October 10, 2018

MENIKMATI KESENDIRIAN

"The LORD is my portion, saith my soul; therefore will I hope in him. The LORD is good unto them that wait for him, to the soul that seeketh him. It is good that a man should both hope and quietly wait for the salvation of the LORD. It is good for a man that he bear the yoke of his youth. He sitteth alone and keepeth silence, because he hath borne it upon him. He putteth his mouth in the dust; if so be there may be hope. He giveth his cheek to him that smiteth him: he is filled full with reproach. For the LORD will not cast off for ever: But though he cause grief, yet will he have compassion according to the multitude of his mercies (Lamentations 3:24-32)

 "It is good for me that I have been afflicted; that I might learn thy statutes"
(Psalms 119:71)


Sebagai makhluk melankolis-kolerik yang bahasa kasihnya adalah quality time, aku seneng banget ama deep convo. Aku demen ama orang-orang yang bisa nyambung diajak ngobrol tentang topik apapun, bahkan bisa brainstorming en mengubah paradigma tentang banyak hal di hidup ini. Singkatnya, aku adalah makhluk bawel yang kepengen terus bisa keep in touch, denger kisah baru tentang perkembangan hidup seseorang, ato belajar banyak hal baru melalui convo.

Tapi setelah ngalami banyak hal, aku kehilangan orang-orang yang dulunya kuanggap best friends yang bisa habiskan waktu hampir setiap hari untuk chit chat. When lost them, I felt so lonely. Waktu itu banyak perasaan bergejolak di dalam batin en aku ga tau kudu cerita ke siapa, bahkan aku jadi takut cerita sama orang karena aku ga tau siapa yang bisa kupercaya, apalagi bisa kasi aku solusi. Aku kesepian sampe di tahap aku memendam semua emosiku dalam diam, aku menelan semua perasaanku tanpa bisa mencurahkannya.

Masa-masa itu merupakan masa terburukku. Tapi justru aku bergaul akrab dengan Tuhan, mencurahkan banyak hal ke Dia, dan mendapatkan banyak hikmat serta pengertian baru, yang ga bisa kudapetin dari deep convo dengan manusia. Akibatnya, aku ngerasa aku jadi makin bijak karena bisa memahami begitu rumitnya pergolakan batin manusia, bisa memandang semua masalah dari perspektif kekekalan, serta merasakan ketenangan karena tau Bapa memegang kendali atas segala sesuatu yang terjadi. Aku bersyukur kesendirian itu membuahkan sebuah pengenalan yang lebih dalam akan pribadi Bapa. 

Memang terkadang masih ada perasaan kesepian, karena aku ga lagi punya temen deket yang bisa kuajak berbagi hampir semua hal. Tapi aku menyadari bahwa aku ga perlu berbagi hampir semua hal ke manusia, hanya Tuhan saja yang perlu tau detailnya. Biarlah banyak hal menjadi rahasia dalam hidupku, hanya orang terdekat saja yang perlu tau perkembanganku en semua pergumulan yang ada.

Sebenernya ada masa dimana aku merindukan mereka yang pernah menjadi temen baikku, partner ngobrolku, teman berbagi kisah. Namun ketika mengingat perbuatan mereka kepadaku, yang meninggalkanku di masa sulitku, dengan semua penilaian miring tanpa fakta, serta semua penghakiman yang menyakitkan, aku ngerasa lebih baik aku sendirian. Aku menyadari bahwa aku lebih ga mau disakiti daripada punya temen yang ga jelas temen ato lawan, hahahaha. Sungguh egois diriku yang sekarang. Tapi aku menyadari bahwa aku kecanduan akut ama yang namanya kesendirian, karena disitulah aku bisa mendengar dengan jelas suara Tuhan dan jeritan jiwaku yang terdalam.

Aku menyadari bahwa ketika berhubungan dengan mereka, aku ga sepenuhnya bahagia, ga sepenuhnya bisa bebas menjadi diriku sendiri yang blak-blakan en apa adanya, ga sepenuhnya bisa belajar banyak hal. Sejujurnya aku seringkali banyak belajar dari perkataanku sendiri yang kulontarkan ke mereka, bukan belajar dari perkataan mereka. Jadi ya so what, kesepianku sebenernya unrealistic sih. Toh aku punya semua yang kubutuhkan, orang-orang yang tulus mengasihiku, serta Tuhan yang begitu setia. Ga perlu aku merindukan orang-orang yang penuh drama itu kan.

Aku menyadari bahwa kebutuhanku untuk ngalami deep convo ini juga bisa kulampiaskan untuk ngobrol ama Tuhan, ama keluarga ato temen terdekat yang masih setia di sampingku. Aku ga kesepian banget sih, karena masih banyak orang yang mengasihiku. Aku tau bahwa aku mengalami kenyamanan luar biasa dengan kesendirian ini. Parah memang, aku bisa kembali begitu introvert yang suka mengurung diri di kamar, membaca dan merenungkan segala sesuatu hingga begitu detail. Tapi ada bagusnya sih, aku ga banyak keluar duid untuk hang out, namun tetep berkembang secara psikologis en pribadi.

Jadi aku ngerasa bahwa emang selama sekitar 2 taon ini Tuhan ijinkan untuk aku tersimpan dalam tabung panah, mengasah diri, mempertajam segala sesuatu yang memang perlu kupelajari, supaya aku siap diluncurkan sebagai senjata-Nya yang efektif. Aku berkata, aku siap dipakai kembali oleh-Mu ya Bapa, menjadi diriku yang semakin melesat tajam dalam ketepatan yang Kau inginkan. Aku siap dipakai sebagai alat yang bisa Kau percaya dan banggakan dalam setiap bagian yang Kau percayakan. Aku percaya hikmat-Mu menuntunku sedemikian rupa dalam setiap perkataaan dan perbuatanku. Jadikan aku indah di mata-Mu, berbuah lebat bagi kemuliaan nama-Mu saja.

Aku menyadari kesendirian ini begitu indah karena kehabiskan dalam naungan hadirat-Mu. Engkau yang tau setiap airmataku, pergumulanku, kesesakanku, serta pertimbanganku. Terima kasih sudah mengijinkan aku melewati masa padang gurun yang begitu menyakitkan namun meredefinisi diriku sedemikian rupa. Aku mau siap keluar ke medan perang kembali, bergandengan tangan mengerjakan visi-Mu yang mulia. 

No comments: