January 21, 2015

STUBBORN HEART

   
Sabtu lalu waktu datang ibadah pro-M, aku belajar sesuatu yang luar biasa tentang hati yang degil alias stubborn heart. Waktu itu, aku dateng sendirian en bangku di sebelah kananku kosong. Pas PAW, tiba-tiba usher minta aku geser karena ada orang yang baru dateng en mau duduk di sebelahku, otomatis aku ambil tas en geser ke bangku kiriku. Begitu kagetnya aku pas ngeliat ekspresi orang yang baru dateng itu.
       
Ternyata yang dateng adalah sepasang kekasih, yang cewek adalah pelayan Tuhan en salah satu pemimpin di CG yang pernah aku ikuti. Begitu ngeliat aku, ekspresi si cewek langsung berubah en dia batal duduk di sebelahku. Dia bisikin pacarnya en mereka cari bangku lain. Sepersekian detik, aku sempet kaget, orang itu loh ya di gereja kok sikapnya kayak gitu. Beberapa bulan lalu, dia sempet konflik sama temen yang ngajak aku CG. Kebetulan pas mereka konflik, aku sempet update status tentang pemimpin yang nggak bener, tapi aku nyindir salah satu manajer di kantor. Nah temenku nanggepi statusku di status BBMnya en cewek ini salah paham. Temenku uda berkali-kali minta maaf, tapi nggak digubris. Bahkan masalah ini sempet dibawa ke pemimpin CG en pemimpin di atasnya lagi, tapi tuh cewek tetep nggak mau nyelesaiin en nggak mau maafin temenku. Herannya, namaku dibawa-bawa juga, padahal aku nggak kenal dia (cuma sekedar tau en baru ketemu 1-2x).
       
Pas ngeliat ekspresi wajahnya, aku sempet jengkel, ya ampun aku loh nggak ikut dalam konflik itu, kok ikutan dimusuhi. Lagipula masalah itu uda berbulan-bulan lalu en hanya salah paham, kok ya masih dibawa-bawa sampai tahun uda berganti. Tiba-tiba aku inget kata-kata salah satu sahabatku beberapa bulan lalu, "Ini wez tahun berapa, kok ya jek ada ae orang yang dikit-dikit sakit ati, kepaitan en nggak mau ngampuni sampai bertaun-taun. Kita ini yo nggak keapiken, tapi makin hari makin belajar serupa Kristus. Disakiti orang yo belajar ngampuni, dikutuki yo belajar mberkati, disinisi yo belajar tetep ramah en tulus, dirugikan yo belajar nggak kecewa en makin do the best. Sakno lek liat orang-orang yang nggak berubah padahal  wes suwi jadi orang Kristen".
   
Tiba-tiba, rasa jengkelku ke cewek itu hilang, bahkan berubah jadi rasa duka yang amat sangat. Bahkan aku uda nggak seberapa konsen sama ibadah en mendoakan cewek itu dalam hati, "Tuhan, tolong ubah hatinya, ajar dia nggak terus-terusan punya hati yang degil, ajar dia punya hati yang mau mengampuni. Tolong beri dia pembaharuan budi supaya dia bisa berubah jadi pribadi yang lebih baik. Sayang banget loh Tuhan, dia tuh pemimpin, dia melayani, dia orang hebat. I speak blessing for her life".

Langsung hatiku damai sejahtera ketika aku ambil keputusan to control and lead my heart. Aku punya pilihan untuk jengkel, marah, benci, bahkan merendahkan cewek itu. Tapi aku juga punya pilihan untuk mendoakan dia, meresponi dengan cara yang berkenan di hadapan Tuhan. Apalagi aku ada di pihak yang nggak ikutan konflik, tapi disalahpahami. Saat itu, tiba-tiba aku berpikir, mungkin Tuhan juga berduka ngeliat respon hati cewek itu tadi, kami berdua sama-sama anak-Nya, sama-sama berada di rumah-Nya untuk beribadah, tapi respon hati kami sama sekali berbeda.
     
However, mengampuni adalah sebuah keputusan en kewajiban kita sebagai pengikut Kristus, bukan sebuah pilihan. Seperti pengampunan yang Tuhan Yesus teladankan, seharusnya demikian juga kita saling mengampuni. Masalahnya bukan seberapa besar kesalahan yang orang lain perbuat, bukan seberapa sakitnya dampak yang ditimbulkan oleh orang lain, dan bukan juga seberapa penting perkara itu. Namun masalahnya adalah seberapa besar kapasitasmu untuk mengampuni, seberapa banyak kamu menyadari bahwa kamu pun merupakan orang yang sudah diampuni oleh Kristus, dan seberapa rela kamu membuka hatimu.

"Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi" (I Korintus 4:12b-14).


No comments: