"When I consider Your heavens, the work of Your fingers, the moon and the stars, which You have set in place, WHAT IS MAN that You are mindful of him, the son of man that You care for him?" (Psalms 8:3-4)
The true identity. Akhir-akhir ini aku tergelitik dengan sikap beberapa orang yang super ngeselin karena bangga banget ama label en embel-embel duniawi. En muncullah inspirasi untuk nulis tentang hal ini setelah Tuhan bukakan sesuatu pas lagi doa.
Setiap manusia pasti punya jati diri. Yap, tapi apa sih jati diri kita sebenarnya? Siapa sih diri kita yang sejati? Orang-orang akan bilang apa ketika nama kita disebutkan tanpa tambahan-tambahan yang selama ini melekat dalam diri kita? Selama ini banyak orang membanggakan diri karena berasal dari keturunan tertentu, menyandang nama keluarga yang berpengaruh, punya posisi yang waow, pengalaman fantastis, pelayanan yang mengubahkan hidup banyak orang, latar belakang pendidikan yang memukau, merek tertentu yang melekat di pakaian mereka, dan serentetan label yang membuat manusia mendongakkan kepala.
Coba kita mulai tanggalkan nama keluarga dari diri kita. Tinggalkan background pendidikan yang pernah kita punya. Lepaskan semua gelar, penghargaan, en pencapaian yang pernah kita raih. Copot diri kita dari posisi di perusahaan, di gereja, di masyarakat. Lupakan tentang jasa-jasa yang pernah kita lakukan. Jangan ungkit pengalaman luar biasa yang pernah kita alami. Buang jauh-jauh merek tertentu yang selama ini kita agungkan. Siapakah dirimu sebenarnya? Siapakah dirimu di mata orang lain? Dan yang terutama, siapakah dirimu di mata Sang Raja?
Tanpa semua label, atribut, dan embel-embel, kita hanyalah debu, kita adalah angin yang berlalu. Semua label yang kita tempelkan pada diri kita, plakat yang kita sandang, serta pencapaian yang kita raih hanyalah hiasan semu. Jati diri kita sebenarnya bukan ditentukan oleh semua atribut yang melekat pada diri kita, tapi ditentukan oleh hubungan kita dengan Tuhan.
Banyak orang dengan mudahnya berjalan dengan mengangkat kepalanya karena memakai atribut, label, dan embel-embel semu tersebut. Mereka nggak sadar bahwa semua itu bukanlah hal yang permanen, sesuatu yang akan segera berlalu. Dan yang lebih berbahaya, mereka melupakan hal yang terpenting, yaitu jati diri mereka yang sebenarnya di hadapan Sang Pencipta!
Menurutku, tepat sekali kalo tema tahun ini adalah "Kerendahan Hati Mendahului Kehormatan". Yes, penghormatan dan penghargaan datang bukan dari apa yang bisa kita lakukan, tapi dari seberapa rendah kita bisa "membungkukkan badan" agar banyak orang melihat Sumber yang sejati, yaitu Kristus. Ketika kita mencapai sebuah kesadaran bahwa semua yang kita miliki, semua yang kita capai, serta semua yang melekat dalam diri kita adalah milik Tuhan, maka merendahkan hati bukanlah hal yang sulit.
Yuk, kita sama-sama belajar memfokuskan diri ke arah yang benar, bukan ke diri kita, tapi ke arah Kristus. Biar mata dan hati kita nggak dipuaskan oleh hal-hal yang semu, tapi oleh karya kekal yang Tuhan lakukan dalam hidup kita. Identitas kita yang sejati aman di dalam tangan Tuhan. Amen.


No comments:
Post a Comment