"Karakter asli seseorang ditentukan bukan dari bagaimana dia memperlakukan atasannya atau orang yang setara dengan dia, tapi ditentukan oleh bagaimana dia memperlakukan orang yang di bawahnya"
RESIGN. Keputusan itulah yang akhirnya kubuat saat aku ngeliat bahwa bener-bener nggak ada lagi yang bisa bikin aku bertahan di kantor ini. Dropnya kesehatanku di akhir Februari karena stres en kecapekan, sikap manajer yang semakin keterlaluan, plus kondisi kantor yang makin nggak kondusif adalah lebih dari cukup untuk membuatku hengkang dari kantor. Ortuku yang ngeliat kondisiku pun sangat mendukung aku untuk resign.
Sebenernya aku sama sekali nggak ada masalah dengan rekan-rekan kerjaku. Lokasi kantor yang jauh pun masih bisa kutoleransi. Tapi ketika sekali lagi manajerku berulah, aku bener-bener mencapai batas toleransi. Tega bener dia ngomong yang nggak-nggak pas aku beneran sakit en semakin menekan aku. Hmm, sekalipun jabatannya manajer, orang itu emang nggak layak direspek sedikitpun.
Setelah berdoa, bergumul, en diskusi dengan ortu, akhirnya 2 Maret 2015 aku ngajuin surat resign. Aku sudah siap memberikan argumen yang jujur kalo ditanya alasanku. Di luar dugaan, GM nggak berusaha menahan aku sama sekali, setelah diskusi dengan manajerku. Aku sudah menduga, manajerku pengen cepet-cepet mendepak aku. Bener-bener nggak enak punya atasan cewek yang nganggep aku sebagai saingan, hanya karena orang kantor lebih respek en sering memujiku daripada dia.
Selama ini aku berusaha tutup mata atas sikapnya yang memusuhi, karena menurutku di kantor ya untuk bekerja, bukan untuk bersaing dalam hal pujian atau penampilan. Aku cuek banget ama penampilan, sementara manajerku dandan habis-habisan, pake baju modis, lenggak-lenggok sana sini. Toh orang kantor lebih respek sama aku karena aku berusaha melakukan apa yang jadi jobdeskku. Itulah yang bikin atasanku dongkol setengah mati, pujian yang dia nantikan nggak pernah muncul, sehingga dia berusaha cari-cari kesalahanku en bikin aku nggak nyaman dengan semua sikapnya. Aku memaklumi kondisinya yang kesepian en haus kasih sayang, sehingga aku bungkam dengan semua sikapnya yang menyebalkan. Sebenernya aku bisa mencerca dia, tapi aku nggak lakuin itu karena ingat bahwa oneday aku harus pertanggungjawabkan hidupku ke Tuhan.
Sejak ada anak baru yang bakal gantiin aku, aku kenalkan dia ke orang-orang di divisi lain yang biasanya aku berhubungan. Semua orang menyayangkan keputusanku untuk resign, karena menurut mereka, aku nggak neko-neko dan enak diajak bekerja sama. En mereka kaget ketika aku blak-blakan dengan alasan resignku, mereka nggak menduga kalo sikap manajerku kayak gitu. Well, selama ini semua orang hanya melihat ke topeng yang manajerku pakai, bukan ke karakter aslinya.
Namun, beberapa hari lalu karakter aslinya akhirnya terbongkar di depan umum, saat dia mengumbar emosi di kantor dengan divisi lain, yang sebenernya merupakan sikap nggak bertanggung jawab dari manajerku yang lempar kesalahan ke divisi itu. Beberapa orang langsung tau gimana sikap manajerku yang sebenarnya en nggak heran dengan keputusanku untuk resign (well, hampir semua anak buahnya resign selama beberapa bulan ini).
Kamis lalu, tiba-tiba manajer exim (expor-impor) manggil aku en nanya apa alasanku resign. En dia menawarkan aku untuk pindah ke bagian lain, karena dia tau cara kerjaku. Tentunya aku nggak mau, karena aku yakin ada perusahaan lain yang lebih baik. Yang bikin aku kaget, dia bilang kalo anak-anak buahnya dan orang-orang divisi pembelian kasi kesaksian yang baik tentang aku. Dia bilang orang-orang di 2 bagian itu merasa enjoy bekerjasama denganku karena aku bekerja dengan sangat baik. Muncul 1 ayat di kepalaku, "Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas" (Amsal 22:1).
Salah satu sahabatku yang tau aku jengkel banget sama kelakuan manajerku, sempet bilang gini: "Ga usa dibalas. Orang punya jalannya sendiri-sendiri. Siapa berbuat baik menabur di jalannya sendiri. Siapa berbuat jahat, menuai di jalannya sendiri. Janganlah yang kotor mengotori kamu yg bersih". Yes, kata-katanya sesuai dengan kebenaran firman Tuhan yang bilang "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika dia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (Roma 12:19-21).
Thanks God buat kesempatan yang Engkau berikan untuk ada di kantor ini hingga hari ini. Aku tau bahwa selama jalanku benar di hadapan-Mu, Engkau akan memberkatiku. Pekerjaan yang lebih baik, rekan-rekan yang lebih luar biasa, en promosi sedang menantiku di persimpangan jalan berikutnya.



No comments:
Post a Comment