Baru- baru ini aku mempelajari tentang arti sebuah tongkat bagi bangsa Israel di jaman perjanjian lama (PL). Selama ini, aku hanya tau bahwa tongkat itu melambangkan otoritas ato kuasa seseorang. Setiap pemimpin suku di Israel pasti memiliki tongkat yang melambangkan otoritas mereka atas suku mereka. Para gembala memiliki tongkat untuk menuntun dan mengarahkan domba- dombanya ke jalan yang benar. Namun, aku baru mengetahui dari sejarah, bahwa tongkat juga berfungsi sebagai pengingat mereka akan kebaikan Allah.
Di jaman Israel, setiap anak laki- laki yang akan akil balig akan mendapat tongkat dari keluarganya. Tongkat itu terbuat dari batang pohon yang telah direndam dalam sebuah cairan untuk mencegah agar tongkat itu tidak bertunas lagi. Apabila prosesi telah selesai dan seorang anak laki- laki dianggap sudah dewasa, maka tongkat itu akan diberikan kepadanya. Tongkat itu yang akan menemaninya sepanjang umurnya. Orang Israel memiliki kebiasaan untuk mengukir gambar- gambar di tongkat mereka, sesuai dengan pengalaman mereka bersama Tuhan. Setiap kebaikan ato kedahsyatan Tuhan dalam hidup mereka, mereka ukirkan di tongkat itu.
Aku sempat membayangkan, Daud mengukir gambar singa dan beruang di tongkatnya, yang mengingatkannya bahwa Tuhan pernah menolongnya mengalahkan singa dan beruang. Mungkin Musa mengukir gambar Laut Merah yang terbelah, sehingga bangsa Israel bisa menyeberanginya. Mungkin Yosua mengukir matahari dan bulan yang berhenti sehari penuh waktu dia mengalahkan musuhnya.
Dalam masa kesesakan, tongkat yang mereka miliki itu berfungsi untuk mengingatkan mereka akan perbuatan ajaib yang pernah Tuhan lakukan dalam hidup mereka di masa lalu. Ketika mereka hilang harapan, putus asa, dan merasa tidak ada jalan keluar, maka mereka memandang tongkat itu dan memperoleh semangat yang baru. Mereka kembali diingatkan bahwa Tuhan yang pernah menolong mereka di masa lalu, pasti masih sanggup untuk menolong mereka saat ini. Dengan demikian, iman mereka tidak gugur.
Di jaman ini, tongkat sudah tidak relevan dalam hidup kita. Namun kita bisa meniru cara mereka untuk tetap mengingatkan kita akan kebaikan Tuhan di hidup kita, dengan cara yang berbeda tentunya. Mungkin dengan menulis diary, menulis notes, ato memiliki jurnal pribadi yang berisikan kebaikan- kebiakan Tuhan di dalam hidup kita. Apapun caranya, bukanlah masalah, yang penting adalah agar setiap kita bisa mengingat kebaikan Tuhan dan tetap percaya kepada-Nya di masa kesesakan.
God bless you!
No comments:
Post a Comment