When you are pushed to your limit, the real you comes out.
Beberapa hari terakhir ini aku mulai bertindak atas kondisi2 terutama orang2 ga menyenangkan di kantorku. Entah kenapa, rasanya muak berada di kalangan kayak gitu, en aku jadi kepengen menyikapi dengan tegas orang2 yang ada. Tapi aku ngerasa bahwa aku melakukannya dengan sikap hati yang salah.
Diawali dengan toxic people yang paling bocor mulut en suka ghibah, si HRD. Semua orang tau kalo dia incompetent sebagai HRD, orangnya suka cari muka bos, en selalu bertindak semaunya en melakukan berbagai keputusan yang hanya menguntungkan golongannya. Jujur aja, sejak awal aku ga suka sama kemunafikan orang ini, tapi aku mempelajari karakternya, serta diem2 mulai nyindir dia dengan tepat sasaran terutama ketika aku tau dia beberapa kali berusaha menjatuhkan aku di depan banyak orang. Aku jengkel banget ama orang yang incompetent, punya bad attitude, toxic pula. Beberapa orang kaget dengan perubahan sikapku, en kata2ku yang menusuk tajam tepat ke sasaran, tapi mereka setuju dengan yang kulakukan.
Trus ada 1 driver yang sangat ga sopan karena suka ngambil cemilan tanpa ijin. Selama ini aku ga ambil pusing karena ga pernah mergokin secara langsung, tapi jujur aku risih. Akhirnya kemaren pas aku ngeliat sendiri dia maksa ngambil cemilan yang udah dipegang ama salah 1 anak buahku, aku negur. Dia ga nanggepi aku blas, langsung keluar ruanganku en aku jengkel pol trus ngomong "aturan itu dipake!" Tiba2 dia dateng ke ruanganku, ngasi 2 kotak Beng-beng dengan sikap sok. Abis gitu aku dikasi tau kalo driver ini cerita ke satpam sampe dipikir aku tengkar ama dia, trus dia pasang status baper. Bener2 childish en ga bermoral deh 😑
Aku tau sikap hatiku salah ketika negur mereka berdua, karena bukan didasari kasih tapi kemangkelan. Jujur aja, berada di lingkungan toxic ini lama2 bikin hatiku jadi panas juga. Ditambah lagi bos yang ga ambil tindakan apapun atas orang2 yang bermasalah, toxic people, orang2 yang ga becus kerja, en para hidung belang. Sungguhan rasanya pengen berontak, ambil tindakan tegas untuk nge-cut makhluk2 yang ga berperikemanusiaan itu.
Karena Tuhan itu baikkkk, kotbah yang kudengarkan malam ini en buku yang kubaca (Why Suffering by Ravi Zacharias& Vince Vitale) bener2 mengoreksi hatiku. Aku disadarkan bahwa diriku emang tegas en ga suka dengan semua bentuk ketidakadilan serta ketidakbenaran. Tapi apa yang kulakukan dengan sikap hati yang salah itu juga ga berkenan di mata Tuhan. I'm sorry, Lord. Aku tau mereka itu bebal, tapi seharusnya aku melakukannya dengan kasih dan kebenaran, bukan dengan ego dan emosiku.
Aku tau bahwa ketika dalam tekanan, diriku yang asli yang akan muncul ke permukaan. Tapi aku ga mau manusia lamaku yang muncul dengan segala bentuk egonya, tapi aku mau karakter Kristus yang muncul. Aku perlu menenggelamkan diriku dalam hubungan yang intim dengan-Nya agar karakter asliku diubahkan dengan karakter-Nya yang mulia.
No comments:
Post a Comment