol ringan dulu. Pokoknya aku harus mulai memberanikan diri untuk berbaur dengan semua orang. Semangat! Hehehehehe.

No comments: