Per tanggal 24 Maret kemaren, kantorku mulai memberlakukan sistem WFH (Work From Home) tapi masih ada jadwal piket ke kantor seminggu sekali plus tiap kali ada hal urgent tetep kudu ke kantor. Alhasil selama 2 minggu terakhir aku masuk seminggu 3x karena susah banget ngontrol segala sesuatu hanya dari rumah.
Akhir bulan Maret, aku dapet kesempatan untuk ngobrol berdua ama bagian admin marketing. Sebenernya saat itu bukan aku yang merencanakan, terutama karena beberapa hari sebelumnya aku sempet piket en aku bersikap agak keras ketika diskusi ama bagian legal soal kelakuan admin marketing ini. Prinsipku, kalo bukan bagianmu ya jangan dikerjakan daripada ngomel, bicaralah dengan bagian yang bersangkutan karena setiap orang disini digaji jadi ga berhak bertindak semaunya. Aku rasa kata2ku itu disampaikan ama bagian IT ke bagian admin marketing, jadi bagian admin marketing agak bersikap dingin en menghindari aku.
Siang itu, tiba2 bagian HRD kirim memo khusus secara pribadi ke tiap karyawan, intinya minta supaya setiap kami mengikuti prosedur selama WFH ini, tetep mendukung direktur utama, en menghormati otoritas pemimpin sekalipun pemimpinnya lebih muda atopun baru masuk alias ga melangkahi pemimpin. Aku ga nyangka dia bikin memo itu, en dia bilang ke aku kalo salah satu alasannya bikin memo itu adalah karena satu anak buahku sempet melangkahi otoritasku minggu lalu. Aku bersyukur Tuhan ubahkan bagian HRD ini sehingga dia ambil tindakan untuk bikin memo yang secara garis besar menegur banyak bagian juga. Padahal aslinya aku ga peduli sama sekali karena aku tau anak buahku yang 1 itu emang uncontrollable en sedang kutangani secara khusus.
Setelah itu, Tuhan masih kasi surprise en merancangkan momentum terbaik-Nya. Singkat cerita, waktu itu aku ngantor en ga sengaja ada si admin marketing. Aku ga berniat bahas apapun sama dia karena kerjaanku banyak hari itu, tapi tiba2 siangnya ada waktu berdua trus kami ngobrol ringan. Si admin marketing cerita tentang perilaku 1 anak buahku yang selama ini sengaja menentangku, ternyata orangnya emang close minded en selalu negative thinking. Selama ini dia emang nunjukkin terang2an kalo dia ga suka ama aku, en aku juga nunjukkin ketegasanku bahwa aku mencapai posisi ini bukan karena hoki tapi karena aku emang kompeten. Semua orang di kantor tau kapasitasku, mereka kaget karena aku bisa bersikap tegas en memperlakukan tiap orang dengan cara serta porsi yang berbeda.
Lalu aku bahas soal profesionalisme kerja, rencana proyek ke depan, prediksi secara keuangan, en hal2 yang perlu dibenahi selama masa2 ini ke admin marketing. Dia kaget karena aku berani negur en minta dia untuk kerja dengan excellent karena kami minoritas secara agama, aku harap dia bisa nunjukkan kinerja terbaik supaya jadi terang di kantor ini. Reaksinya di luar dugaanku, kaget, diem, ga bisa berkata apapun. Tapi aku lega maksudku sudah tersampaikan, walopun di luar rencana en skenarioku. Apapun hasilnya, bukan urusanku.
Sorenya ketika udah di rumah, si admin marketing WA aku say thanks (chatnya ada di samping). Aku kaget ama reaksinya, padahal aku udah siap kalo dia bakal ngomel ato bersikap dingin ke depannya. Aku ngerasa bukan kuat bukan gagah, tapi karena pertolongan Roh Kudus. Haleluya! Hanya Dia yang sanggup menjamah serta mengubahkan hati seseorang. Semoga ke depannya kami bisa sama2 berjuang untuk kebaikan perusahaan.
Aku lapor ke mama angkatku tentang hal ini karena dia bilang kalo dia bakal doain aku supaya Tuhan kasi aku hikmat ketika aku ngomong. Kami sama sekali ga nyangka akan dapet hasil seperti ini, bener2 di luar prediksi en harapan kami. Kami sadar bahwa ini sepenuhnya karya Tuhan, ga ada andil manusia sedikitpun di dalamnya. Aku siap untuk Kau pakai jadi alat yang memuliakan nama-Mu di tengah kaum yang ga mengenal Engkau, ya Bapa ❤




No comments:
Post a Comment