April 27, 2012

THE MOST IMPORTANT

Di akhir jaman ini, kita harus berfungsi semakin efektif. Mengapa? Karena kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya sudah semakin dekat, sementara masih banyak orang yang belum mengenal Yesus Kristus dan belum diselamatkan. Oleh karena itu, kita harus aktif dalam mempergunakan setiap karunia dan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita, untuk menjangkau jiwa- jiwa.
                
Melayani sesama kita merupakan hal yang penting, karena untuk itulah kita dipanggil, yaitu untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus (Matius 28:19 -20). Selain itu, kita juga diberi karunia- karunia untuk melayani jemaat (Efesus 4:11-16, I Korintus 12:7- 11). Namun di dalam kesibukan kita dalam melayani sesama, kita juga perlu mengingat bahwa ada hal yang lebih penting lagi, yaitu persekutuan kita dengan Tuhan. Jangan sampai kita menjadi lebih sibuk dengan pelayanan sehingga kita “mengabaikan” Tuhan itu sendiri, seperti yang dilakukan oleh Marta (Lukas 10: 38-42). Namun, kita juga tidak bisa hanya berfokus mencari Tuhan dan mengabaikan kebutuhan sesama kita, seperti yang dilakukan oleh Maria

Apabila kita cermati, Maria dan Marta ini berada di dua kubu yang sangat ekstrim. Marta sibuk sekali memasak berbagai macam makanan untuk dihidangkan bagi Yesus. Hal ini bagus, karena memenuhi kebutuhan Yesus dan para murid akan makanan jasmani.  Sedangkan Maria duduk di bawah kaki Tuhan untuk mendengarkan apa yang dikatakan-Nya. Hal ini tentunya juga menyenangkan hati Yesus, karena yesus juga rindu berbicara dari hati ke hati. Namun di satu sisi, kita juga perlu memahami bahwa kedua hal tersebut merupakan hal yang sama- sama penting. Kita tidak bisa berada di salah satu kubu dan mengabaikan kubu lainnya. Kita harus bisa berada di antara kedua titik ekstrim itu, yaitu kita harus bisa menyeimbangkan diri di kedua sisi.

Kita perlu melayani sesama kita, memberitakan Injil, membimbing mereka untuk mengenal Yesus. Namun, kita juga harus ingat bahwa yang terpenting adalah hubungan pribadi kita dengan Yesus, karena itulah sumber kekuatan kita. Sebelum kita “ memberi makan sesama kita” (melayani sesama), kita harus “memberi makan” diri kita, yaitu dengan cara membangun persekutuan pribadi dengan Tuhan. Konyol sekali apabila kita hanya terlalu berfokus kepada melayani sesama, namun kita mengabaikan kebutuhan kita sendiri untuk “minum dari sungai Roh Kudus”. Bagaimana kita bisa memberi makan orang lain jika diri kita kelaparan secara rohani? Bagaimana kita bisa mengasihi sesama kita apabila kita kurang mengasihi diri kita sendiri?

Oleh karena itu, sebelum kita melayani sesama kita, kita harus mengerti prinsip “keseimbangan” ini, dimana kita menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan rohani kita terlebih dahulu, baru kemudian memenuhi kebutuhan orang lain. Prinsipnya, kita perlu mengasihi Tuhan dan diri kita dulu, baru kita bisa mengasihi sesama kita. Jangan sampai kita terlalu lelah melayani sesama, kemudian kita kurang istirahat atau kurang bersekutu dengan Tuhan, sehingga akhirnya kita sendiri yang burn out  atau lebih parah lagi “terhilang”. Kita harus ingat, bahwa sumber kekuatan kita adalah Tuhan, bukan diri kita sendiri. Kita juga perlu menyadari bahwa kemampuan kita sangat terbatas, oleh karena itu kita juga perlu menyediakan waktu untuk beristirahat. Singkat kata, berhikmatlah en be balance!


No comments: