April 23, 2021

KETIKA TUHAN MEMANGGIL

Beberapa waktu lalu aku diajak ikut zoom meeting dengan para konselor dimana host-nya adalah seorang psikolog, gaes. Happy banget bisa berada di komunitas ini, aku belajar banyak tentang gimana jadi seorang konselor. Komunitas ini namanya "By your side", yang tujuannya tuh agar orang mau bicara pergumulan mereka kepada kita karena kita ga munafik, ga sok suci, ga sok sembuh.


Sebagai konselor, kita diharapkan untuk "hidup di masa kini dengan memori masa kini", bukan hidup di masa kini dengan memori, pengalaman, atopun trauma di masa lalu. Statement ini tuh simple tapi mengena banget bagiku. Karena semakin banyak aku belajar tentang psikologi en diriku sendiri, aku sadar bahwa masih banyak trauma en memori masa lalu yang mendominasi keputusan ato tindakanku di masa kini. 


Dalam komunitas konselor, metode yang paling mengena adalah jika kita menyadari apa yang sedang bergulir dalam hidup kita, lalu merenung ke belakang dan bisa menghadapi hal2 di masa lalu, dimana kita belum sadar dan belum berdamai sehingga kita bisa hidup di masa kini dengan memori masa kini. Yang agak sulit mungkin merenung kembali ke masa lalu, lalu melihat koneksi antara masa lalu dan masa kini. Percaya ato nggak, kita tuh sering ga tau bahwa pemicu keputusan2 en cara hidup kita hari ini adalah memori masa lalu kita loh. 


Dan aku merangkum beberapa kata2 yang diucapkan oleh ce Pauline (si psikolog):

1. Kita tidak sadar kalo kita ingat tapi sebenarnya kita mengingat, dan kita digerakkan oleh ingatan masa lalu. Contoh paling gampang adalah gosok gigi. Apakah kita ingat pertama kali kita menggosok gigi? Apakah kita ingat langkah2 menggosok gigi? Kita tidak ingat, tapi kita bisa menggosok gigi dengan otomatis setiap hari. 

2. Tidak ada kata berhenti untuk proses menjadi sembuh dan itu adalah proses yang menyenangkan.

3. Komunitas ini diadakan karena kita mau, kita mampu, dan kita kuat untuk menolong orang lain.

4. Jangan nolak aku kalo aku mau nolong kamu.

5. Ketidakhadiran ortu maupun perlakuan kekerasan sama2 merusaknya. Orang yang tidak produktif, caper, tidak fokus itu biasanya karena mengalami pengabaian dari ortu.


Dalam meeting kemarin, kita berkaca ke kisah Musa di Keluaran 3-4 yaitu saat Tuhan mengutus dia untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir.  Jika Tuhan mengutus kita, kita bakal ngeyel apa? Dari 11 orang yang ada, jawabannya berbeda2, tentu saja background-nya juga berbeda2. Overall akan menolak karena ngerasa ga mampu, tapi setelah ditelaah koneksi antara masa lalu dengan bahasa ato ekspresi penolakannya, ternyata yang mendasari tuh hal yang ga sama persis. Ada yang menolak karena waktu kecil terbiasa hidup nyaman, ada yang karena terbiasa jadi cadangan (anak kedua) jadi merasa ga yakin kalo disuruh melakukan sesuatu, ada yang karena trauma masa lalu jadi takut en ngerasa terbeban, ada yang nolak karena ga percaya ama Tuhan, dan sebagainya. 


Jujur, aku sangat terkesima dengan cara ce Pauline mengorek ingatan masa lalu setiap orang yang ada, bagaimana dia menganalisa penyebabnya, bagaimana dia memancing memori itu kembali mencuat melalui pertanyaan2. Aku ngerasa perlu belajar cara2 yang efektif kayak gitu supaya sesi konselingku lebih singkat en berhasil ahahaha. Ya ampun, seandainya aku beneran kuliah psikologi waktu itu...


Yang bikin aku makin takjub adalah motivasinya ce Pauline ngadain zoom meeting ini, yaitu bahwa kita ini punya Roh Kudus sebagai bahan bakar dalam melayani orang lain. Kita bukan seperti orang2 di luar Tuhan yang melayani hanya demi amal, karena kasian, dan alasan2 lain. Tapi kita melayani karena kita mengenal Allah kita dan yakin masih ada harapan bagi orang2 yang sakit mental. Praise God, aku ketemu dengan komunitas yang luar biasa ini, aku jadi di-recharge sampai full, dipertajam en dikuatkan lagi untuk menjalani peranku sebagai seorang konselor. Haleluya... 


No comments: