Nyadar ngga sih kalo umur udah melebihi 25 en belom ada gandengan apalagi rencana nikah, masyarakat bakal membombardir ama pertanyaan kuno "mana pasangannya" "kapan nih nyebar undangan" en serangkaian pertanyaan sejenis? Unfaedah namun anehnya tetap dilestarikan oleh kalangan tetua di negeri ini.
Jaman udah berubah, budaya dan pola pikir masyarakat juga ngalami perubahan. Kalo di jaman Kartini en Siti Nurbaya, wanita didoktrinasi bahwa keberadaan mereka hanyalah untuk melahirkan anak, menjadi "boneka" sang suami yang bisa dipamerkan ke publik, dan dituntut "tetap bodoh" agar tak memberontak. Sekarang udah ngga jamannya lagi kaleee... Wanita sekarang kudu smart en bisa punya prinsipnya sendiri. Wanita masa kini berhak mengenyam pendidikan setinggi mungkin, sukses berkarir, bahkan mengaktualisasikan dirinya.
Sayangnya pola pikir demikian ngga menjangkiti kaum yang lebih tua beserta seluruh jajaran masyarakat yang masih berpikiran "kolot". Mereka masih berusaha mengamputasi hak wanita untuk bebas menentukan hidupnya sendiri, termasuk untuk tidak menikah, berprestasi dan tetap bahagia. Masih banyak kaum yang memandang rendah para wanita yang masih single namun menghasilkan banyak karya hebat di masa kini, hanya karena statusnya.
Miris...
Menikah bukanlah tolak ukur kesuksesan seseorang, bukan tujuan dari kehidupan, dan juga bukan sebuah keharusan. Menikah bukanlah sebuah takdir yang harus dijalani oleh wanita, itu hanyalah sebuah pilihan--boleh diambil namun boleh diabaikan--demi kehidupan yang lebih baik.
Teman sebayaku emang banyak yang sudah menikah, namun hampir 80%nya tidak bahagia, kehilangan kesempatan untuk berkarir atau mengenyam pendidikan yang lebih baik, serta terkurung dalam "budaya istri harus tunduk kepada suami" yang akhirnya memberangus haknya untuk memaksimalkan potensi diri.
Aku mengenal banyak orang yang belum (atau tidak) menikah namun hidupnya berdampak secara luar biasa, menghasilkan karya hebat, serta mampu mengaktualisasi dirinya secara maksimal. Karirnya menanjak, berdampak besar bagi banyak orang, namun tetap bahagia sekalipun masih sendiri. Menurutku itu suatu hal yang membanggakan!
Barusan baca beberapa artikel soal pernikahan, virginity, en stereotipe tentang wanita bikin aku makin ngerasa bahwa dunia ini sangat ga adil dalam memandang wanita. Tapi artikel itu sebagian besar sama prinsipnya dengan yang aku pegang, bahwa wanita berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, entah menikah ato tidak, entah apa yang pernah menjadi masa lalunya, ngga peduli bagaimana tanggapan orang sekeliling tentang statusnya. Jangan punya pola pikir seperti budak, dimana wanita harus menikah, harus mau diperlakukan seperti apapun oleh prianya karena takut prianya marah.
Aku ngga mendukung feminisme ya, tapi equalisme. Bahwa kedudukan wanita setara dengan pria, bahwa wanita pun punya kehormatan en layak untuk mengembangkan serta mengekspresikan dirinya dengan bebas. Bahwa wanita ngga perlu tunduk ama aturan tak tertulis yang beredar di masyarakat bahwa wanita adalah warga kelas dua.
So, dari semua prinsip yang kuanut, aku memutuskan untuk menjalani hidupku tanpa peduli dengan tanggapan miring orang sekitarku. Why do you try so hard to fit in when you was born to be different? Jalan idup setiap orang tuh unik, nhga perlu menyamakan diri untuk menjadi seperti orang laen. You're free be yourself, live your life to the fullest, and glorify God through everything you do.
No comments:
Post a Comment