July 8, 2021

PELECEHAN SEKSUAL DALAM KACAMATA SATIR TERAPI

MITOS TENTANG PELECEHAN SEKSUAL:

1. Seringkali terjadi kepada anak2 yang tinggal di negara2 yang socio-economic-nya rendah

Padahal di Inggris, statistik mengatakan dari 4 wanita 1 orang pernah mengalami pelecehan, dari 6 pria 1 orang pernah mengalami pelecehan. 

Pelecehan seksual bisa terjadi di negara manapun, baik negara maju maupun negara berkembang. 

2. Pelecehan dilakukan oleh orang yang tidak dikenal

Padahal seringkali dilakukan oleh orang yang dikenal: anggota keluarga, teman/kenalan dari keluarga.

Kenapa tega melakukan pelecehan ke orang yang dikenal? Salah satunya adalah efek buruk dari pornografi. Semakin banyak terpapar pornografi, semakin kuat keinginan untuk melakukannya. 

Seringkali korbannya adalah orang yang rapuh, yang bisa dimanipulasi.

Kita perlu ajarkan sedini mungkin tentang sex education dan boundaries kepada anak2. Kita harus ajarkan bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. 

Tanpa sadar kita normalizing perilaku/sentuhan di bagian2 tubuh anak yang tidak seharusnya disentuh (misal menepuk2  paha/bokong untuk menidurkan anak). 

3. Orang yang pernah dilecehkan, jika tidak mengatakan apa2 saat itu, dianggap bohong saat membuat pengakuan

Padahal itu adalah salah satu cara otak kita bekerja, yaitu protektif. Misal: berpikir bagaimana reputasi saya jika saya melaporkan, atau anak2 yang dilecehkan dan dibilang "ini rahasia ya", atau diancam "jika kamu melaporkan, kamu akan malu sendiri".

Korban punya pemikiran jika dia terbuka untuk menceritakan, akan menyulitkan banyak pihak. Challenge untuk terbuka itu lebih besar, jadi korban cenderung diam.

Adanya budaya shaming juga membuat korban sulit untuk terbuka. Misal: kamu sih pakai bajunya begitu.

4. Korban akan menjadi korban seumur hidup dan ada satu bagian dari diri kita yang selalu broken

Padahal "this can break you or make you".



2 HAL YANG TERJADI PADA VICTIM:

1. Fear

Takut harus memikul rahasia seumur hidup.

2. Isolation

Merasa sendiri, hancur, dimanfaatkan, self blame, kesepian, rasa malu dan bersalah.


Jangan berpikir sebagai victim tapi sebagai survivor (perlu reframing perception).



YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK JADI SURVIVOR:

1. Harus mau ganti identitas

Harus berani menceritakan ke seseorang.

Jika kita menceritakan kelemahan kita, maka cengkeramannya akan berkurang 50%.

Ketika kita mulai berani membicarakan, kita mulai mengendalikan situasi.

Kita perlu memprediksi respon orang terhadap kisah kita, kita ga perlu terbuka ke semua orang tentang vulnerability kita.

2. Embrace vulnerability

Daripada dihindari, kita harus embrace and owning bahwa kejadian itu bagian dari diri kita.

It's okay to speak up and speak out.

What doesn't kill you makes you stronger.

3. Harus ambil alih kembali power

Yang dirampas ketika dilecehkan adalah power. Claiming the power back, kembali ke diri kita sendiri sebelum dilanggar power-nya oleh orang lain. Misal: kembali ke diri kita yang ceria dan bahagia sebelum kejadian itu. 

Kenapa harus cerita? Karena survivor perlu mendengarkan sendiri cerita itu keluar dari dirinya, itu proses kesembuhan. 

Menceritakan kembali itu terapeutik. Ketika menceritakan kembali, kita sedangkan "celebrate to let go" kejadian itu.

4. Mengampuni

Mengampuni tidak membuat orang yang bersalah menjadi benar, tetapi mengampuni membuat kita bebas.

Mengampuni ada 3 level:

• memutuskan untuk mengampuni

• mengasihi orang yang menyakiti, minimal bisa mendoakan dari jauh

• rela menanggung akibat dari perbuatan orang yang bersalah

Contoh: di Inggris pernah ada kasus "green river killer" dimana seorang pria memperkosa 48 wanita lalu membunuh mereka dan mayatnya dibuang ke sungai. Saat persidangan, keluarga korban diijinkan untuk mengucapkan kata2 ke pelaku, kebanyakan penuh kemarahan, sumpah serapah. Namun ada 1 bapak yang berkata bahwa dia mengampuni pelaku itu. Bapak itu menerima akibat dari perbuatan pelaku yaitu fakta bahwa anaknya diperlakukan dengan buruk, bapak itu menerima kematian anaknya. Kita yakin bahwa hanya bapak itu yang pulang dalam damai dan bisa tidur nyenyak. 

Seringkali orang menganggap marah itu sebagai power, marah bisa menyamakan level power kita dengan si pelaku, padahal sebetulnya tidak.

Ketika mengampuni, memang ada scar tapi sudah tidak sakit. Daripada luka itu dibiarkan di dalam, bisa menimbulkan infeksi, bisa mempengaruhi masa sekarang dan masa depan.

Mengampuni tidak sama dengan rekonsiliasi.



Dari piramida gunung es satir, ada perasaan, persepsi, harapan, dambaan, aku (gambar diri).

Ketika menghadapi pelecehan seksual, pasti ada perasaan (marah, kecewa), persepsi (reframing), harapan (akan keadilan), dambaan (rasa aman), aku/ gambar diri (dari situ kita bisa menilai seberapa penting seksualitas bagi diri kita. Kita harus menyadari bahwa hanya 1 bagian diri kita yang rusak, tapi kita tetap utuh dan berharga). 




IG live Konseling Satir Indonesia

Ko John Mantofa& Mirabai Bhana

July 8th, 2021


No comments: