November 10, 2021

WHY FRIENDSHIP DOES SUCKS?

Akhir2 ini aku jengkel banget karena mendapati sebagian besar orang yang intens ngontak aku itu hanya datang saat mereka terjepit masalah, butuh konseling berkepanjangan, ato butuh didoakan karena sedang ngalami peperangan rohani. Setelah masalah mereka selesai, mereka ngilang bak ditelan bumi. Sounds familiar? Itulah manusia2 yang ga tau diri ahahaha. 


Jujur aja, sebagai manusia aku punya kerinduan mendalam buat yang namanya "pertemanan yang saling membangun", bukan hanya dimanfaatkan kayak gitu. Aku lelah kalo hanya dicariin saat mereka butuh bantuan, setelah itu mereka sama sekali ga pernah nanya kabarku, ngajak aku ktemuan, atopun nraktir makan. Aku ngerasa pertemanan kayak gitu tuh toxic banget, njomplang, en ga layak dipertahankan. Sehingga akhirnya aku mulai menarik diri dari orang2 semacam itu, bahkan berdoa minta Tuhan jauhkan dari makhluk2 menyebalkan yang ga tau terima kasih kayak gitu. 


Trus aku iseng sercing tentang "why does friendship suck?", dan mendapati tulisan2 semacam ini:

Because one friend invests more into the bond than the other. I think it's a part of our learning experience and it helps you make quality friends in the future.

The world is too small place to not meet some jerks or rather some people who might be wonderful individuals but their idea of friendship was different than yours. Thats could be why it sucks.

You should only befriend those who understand your worth. We must consider ourself special and should only befriend those who truly deseves our company. Friendship with all acquaintances is inadvisable. You need to select a few according to your wisdom. Positive people inspire us to remain positive in life.



Aku menyadari kelemahan dan kebodohanku, yaitu aku sering memberikan diri dan waktuku terlalu banyak dalam sebuah hubungan, sehingga terjadi ketidakseimbangan. Selalu ada orang2 yang hanya mau memberi sedikit lalu menuntut terlalu banyak, dan itulah yang bikin aku kecewa karena aku memberi terlalu banyak. Aku tau bahwa aku harus berubah di area ini supaya ga ngalami kejadian yang sama terus menerus. 


Hari2 itu rasanya udah males dikontak orang2 yang hanya datang dan pergi kayak jelangkung, sebodo amatlah ama idup mereka. Apalagi ketika aku menyadari bahwa sebagian besar dari mereka selalu punya "core problem" yang sama, yaitu ga mau bayar harga untuk bangun hubungan dengan Tuhan, sehingga mereka selalu berputar2 di padang gurun en ngerepoti orang lain tiap ada masalah. Aku bergumul banget, minta Tuhan campur tangan supaya aku ga selalu berbelas kasihan ke orang2 yang datang ke aku dengan segudang masalah mereka. Aku butuh hikmat, karena ga semua orang harua ditolong, terutama ketika bertaon2 mereka terputus dari hubungan pribadi dengan Tuhan, sekalipun mereka berlabelkan "Kristen".


Pas baca buku "Doa Maria Resep Marta", aku menemukan kata2 ini yang menempelak:

Apabila Gereja tidak menemukan tempat dimana kerinduan ilahi dan belas kasihan kepada sesama bertemu, akan terjadi pemudaran kepercayaan. Tidak ada yang dapat dicapai jika kita hanya menunjuk pada permasalahan tanpa memberikan penyelesaiannya.


Kata2 itu berbicara kuat ke dalam hatiku, bahwa setiap orang harus disadarkan "their core problem", yaitu kebutuhan mereka untuk bergantung dengan Tuhan. Aku ga mau menganalisa penyebab masalah mereka aja, aku akan korek sampai ke akarnya, yaitu their relationship with their Saviour. Seringkali masalah mereka muncul sebagai akibat dari kurangnya kedekatan mereka dengan Tuhan, sehingga Tuhan "tegur" mereka dengan mendatangkan masalah2. Masalah utama mereka bukan masalah itu sendiri, tapi kualitas hubungan mereka dengan Tuhan serta cara mereka memandang masalah itu. 


Ketika hubungan mereka dengan Tuhan ga beres, maka sudut pandang mereka akan bergeser sehingga ga bisa melihat masalah dengan cara yang benar, dengan sikap hati yang tepat, makanya ga heran mereka ga bisa menemukan jalan keluarnya. Tapi ketika hubungan dengan Tuhan diperbaiki, maka perspektif mereka berubah, masalah ga lagi jadi masalah yang menghimpit, namun mereka bisa melihat itu sebagai sarana Tuhan mendidik atau menegur mereka. 


Akhirnya aku fokus untuk tanya tentang kualitas hubungan pribadi mereka dengan Tuhan, daripada berlelah2 menganalisa masalah yang mereka alami. Dengan cara begitu, aku ga lagi jengkel atopun berlelah2 jadi problem solver, mereka pun jadi tersadarkan bahwa merekalah penyebab masalah yang timbul ahahaha. 


Ketika aku punya pendekatan yang baru untuk menghadapi orang2 yang selalu bermasalah ini, hatiku jadi lebih damai sejahtera. Aku ga lagi terbeban untuk bisa menyelesaikan semua masalah dengan teknik2 psikologi yang kupelajari, tapi aku memandang dengan sudut pandang spiritual, bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekedar psikologi yaitu spiritual. Aku tau bahwa Bapa pun disenangkan ketika aku menyadarkan orang2 tentang kebutuhan mereka akan Tuhan. 


Walopun tetep aja ada orang2 yang ga mau bayar harga sendiri untuk mendekat ke Tuhan, aku ga lagi jengkel karena tau bahwa I'm not their saviour, aku hanyalah penunjuk jalan mereka ke hati Bapa. Kalo mereka ga mau bayar harga untuk bangun hubungan dengan Tuhan dan lebih memilih untuk keliling kanan kiri minta belas kasihan, aku tau bahwa mereka adalah benalu2 yang perlu diwaspadai. Hahaha. 


No comments: