April 5, 2020

BERKAH DARI WORK FROM HOME

Selama 2 minggu ini kantorku sudah menerapkan WFH (Work From Home), walopun aku masih kudu ngantor 3x seminggu karena tuntutan kerjaan, tapi beban pikiranku berkurang drastis. Aku menyadari bahwa masa2 ini merupakan berkat, sekalipun diselubungi oleh kekhawatiran karena virus corona. Banyak hal yang kupelajari, kunikmati, en kusadari selama masa2 ini.

Aku sadar bahwa selama ini aku kurang balance dalam hidupku, aku seorang yang workaholic, yang udah males mikir hal laen begitu sampai di rumah sehingga banyak hal yang mulai terbengkalai lagi, terutama persekutuan dengan Tuhan. Hari2 ini aku lebih punya waktu untuk bersekutu ama Tuhan, lebih banyak berdoa secara khusyuk, lebih punya waktu merenungkan firman Tuhan. Aku bersyukur banget untuk bagian ini, sungguh2 berharga en mengisi rohku.

Aku lebih sadar bahwa aku mengasihi keluargaku, betapa aku peduli dengan mereka sekalipun mereka (terutama papa en adekku) seringkali salah paham ama aku. Aku tau bahwa banyak usaha yang kulakukan selama ini untuk menunjukkan kasihku ke mereka yang mereka abaikan, tapi aku terus berusaha karena aku yakin bahwa kasih akan menggugah hati mereka suatu hari nanti. Di musim virus seperti ini, jujur aku lebih waswas jadi carrier ketimbang jadi suspect, karena aku masih kudu kluar2 demi urusan kerjaan. Aku berusaha jaga jarak aman, lebih jaga kesehatan, en banyak olahraga juga. Baru kali ini bentuk kasih adalah jaga jarak. Corona ini bener2 mengubah definisi kasih deh 😑

Aku lebih punya waktu untuk memikirkan hidupku, banyak hal yang belum kuraih di usiaku ini, banyak emosi ga perlu yang dulu sering kulampiaskan, banyak hubungan ga berkualitas yang dulu pernah kujalin yang akhirnya menyia2kan masa mudaku. Aku bersyukur dengan semua keputusan yang pernah kubuat untuk mengakhiri hubungan2 toxic itu, sehingga akhirnya saat ini aku punya hubungan2 berkualitas dengan orang2 yang tepat. Bahkan aku merencanakan beberapa investasi di masa2 ini, memikirkan apa aja yang harus kuraih di sepanjang tahun ini en cara2 apa yang harus kuterapkan untuk merealisasikannya.

Masa2 ini bikin aku lebih bisa ngeliat the true color of many things, trutama sifat2 manusia di sekelilingku. Ternyata banyak orang yang memanfaatkan momen2 seperti ini untuk jualan masker, handsanitizer, thermometer gun, dsb demi meraup keuntungan besar. Juga agent asuransi yang makin gembor2 soal pentingnya asuransi, ckckck. Padahal momen2 seperti ini seharusnya kita jadi lebih manusiawi en menolong sesama, bukan malah mikirin cuan gede. Aku tau ini masa sulit bagi banyak bidang usaha, tapi segitu serakahkah hati kalian sampai tega nge-cuan gede di masa kayak gini?

Aku juga semakin bisa ngeliat banyak kejadian dari sudut pandang berbeda: tentang sikap dirut yang kudu benahi banyak kekacauan di kantor padahal itu ulah si owner, tentang setiap bagian di kantor dengan berbagai kepentingan mereka, tentang keputusan pemerintah untuk ga menerapkan lockdown, tentang keraguan pemerintah untuk ga melarang mudik, tentang kelonggaran soal kredit bagi UMKM dan driver ojol, tentang salah satu menteri yang diam2 merancangkan pembebasan napi koruptor dan membahayakan keamanan bangsa, dsb.

Masa2 ini bikin aku lebih aware soal kematian. Sekitar 2 minggu lalu, dokter gigi di deket rumahku kedapatan mati tergantung di tempat prakteknya. Aku cukup tau dokter itu, pernah beberapa kali pakai jasanya en orangnya super friendly. Entah dia bunuh diri ato dibunuh, ga ada yang tau. Hal itu bikin aku berpikir banyak tentang arti hidup, tentang kematian, tentang kesepian, serta penyesalan dalam hidup. Aku ga tau apa yang dokter itu alami sehingga berakhir tragis, tapi yang aku tau bahwa hari2 ini banyak orang sedang putus asa dengan hidupnya en ambil keputusan salah untuk mengakhiri hidupnya. Itu mengerikan, menyedihkan, sekaligus menyadarkanku akan betapa rapuhnya manusia.

Aku juga jadi berpikir betapa berharganya waktu2 untuk ktemu dengan banyak orang, kumpul2 reuni, hangout, atopun meeting ama banyak temen. Physical touch seperti high five, hug, cipika cipiki, atopun nepuk pundak adalah hal yang sangat berharga untuk menunjukkan kasih serta keakraban dengan orang lain. Hal2 itu jadi begitu langka hari2 ini karena kita harus social distancing demi kesehatan bersama. Aku ga mbayangin gimana perasaan orang2 yang extovert ketika mereka terpaksa terkurung di rumah, gimana pergumulan mereka yang bahasa kasihnya adalah physical touch ketika ga bisa bersentuhan dengan orang2 terkasih. Sungguh masa2 yang menyakitkan.

Aku bersyukur dengan masa2 WFH ini, aku bisa tidur siang, bisa rutin berjemur, bisa bikin wajah bebas makeup, bisa rajin work out, bisa bikin cemilan, bisa punya waktu untuk lakuin banyak hal. Di tengah masih banyak orang yang terpaksa kudu ngantor tiap hari dengan resiko terpapar virus, aku diberi anugerah untuk menikmati hari2 di rumah. Aku bersyukur buat dirutku yang tetep ngasi kami gaji full sekalipun jam kerja kami berkurang drastis. Berkatilah orang2 yang masih memikirkan dan mengusahakan kesejahteraan karyawan mereka di tengah2 masa sulit ini, ya Bapa.

Aku juga melihat bahwa masa2 ketika manusia harus mengkarantina diri ini Tuhan pakai untuk memulihkan bumi dari masa2 sabat yang dilalaikannya. Banyak bertebaran foto dari berbagai belahan dunia yang menunjukkan bahwa alam meregenerasi dirinya, sungai mulai kembali jernih, langit bebas dari polusi, pohon2 mulai tumbuh hijau. Terima kasih Tuhan untuk alam yang indah ini, semoga manusia semakin sadar untuk menjaga keindahan bumi yang Kau ciptakan.

Semoga setelah semua ini berlalu, kita bisa lebih bersyukur kepada Tuhan, lebih bisa menghargai hal2 kecil yang selama ini kita abaikan, lebih bisa memprioritaskan Dia di atas segalanya. Semoga kita menjadi manusia yang semakin baik lagi, yang menguasai bumi dengan otoritas dan mengusahakannya demi kemuliaan Tuhan. Amin 🙏

No comments: