BAGIAN 3: SENGATAN KEGAGALAN
BAB 21: KASTIL-KASTIL DUKA
1. Ada "dukacita yang dari dunia ini", tulis Paulus, "menghasilkan kematian". Rasa bersalah yang membawa ajal. Dukacita yang fatal. Penyesalan beracun yang mematikan.
2. Inilah kisah Allah yang mengulurkan tangan-Nya di lautan yang mengamuk dalam badai. Ia merupakan jawaban yang diajukan setiap orang: "Apa yang dilakukan Tuhan kalau saya gagal?" Jawabannya terdapat dalam dasar dari rumah yang telah Anda miliki.
BAB 22: RASA TAKUT YANG MENJADI PERCAYA
1. Dari rasa takut akan lahir perbuatan iman, sebab iman seringkali anak dari rasa takut.
2. Perbuatan iman yang hebat jarang dilahirkan dari pertimbangan yang tenang. Pada permulaan setiap tindakan iman, sering terdapat benih ketakutan.
3. Iman dimulai kalau Anda melihat Allah di atas gunung dan Anda ada di lembah dan Anda tahu bahwa Anda terlalu lemah untuk naik ke atas.
4. Respon ini tidak salah. Iman yang dimulai dengan rasa takut akan berakhir lebih dekat kepada Bapa.
BAB 23: MENGAPA TUHAN TERSENYUM
1. Saya mulai melihat bahwa humor mungkin satu-satunya jalan Allah begitu lama bertahan dengan ulah kita.
2. Menerima kasih karunia adalah mengaku gagal, suatu langkah yang kita enggan ambil. Kita pilih untuk mengesankan Allah dengan kebolehan kita daripada mengaku betapa besar Dia. Kita memusingkan kepala dengan doktrin. Kita bebankan diri dengan peraturan. Kita pikir, Allah akan tersenyum melihat usaha-usaha kita.
BAB 24: TAMU YANG BERKORBAN
1. Memuja, menyembah, atau beribadah, adalah kalau Anda menyadari bahwa apa yang diberikan kepadamu jauh lebih besar daripada apa yang dapat Anda berikan. Memuja adalah "terima kasih" yang tidak mau diam.
2. Memuja, beribadah, adalah tindakan bersyukur yang sukarela, yang diberikan dari yang diselamatkan kepada Penyelamat.
3. Kita pun diselamatkan oleh Tamu yang berkorban. Kita pun diselamatkan oleh Dia yang membuat perjalanan jauh dari tempat yang hanya Tuhan tahu. Dan kita mempunyai alasan untuk melihat ke langit...dan memuja.
BAB 25: KEKUDUSAN BERPAKAIAN JAS MANDI
1. Jika duniamu menyentuh dunia Allah, hasilnya adalah saat yang suci. Jika harapan besar Allah mencium derita duniamu, saat itu adalah kudus.
2. Lihatlah cermin itu. Pandanglah dia yang kudus. Gambar kesempurnaan sedang memandangmu. Saat yang suci sudah tiba. Apa yang membuat saat pagi itu begitu suci ialah kejujuran. Apa yang membuat cermin pagi suci ialah karena Anda melihat persis yang Allah lihat. Dan yang Allah kasihi. Karena anak sang Raja sudah bangun dari tidurnya.
3. "Kasih", tulis salah satu jiwa yang telah diampuni, "menutupi banyak sekali dosa" (I Petrus 4:8). "Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan" (Ibrani 10:14).
4. Mengenai posisi kita di hadapan Allah, kita sempurna. Bila Ia melihat kita masing-masing, Ia melihat seorang yang telah disempurnakan oleh Dia yang sempurna--Yesus Kristus.
5. "Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah" (Kolose 3:3). Bila Allah melihat kita, Ia juga melihat Kristus. Ia melihat kesempurnaan! Tetapi ingat, bukan kesempurnaan yang kita perjuangkan sendiri, tetapi kesempurnaan yang dibayar oleh Dia.
6. Sementara Anda mengeluh, kekekalan mendesah takjub. Sementara Anda tersandung, para malaikat terpesona. Apa yang Anda lihat di cermin sebagai bencana pagi hari, sesungguhnya adalah mujizat pagi hari. Kekudusan berjas mandi.
7. Ayo, silakan berpakaian. Buat untuk dirimu sendiri. Buat saja untuk citramu. Buatlah untuk kepentingan mereka yang harus duduk di sampingmu. Tapi jangan untuk Tuhan. Ia sudah melihatmu sebagaimana adanya sesungguhnya. Dan di dalam buku-Nya, Anda sempurna.
BAB 26: PILIHAN
1. Teliti jauh ke dalam Dia. Jelajahi setiap sudut. Periksa setiap pagi. Hanya kasih yang Anda temukan. Kembalilah kepada setiap permulaan keputusan yang Ia buat dan Anda akan menemukannya. Periksalah setiap akhir cerita yang dikisahkan-Nya dan Anda akan melihatnya. Kasih.
2. Meniadakan pilihan sama dengan meniadakan kasih.
3. Di dalam diri pria itu Allah telah letakkan benih ilahi. Benih dari diri-Nya sendiri. Sang Pencipta telah menciptakan bukan makhluk, tetapi pencipta yang lain. Dan Dia yang memilih untuk mengasihi telah menciptakan seseorang yang dapat mengasihi kembali. Sekarang itu pilihan kita.
BAB 27: TERJEBAK DENGAN CELANA MELOROT TETAPI KEPALA KE ATAS
1. Saya rasa, siapa saja yang membuang badan ke pangkal pertama patut dihormati. Berapa banyak orang yang dapat kita lihat berlari kencang sepanjang garis pangkal kehidupan, lebih peduli untuk menyelesaikan tugasnya daripada memikirkan keamanan mereka? Berapa kali Anda menyaksikan orang langsung terjun, kepala duluan, ke dalam sesuatu?
2. Salut kepada kalian semua orang berani mati, pecinta hidup dan Allah, yang berdiri pada garis permulaan karena Anda sudah membayar untuk berada disana.
3. Jadi, bagaimana kalau Anda lupa menyenangkan orang banyak dan terjebak dengan celana melorot? Paling tidak Anda bermain di golongan profesional. Kebanyakan dari kita belum mencapai tingkatmu.
BAB 28: LIMUN DAN KEMURAHAN
1. Siapa saja yang tidak mencoba memberi pelayanan terbaik, lalu mendapati bahwa yang terbaik sudah diberikan dan kendinya harus diisi kembali? Dan tidak ada satu orang pun yang tidak bertanya apa yang dibuat Allah kalau apa yang kita janjikan dan apa yang kita berikan sama sekali tidak ada persamaan?
2. Stand limun dan menghidupi kehidupan ini akan merupakan usaha penuh resiko kalau tidak ada orang asing yang baik hati yang muncul di jalan kita. Tetapi, syukur kepada Allah bahwa mereka datang. Dan syukur kepada Allah bahwa Ia datang.
3. Kali berikut ketenanganmu menjadi kekacauan, ingat itu. Kali berikut Anda mendapati dirimu dalam badai dan tidak dapat melihat Allah di kaki langit, renungkan stand limun tadi. Dan bila perjalananmu di atas air berubah menjadi menggelepar-gelepar di kedalaman seperti halnya dengan Petrus, arahkan matamu ke atas dan lihat... Seorang Asing yang baik hati mungkin membawa kemurahan ke jalanmu...dan hidupmu.
KESIMPULAN:
1. Baik juga diingatkan kembali bahwa perjalanan hanya singkat. Bahwa Yesus tahu bagaimana perasaan saya dan bahwa Ia akan turun dari gunung dan berjalan melalui badai untuk meyakinkan saya akan hal itu.
2. Baik sekali untuk mendengar guntur Allah. Mudah-mudahan baik juga bagi Anda.
3. Saya harap Anda tidak akan lupakan Peraturan Menara Api terakhir: Dekati kehidupan ini seperti perjalanan di atas kapal layar. Nikmati pemandangannya. Jelajahi kapal itu. Bersahabatlah dengan kapten. Memancinglah sedikit. Kemudian, turunlah kalau sudah sampai di rumah. Selamat berlayar!
Max Lucado
In the eye of the storm
BAB 25: KEKUDUSAN BERPAKAIAN JAS MANDI
1. Jika duniamu menyentuh dunia Allah, hasilnya adalah saat yang suci. Jika harapan besar Allah mencium derita duniamu, saat itu adalah kudus.
2. Lihatlah cermin itu. Pandanglah dia yang kudus. Gambar kesempurnaan sedang memandangmu. Saat yang suci sudah tiba. Apa yang membuat saat pagi itu begitu suci ialah kejujuran. Apa yang membuat cermin pagi suci ialah karena Anda melihat persis yang Allah lihat. Dan yang Allah kasihi. Karena anak sang Raja sudah bangun dari tidurnya.
3. "Kasih", tulis salah satu jiwa yang telah diampuni, "menutupi banyak sekali dosa" (I Petrus 4:8). "Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan" (Ibrani 10:14).
4. Mengenai posisi kita di hadapan Allah, kita sempurna. Bila Ia melihat kita masing-masing, Ia melihat seorang yang telah disempurnakan oleh Dia yang sempurna--Yesus Kristus.
