August 8, 2017

KESIA-SIAAN

"Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia" (Pengkhotbah 1:2)

Dulu saat usiaku masih sangat belia, aku begitu terpesona dengan gemerlapnya dunia ini, merasa perlu belajar banyak hal supaya aku bisa mencapai semua hal yang baik dalam hidup: kemapanan, kebahagiaan, prestise, nama baik, dan kesuksesan. Aku haus dengan berbagai ilmu dan pengalaman hidup, berjuang menjadi pribadi yang kuinginkan, serta berusaha mengumpulkan koneksi sebanyak-banyaknya. Belajar menjadi orang yang lebih fleksibel dan berjuang memahami bagaimana dunia ini berputar, bagaimana menggandakan uang, bagaimana memperoleh kesempatan bekerjasama dengan orang-orang di bidang yang berbeda.

Aku begitu menikmati masa mudaku, punya ratusan teman, merasakan jatuh cinta, menjelajahi tempat-tempat baru, menjalin persahabatan yang menyenangkan, mengenal dunia yang sama sekali asing bagiku. Aku belajar bekerja secara profesional, memahami betapa besar pengaruh kuasa dan uang, melihat bahwa pengalaman dinilai sedemikian mahal. Aku mulai mengembangkan sayapku, menggali potensi-potensiku yang masih terpendam, menantang diriku melakukan hal-hal yang dulunya kutakuti, melayani sesama dengan apa yang bisa kukerjakan.

Nyatanya semua itu tidak memberikan kebahagiaan, hanya membuatku kelelahan. Waktu mengajariku bahwa seberapa besar pun pengalaman yang kuperoleh, tidaklah berguna untuk tantangan berikutnya. Cinta hanya membuatku menyadari betapa semu setiap perasaan dan getaran yang ada. Uang dan kekuasaan membuatku paham bahwa dunia tak menghargai kemurnian hati. Banyaknya koneksi membuatku menerima kenyataan pahit bahwa tidak ada loyalitas sejati di muka bumi. Hal-hal baik yang kutabur malah dibalas dengan kejahatan yang tak terkatakan.

Pada dasarnya, manusia tak pernah puas dengan apa yang telah dicapainya, dan akhirnya menjadikan hatinya degil. Uang dan kekuasaan mengubah hati orang menjadi begitu licik dan serakah. Kekayaan tak memberikan tidur nyenyak, karena kekhawatiran menggerogoti hati pada waktu malam. Cinta membuat manusia rela mengorbankan segala sesuatu, namun tidak menjamin bisa membuatnya bertahan sampai akhir hayat. Nama baik pun tak bisa selamanya melekat dan membuat kita dihargai orang.

Apa yang ada di bumi ini tidak ada yang baru, semua hanyalah pengulangan dari apa yang pernah terjadi. Segala yang kita raih akan lenyap tak berbekas, apa yang kita perjuangkan hari ini entah siapa yang akan meraupnya, dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Semua membuat kita berputar-putar, terjebak dalam kehidupan yang tak ada jalan keluarnya, dan akhirnya kita mati karena kelelahan tanpa memahami sesuatupun yang berharga.  Sungguh ironis.

Semakin lama menjalani kehidupan, aku semakin menyadari bahwa berapa banyak pun yang telah kupelajari tak akan pernah cukup untuk memahami segala yang terjadi di dunia ini. Sebaik apapun aku berusaha, kesuksesan belum tentu datang mendekat, bahkan terkadang kesengsaraan bertubi-tubi yang menetap. Seberapa besar pun usahaku mengenal Sang Pencipta, semakin jauh rasanya jarakku dengan Dia, tak pernah dapat kumengerti alasan-Nya mengijinkan begitu banyak hal buruk dan penderitaan terjadi dalam hidup. Semakin banyak merefleksikan diri, aku sadar bahwa aku semakin tak paham dengan diriku sendiri, apa yang pernah terjadi di masa lalu, serta apa yang kuinginkan di masa depan.

Dengan banyaknya ilmu yang kupelajari, aku semakin menyadari betapa luas dan besarnya alam semesta yang tak dapat terselami. Semakin belajar bahasa, aku semakin mengerti bahwa penghalang terbesar manusia untuk berkomunikasi bukanlah bahasa, tetapi hati yang tertutup dan tingkat pemahaman yang tak selaras. Semakin serius belajar psikologi, aku semakin mengerti bahwa manusia tak dapat didefinisikan atau dipetakan dalam rumusan tertentu. Semakin mempelajari kesehatan, aku menyadari bahwa sebaik apapun aku menjaga tubuhku dengan hidup seimbang dan olahraga, tak berarti aku terhindar dari penyakit serta bisa berumur panjang. Akibatnya, aku malas menekuni apapun lagi, bahkan hanya untuk sekedar menulis diary. Tragis.

Mungkin, aku berada di persimpangan jalan yang begitu asing bagiku. Aku tak tahu ke arah mana aku harus melangkah, merasa tak puas dengan kehidupan yang kujalani, merasa semua usahaku terbuang sia-sia dan tak menghasilkan apapun. Ketika menoleh ke belakang, aku tak tahu hal apa saja yang telah terlewatkan, berapa banyak kesempatan yang telah terbengkalai, serta berapa banyak hati yang kukecewakan. Bahkan mungkin aku sendiri kecewa dengan diriku. Kecewa karena telah melampaui semua ini, kecewa akan setiap keputusan yang membawaku kesini, kecewa telah disakiti sedemikian rupa dan memutuskan untuk menarik diri demi mencari ketenangan batin.

Ada banyak hal yang tak perlu dikatakan namun telah kukatakan, ada kata-kata yang perlu kuucapkan namun hanya tersimpan dalam hati. Ada beberapa hal yang ingin kujelaskan namun tak seorangpun peduli, ada beberapa penjelasan yang tak ingin kusampaikan namun terpaksa kuungkapkan. Aku benci dengan semua tetek bengek tentang penjelasan. Toh, manusia tidak pernah berusaha memahami sesamanya, mereka hanya mau mendengar apa yang menyenangkan hati dan telinga sekalipun semua itu bukanlah kebenaran. Jadi, aku berdiam diri dan membiarkan diriku disalahpahami, toh tak semua hal perlu dijelaskan, atau lebih tepatnya tak semua orang ingin mengerti alasan di balik semua tindak tandukku. Biar Tuhan saja yang tahu dan menilai segala sesuatu dengan hikmat-Nya yang tak terbatas.

Mengetahui segala sesuatu di dunia ini hanyalah kesia-siaan, aku tak lagi ingin melelahkan diriku dengan hal-hal yang tak perlu, tak mau memikirkan masalah yang tak ada habisnya, tak lagi ingin bergaul dengan mereka yang hanya membebani hidupku dengan sampah emosinya. Hidup ini singkat, aku ingin menghabiskannya dengan segala sesuatu yang menjadi bagianku. Tetap berusaha menjadi yang terbaik, namun kuserahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Menikmati apa yang ada hari ini, tanpa perlu mengkhawatirkan hari esok, tertawa bersama keluarga tercinta, serta mensyukuri segala sesuatu. Itu sudah cukup bagiku.

"Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya" (Pengkhotbah 5:17)



No comments: