August 26, 2017

ALEPH PART II (PAULO COELHO)

BAB XIV: LINGKARAN API
1. Cara terbaik untuk bersiap menghadapi tantangan adalah dengan menumbuhkan kemampuan untuk menggunakan berbagai respon yang tak terhingga banyaknya.
2. Saat kau berkelana di planet ini, berusahalah memahami bentuk sejati Surga dan Bumi. Itu hanya mungkin terjadi jika kau menjaga diri agar tidak dilumpuhkan ketakutan dan memastikan bahwa semua sikap dan tindak-tandukmu sejalan dengan pikiranmu.
3. Ingatlah bahwa ada pengadilan lain di Surga, dan pengadilan itu akan menanyakan bagaimana kalian menjalankan kehendak-kehendak Tuhan di bumi.

BAB XV: PERCAYALAH SEKALIPUN TIDAK SEORANG PUN PERCAYA PADAMU
1. Seperti yang selalu terjadi saat pikiran kita terfokus pada apa yang kita inginkan, segala sesuatu mulai bergerak ke tempat yang pas dan sempurna.
2. Kita tidak pernah bisa melukai jiwa, sama seperti kita tidak akan pernah bisa melukai Tuhan, namun kita bisa terpenjara oleh kenangan-kenangan kita, dan semua itu membuat hidup kita sengsara bahkan saat kita memiliki semua hal yang kita butuhkan untuk menjadi bahagia.
3. Aku sadar bahwa penderitaan, saat tidak bisa kuhindari, merupakan cara untuk membantuku menggapai kemuliaan.
4. Aku memaafkan air mata yang harus kutumpahkan, rasa sakit dan semua kekecewaan, semua pengkhianatan serta kebohongan, semua fitnah dan tipu muslihat, kebencian serta penganiayaan, pukulan-pukulan yang melukaiku, impian-impian yang rusak, harapan-harapan yang mati sebelum waktunya, permusuhan serta kecemburuan, ketidakpedulian dan niat jahat, ketidakadilan yang dijalankan atas nama keadilan, kemarahan serta kekejaman, kelalaian dan sikap menghina, dunia dan semua kejahatannya.
5. Aku juga memaafkan diri sendiri. Semoga peristiwa-peristiwa buruk masa lalu tidak lagi memberatkan hatiku. Dibanding rasa sakit dan kebencian, aku memilih pengertian dan belas kasih. Dibanding pemberontakan, aku memilih musik biolaku. Dibanding dukacita, aku memilih untuk memaafkan. Dibanding balas dendam, aku memilih kemenangan.

BAB XVI: DAUN-DAUN TEH
1. Konflik hanyalah untuk jiwa-jiwa yang tidak bisa membedakan baik dan buruk. Di dunia inI ada dua kelompok, orang-orang yang memahamiku dan orang-orang yang tidak. Untuk kelompok kedua, kubiarkan saja mereka menyiksa diri untuk merebut simpatiku.
2. Terlepas dari semua konflik kita, semua kesulitan, semua sikap kejam dan juga murah hati, kita masih bisa tetap mencintai hal-hal sederhana dalam hidup.
3. Kebijaksanaan sejati berarti menghormati hal-hal sederhana yang kita lakukan, karena hal-hal itu akan menuntun kita ke tempat yang perlu kita tuju.
4. Kau mengira sudah mencapai titik akhir, padahal tidak. Dan kau benar, kau perlu memahami kenapa kau berada di sini. Kau datang untuk memaafkanku dan aku ingin menunjukkan padamu alasannya. Namun kata-kata justru merusak dan kau hanya akan memahami semuanya lewat pengalaman langsung--atau tepatnya, baru ketika itulah kita bisa memahami segalanya karena aku juga tidak tahu bagaimana kisah itu berakhir dan apa kalimat penutupnya.