5. "Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah" (Kolose 3:3). Bila Allah melihat kita, Ia juga melihat Kristus. Ia melihat kesempurnaan! Tetapi ingat, bukan kesempurnaan yang kita perjuangkan sendiri, tetapi kesempurnaan yang dibayar oleh Dia.
6. Sementara Anda mengeluh, kekekalan mendesah takjub. Sementara Anda tersandung, para malaikat terpesona. Apa yang Anda lihat di cermin sebagai bencana pagi hari, sesungguhnya adalah mujizat pagi hari. Kekudusan berjas mandi.
7. Ayo, silakan berpakaian. Buat untuk dirimu sendiri. Buat saja untuk citramu. Buatlah untuk kepentingan mereka yang harus duduk di sampingmu. Tapi jangan untuk Tuhan. Ia sudah melihatmu sebagaimana adanya sesungguhnya. Dan di dalam buku-Nya, Anda sempurna.
BAB 26: PILIHAN
1. Teliti jauh ke dalam Dia. Jelajahi setiap sudut. Periksa setiap pagi. Hanya kasih yang Anda temukan. Kembalilah kepada setiap permulaan keputusan yang Ia buat dan Anda akan menemukannya. Periksalah setiap akhir cerita yang dikisahkan-Nya dan Anda akan melihatnya. Kasih.
2. Meniadakan pilihan sama dengan meniadakan kasih.
3. Di dalam diri pria itu Allah telah letakkan benih ilahi. Benih dari diri-Nya sendiri. Sang Pencipta telah menciptakan bukan makhluk, tetapi pencipta yang lain. Dan Dia yang memilih untuk mengasihi telah menciptakan seseorang yang dapat mengasihi kembali. Sekarang itu pilihan kita.
BAB 27: TERJEBAK DENGAN CELANA MELOROT TETAPI KEPALA KE ATAS
1. Saya rasa, siapa saja yang membuang badan ke pangkal pertama patut dihormati. Berapa banyak orang yang dapat kita lihat berlari kencang sepanjang garis pangkal kehidupan, lebih peduli untuk menyelesaikan tugasnya daripada memikirkan keamanan mereka? Berapa kali Anda menyaksikan orang langsung terjun, kepala duluan, ke dalam sesuatu?
2. Salut kepada kalian semua orang berani mati, pecinta hidup dan Allah, yang berdiri pada garis permulaan karena Anda sudah membayar untuk berada disana.
3. Jadi, bagaimana kalau Anda lupa menyenangkan orang banyak dan terjebak dengan celana melorot? Paling tidak Anda bermain di golongan profesional. Kebanyakan dari kita belum mencapai tingkatmu.
BAB 28: LIMUN DAN KEMURAHAN
1. Siapa saja yang tidak mencoba memberi pelayanan terbaik, lalu mendapati bahwa yang terbaik sudah diberikan dan kendinya harus diisi kembali? Dan tidak ada satu orang pun yang tidak bertanya apa yang dibuat Allah kalau apa yang kita janjikan dan apa yang kita berikan sama sekali tidak ada persamaan?
2. Stand limun dan menghidupi kehidupan ini akan merupakan usaha penuh resiko kalau tidak ada orang asing yang baik hati yang muncul di jalan kita. Tetapi, syukur kepada Allah bahwa mereka datang. Dan syukur kepada Allah bahwa Ia datang.
3. Kali berikut ketenanganmu menjadi kekacauan, ingat itu. Kali berikut Anda mendapati dirimu dalam badai dan tidak dapat melihat Allah di kaki langit, renungkan stand limun tadi. Dan bila perjalananmu di atas air berubah menjadi menggelepar-gelepar di kedalaman seperti halnya dengan Petrus, arahkan matamu ke atas dan lihat... Seorang Asing yang baik hati mungkin membawa kemurahan ke jalanmu...dan hidupmu.
KESIMPULAN:
1. Baik juga diingatkan kembali bahwa perjalanan hanya singkat. Bahwa Yesus tahu bagaimana perasaan saya dan bahwa Ia akan turun dari gunung dan berjalan melalui badai untuk meyakinkan saya akan hal itu.
2. Baik sekali untuk mendengar guntur Allah. Mudah-mudahan baik juga bagi Anda.
3. Saya harap Anda tidak akan lupakan Peraturan Menara Api terakhir: Dekati kehidupan ini seperti perjalanan di atas kapal layar. Nikmati pemandangannya. Jelajahi kapal itu. Bersahabatlah dengan kapten. Memancinglah sedikit. Kemudian, turunlah kalau sudah sampai di rumah. Selamat berlayar!
Max Lucado
In the eye of the storm
No comments:
Post a Comment