Akhir2 ini aku banyak ngeliat dampak psikologis dari "fatherless generation", sangat menyedihkan. Generasi ini bener2 kehilangan sosok ayah, baik secara jasmani maupun spiritual. Dari semua yang kupelajari, aku ambil kesimpulan kalo peran seorang ayah tuh krusial dalam perkembangan dan pembentukan kepribadian seorang anak.
Aku jadi sepenuhnya paham kenapa Tuhan itu digambarkan sebagai Bapa, yaitu karena hanya seorang ayah yang bisa membentuk kepribadian anaknya. Sehebat apapun perjuangan dan didikan seorang ibu, ga akan sebanding dengan didikan seorang ayah, karena itulah yang Tuhan tetapkan. Seorang ayah adalah sosok penting yang akan melekat dalam ingatan anaknya, yang akan menentukan seorang anak akan menjadi pribadi seperti apa di masa depannya.
Aku melihat banyak sosok ayah yang disfungsi, masih ada di rumah tapi ga menjalankan perannya sebagai ayah yang mendidik dan memberi teladan. Banyak ayah yang ga bekerja mencari nafkah buat keluarganya, ato ayah yang hanya bisa bekerja mencari nafkah tapi ga memberi teladan yang baik bagi anak2nya, ato malah ayah yang kabur dari tanggung jawabnya karena banyak faktor (perselingkuhan, perceraian, mengejar karir, kesulitan ekonomi, dsb).
Aku ngeliat sebagian besar temenku yang hidupnya bermasalah tuh disebabkan oleh ayah mereka yang ga menjalankan perannya sebagai seorang ayah. Beberapa di antara mereka ga bekerja mencari nafkah akibat dampak krisis moneter 97/98, suka mukuli anak istrinya, atopun memberi contoh ga baik bagi anak2nya (maen judi, mengabaikan tanggung jawab untuk mendidik anak2nya, suka berbohong, dsb).
Aku juga ngeliat suami dari beberapa temen deketku juga ga berfungsi sebagaimana mestinya. Ada yang usianya sudah hampir 40 taon tapi ga punya kerjaan en suka maen game terus sehingga istrinya yang kerja, ada yang ga mandiri secara finansial sehingga ortunya mengekang dia terus, ada yang sibuk bersenang2 sendiri sehingga ga pernah punya waktu buat anak2nya, ada yang malah ga mau ngasi duid apalagi didik anaknya.
Rasanya nyesek banget ngeliat temen2ku menikah dengan pria yang salah, yang berpotensi menghancurkan generasi ke depan kayak gitu. Bener omongan bahwa "seorang anak ga bisa memilih ayahnya", oleh karena itu kesadaranku makin bangkit untuk memilih ayah yang baik bagi anak2ku. Jujur aja, setelah ngeliat kanan kiri, kriteriaku akan calon suami makin bertambah karena aku ga mau anak2ku nantinya dapet ayah yang salah.
Aku makin paham kenapa di kitab Maleakhi ditulis "Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah" (Maleakhi 4:6). Hati bapa2 harus kembali mempedulikan anak2nya dan hati anak2 harus kembali mendengarkan didikan ayahnya supaya ga terjadi kekacauan yang menimbulkan amarah Tuhan yang sanggup memukul bumi. Itu adalah sesuatu yang ga mudah dilakukan, karena mengubah hati di luar kuasa manusia.
Aku tau bahwa hari2 ini aku perlu berdoa untuk area ini, supaya Tuhan ubahkan hati para bapa untuk kembali kepada anak2nya: penuh kasih, teladan, dan didikan. Dan supaya hati anak2 kembali kepada para ayahnya: mengampuni, melupakan semua masa lalu menyakitkan, kembali menghormati dan mendengarkan didikan. Aku yakin akan ada pemulihan dalam berbagai aspek jika keluarga diubahkan.
Aku tau bahwa hubungan kita dengan ayah jasmani kita tuh berpengaruh besar terhadap hubungan kita dengan Bapa surgawi. Itulah sebabnya iblis selalu merusak gambaran ayah jasmani, supaya hubungan dan gambaran kita akan Bapa juga rusak. Aku pun ngalami banyak pemulihan dan perubahan mindset di area ini, karena papaku pun disfungsi sebagai seorang ayah dan aku bertaon2 ada di area love-hate relationship with him. Dan hal itu sangat mempengaruhi hubunganku dengan Tuhan, karena gambaran Bapa itu rusak di mataku selama puluhan taon.
Tapi ketika aku memilih untuk mengenal Bapa surgawi lebih lagi, perlahan2 caraku memandang ayah jasmaniku pun berubah. Aku lebih memahami dia, belajar lebih mengasihi dia, belajar untuk memperhatikan kebutuhan2nya sekalipun aku sering diabaikan sejak kecil. Banyak luka yang masih menganga, namun aku tau bahwa pemulihan itu sedang berjalan karena aku memutuskan untuk menjadikan Bapa surgawiku sebagai pusat hidupku. Ayah jasmaniku disfungsi dan ga mudah untuk mengubah hal itu, tapi aku tau bahwa aku punya Bapa surgawi yang sempurna dan mengasihiku.
Bagi kalian yang baca post ini dan memiliki ayah jasmani yang disfungsi, jangan pahit hati, jangan benci dia. Sebaliknya, ampuni dan kasihi dia secara berlimpah2. Apapun alasan disfungsinya, apapun alasan Tuhan memberikan dia sebagai ayah kita, apapun yang pernah dia lakukan ato katakan yang menyakiti kita; it's not important anymore. Bagian kita adalah melangkah menuju pemulihan, berbalik ke hati Bapa supaya terjadi perubahan signifikan. Yuk, jadi agen perubahan bagi generasi ini 😀
No comments:
Post a Comment