BAB XVII: WANITA KELIMA
1. Pelukan berarti: aku tidak merasa terancam olehmu; aku tidak takut berada sedekat ini; aku bisa merasa rileks, merasa betah, merasa dilindungi dan berada dekat seseorang yang memahami aku.
2. Segala sesuatu terjadi pada masa sekarang. Kita mengutuk atau menyelamatkan diri kita di sini dan sekarang ini, setiap waktu. Kita terus-menerus berubah pikiran, melompat dari satu gerbong ke gerbong yang lain, dari satu dunia paralel ke dunia paralel lain.
3. Kita memiliki kebutuhan untuk menciptakan realita yang dapat terlihat di sekeliling kita; bahkan sebetulnya, jika kita tidak berbuat begitu, kita tidak akan pernah bisa bertahan melawan predator. Kita menciptakan sesuatu yang disebut "memori", persis seperti di komputer. Memori melindungi kita dari bahaya, mengizinkan kita hidup sebagai makhluk-makhluk sosial, mencari makanan, bertumbuh, dan meneruskan apa yang sudah kita pelajarI pada generasi berikutnya, namun bukan itu urusan penting dalam hidup.
4. Lingkaran api hanyalah trik untuk membebaskan kita dari memori. Itulah yang kita lakukan secara tidak sadar setiap malam ketika kita bermimpi: kita memasuki masa lalu yang terbaru atau yang jauh. Kita terbangun dan berpikir bahwa kita sudah memikirkan hal-hal konyol waktu kita tidur, namun itu tidak benar. Kita sudah mengunjungi dimensi lain, tempat segala sesuatunya tidak berlangsung persis seperti di sini. Kita mengira itu semua omong kosong karena saat kita bangun, kita kembali berada dalam dunia yang diatur oleh memori, yang merupakan cara kita memahami masa sekarang.
5. Segala sesuatu bisa saja berakhir dengan cara berbeda: konfrontasi tanpa ada hal positif. Kalau begitu keadaannya, masalah tersebut kurang memberi pencerahan dan harus diselesaikan belakangan.

BAB XVIII: AD EXTIRPANDA
1. Jika iblis ada di dalam, iblis itu akan keluar dengan teriakan-teriakan, dalam bentuk pengakuan yang kita harapkan. Jika tidak ada iblis, maka kau pasti bisa menanggung rasa sakitnya.
2. Begitu batas rasa sakit terlampaui, roh akan menjadi kuat. Hawa nafsu sehari-hari menjadi tidak berarti, dan manusia pun disucikan. Penderitaan berasal dari hawa nafsu, bukan dari rasa sakit.

BAB XIX: MENETRALKAN ENERGI TANPA BERGERAK SEDIKIT PUN
1. Kembali ke masa lalu dan membuka luka-luka lama tidaklah mudah atau penting. Satu-satunya dalih untuk melakukannya adalah karena pengetahuan tentang masa lalu dapat membantuku untuk lebih memahami masa kini.
2. Pertumbuhan spiritual ternyata tidak selalu sejalan dengan kebijaksanaan.
3. Hanya orang bodoh yang mengancam dan hanya orang bodoh juga yang merasa terancam.
4. Tidak perlu membenci orang yang datang ke meja kita, hanya perlu menyiapkan diri untuk bertarung mempertahankan prinsip.
5. Keberanian dihargai. Lagipula, kehidupan tanpa tujuan adalah kehidupan yang tidak bermanfaat.
6. Hanya seseorang yang mampu berkata "aku cinta padamu" yang sanggup berkata "aku memaafkanmu".
7. Saat lawan merasa yakin akan kekuasaannya, kau harus melawan atau dikalahkan oleh kegagalanmu untuk menunjukkan kekuasaanmu. Tahu cara menghargai dan menghormati lawan-lawanmu adalah sesuatu yang jauh lebih baik daripada apa yang dilakukan para penjilat, pengecut, dan pengkhianat.

BAB XX: MAWAR KEEMASAN
1. Saat kita merasa lemah, kita hanya perlu menunggu sebentar. Musim semi kembali, dan salju musim dingin meleleh serta memberi kita energi baru.
2. Aku mencintaimu seperti sungai yang dimulai dengan tetesan-tetesan sepi di pegunungan, lalu pelan-pelan membesar dan bergabung dengan sungai-sungai lain sampai pada satu titik, sungai itu dapat mengalir melewati hambatan apa pun untuk mencapai tujuannya.

BAB XXI: ELANG BAIKAL
1. Mintalah tolong untuk memahami hidup dengan lebih baik, jangan ingin agar segala sesuatu selaras dengan cara pandangmu tentang hidup dan mati.
2. Aku tidak bisa menyembuhkan kesedihan kalau orang tersebut menemukan kenyamanan di dalamnya.
3. Yang penting adalah tahu kapan harus berhenti.
4. Terberkatilah hidupmu. Dan sama seperti engkau mengubah hidupmu sendiri, semoga kau juga mengubah kehidupan orang-orang di sekelilingmu. Saat mereka meminta, jangan lupa memberi. Saat mereka mengetuk pintumu, bukalah pintu itu. Saat mereka kehilangan sesuatu dan datang padamu, bantulah mereka menemukan apa pun yang hilang itu semampumu. Namun, pertama-tama, bertanyalah; ketuklah pintu dan cari tahu apa yang hilang dari hidupmu. Pemburu selalu tahu harus berbuat apa-- makan atau dimakan.

BAB XXII: TAKUT PADA RASA TAKUT
1. Aku bukan sedang mengingat, aku sedang menjalani waktu itu kembali.
2. Segala sesuatu tidak selalu sama dengan yang kita harapkan.

BAB XXIII: KOTA
1. Kami membuka dan menutup banyak sekali pintu, terlalu banyak untuk dihitung. Baru kali itulah aku sadar bahwa aku bukan berada di kereta api, melainkan di sebuah kota, sebuah negara, suatu semesta baru. Seharusnya dari awal aku melakukannya. Perjalanan ini pasti akan sangat kaya; aku mungkin bertemu orang-orang luar biasa dan mendengar kisah-kisah yang bisa kutulis.
2. Aku tidak akan tersesat selama ada orang-orang yang bersedia membantu.
3. Aku bukan orang asing karena aku tidak pernah berdoa untuk kembali dengan selamat sampai di rumah. Aku tidak pernah membuang waktu membayangkan rumahku, meja kerjaku, sisi tempat tidurku. Aku bukan orang asing karena kita semua berkelana, kita semua penuh pertanyaan yang sama, kelelahan yang sama, ketakutan yang sama, keegoisan yang sama, kemurahan hati yang sama. Aku bukan orang asing karena saat aku bertanya, aku mendapatkan jawaban. Saat aku mengetuk, pintu dibukakan. Saat aku mencari, aku menemukan.

BAB XXIV: TELEPON
1. Tidak, tidak ada yang berubah. Tapi kami-- yang berangkat mencari kerajaan kami dan mendapati wilayah-wilayah yang belum pernah kami lihat sebelumnya-- tahu bahwa kami berbeda.
2. Aku tidak melakukan perjalanan ini untuk mencari kata-kata yang hilang dari hidupku, namun untuk kembali menjadi raja duniaku sendiri. Dan di sinilah aku kembali terhubung dengan diriku sendiri dan dengan semesta ajaib di sekelilingku.
3. Kadang kau harus berkelana sampai jauh untuk menemukan apa yang sesungguhnya berada di dekatmu.

BAB XXV: JIWA TURKI
1. Tidak ada seorang pun yang benar-benar mencintai seseorang akan menghancurkan orang yang dicintai itu atau dirinya sendiri.
2. Hanya dua hal yang dapat mengungkapkan rahasia-rahasia terbesar kehidupan: penderitaan dan cinta.
3. Waktu untuk takut sudah lewat, sekarang yang ada hanya waktu untuk berharap.


"Perjalanan kembali ke masa lalu tanpa memahami prosesnya dapat menimbulkan konsekuensi yang berbahaya dan mengerikan"



PAULO COELHO

No comments: