May 2, 2012

BERGUNA NGGAK SIH?


 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun” (I Korintus 6:12).
Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Roma 14:19).
Segala sesuatu diperbolehkan.“ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain” (I Korintus 10:23-24).
“Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8).
            
Empat kutipan ayat di atas intinya membahas hal yang sama, BERGUNA NGGAK SIH? Seperti yang kita tahu, di dalam Kristus, udah nggak ada lagi larangan begini begitu, hukum ini itu, dan lusinan aturan en tata cara kayak jaman Perjanjian Lama. Perjanjian Baru penuh dengan kasih karunia, bukan dengan aturan ato larangan ato perintah. Namun, di dalam masa kasih karunia ini, nggak berarti kita bisa bebas nglakuin ini itu semau gue, nggak berarti nggak ada batasan. Segala sesuatu diperbolehkan, tapi kita harus cermat en berhikmat untuk bedain mana sih yang berguna en mana yang nggak berguna buat hidup kita, terutama untuk kekekalan.
            
Segala sesuatu halal, segala sesuatu diperbolehkan. Yup, itu bener. Tuhan Yesus mati menebus dosa kita supaya kita dibebaskan dari hukum Taurat yang membatasi kebebasan manusia dengan aturan en larangan yang tiada habisnya. Di dalam Yesus, semua hukum itu udah dinyatakan nggak berlaku lagi. Semua hukum Taurat digantikan dengan hukum kasih karunia. Dengan demikian, kita menjadi manusia yang bebas, namun jangan sampai jadi kebablas :P
            
Kita boleh-boleh saja nonton TV, bioskop, nonton pertandingan bola, maen games, dsb, dll, dkk. Tapi, kita harus tau batasannya. Bukan lagi kita bertanya ini itu dosa nggak sih (kalo udah tau itu dosa, ya jangan dilakuin donk), tapi kita harus bertanya ke diri kita, “kalo kita nglakuin ini itu, berguna nggak sih buat hidup kita?” Nonton TV or bisokop, boleh-boleh aja, tapi jangan sampe kita jadi keterusan, lalu terikat, trus lupa ama tugas en tanggung jawab kita. Boleh-boleh aja kita maen games, buka internet untuk chatting, nonton pertandingan bola, ato apapun, tapi kita harus tau apakah hal-hal yang kita lakuin itu membangun hidup kita nggak sih? Oke lah, sah-sah aja untuk refreshing, tapi kalo keterusan sampe lupa makan or lupa tidur, juga nggak baik buat kita kan.
            
Segala sesuatu diperbolehkan, segala sesuatu halal. Namun kita perlu mem-filter hal-hal apa aja sih yang perlu kita “konsumsi”. Bukankah tubuh kita adalah Bait Allah? (I Korintus 6:19-20). Kalo tubuh kita adalah Bait Allah, udah sewajarnya kita memasukkan hal-hal yang baik ke dalam tubuh en hidup kita donk. Jangan sampe kita malah masukkin hal-hal yang nggak berguna alias sampah ke dalam tubuh or hidup kita.
            
Di jaman serba canggih en online seperti sekarang ini, kita harus pandai-pandai menyaring en memfilter semua hal yang kita “konsumsi”. Pakailah setiap media en kecanggihan teknologi yang ada untuk membangun dirimu en membangun sesamamu, jangan untuk melakukan hal yang aneh-aneh or merusak dirimu. Pakailah setiap kemudahan yang ada untuk semakin mengenal Tuhan, untuk menjangkau jiwa-jiwa, en untuk mempermuliakan nama Tuhan.

HATI TUHAN


Dalam kitab Matius pasal yang ke-25, ada sebuah perikop yang mengisahkan tentang penghakiman terakhir. Penghakiman terakhir itu dilakukan oleh raja segala raja (Yesus) terhadap setiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini. Setiap orang akan dihakimi berdasarkan perbuatan yang dilakukannya, entah baik, entah jahat. Ngeri banget yah? Namun, di perikop itu, terkandung isi hati Tuhan buat kita en sesama kita loh. Coba kita cermati yuk. 

Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25: 34-40).

Di perikop ini, Tuhan memberi upah kepada setiap orang yang berbuat baik en menolong orang-orang yang “terbuang” dari antara masyarakat, yaitu orang-orang yang seringkali “tidak masuk hitungan” di mata manusia. Dimana orang-orang yang disebut sebagai orang-orang benar itu, memberikan apa yang mereka miliki untuk orang-orang yang “hina dan tak terpandang” itu. Entah mereka memberi makanan, pakaian, waktu, tenaga, uang, perhatian, en kasih mereka bagi orang-orang yang membutuhkan.

Sadarkah kita, bahwa ketika kita diberkati oleh Tuhan, berkat itu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kita? Berkat yang Tuhan berikan dalam hidup kita, merupakan titipan Tuhan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan. Memang, berkat itu boleh kita nikmati untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, namun kita tidak boleh menjadi orang yang egois serta lupa kepada orang lain yang membutuhkan. Kita harus mengerti isi hati Tuhan bagi sesama kita, dimana Tuhan mengajarkan kita untuk memberi dan membagikan berkat yang kita miliki, kepada orang lain.

Berdoa bagi mereka yang kekurangan, anak-anak jalanan, para pengemis, atau mereka yang tunawisma, tidaklah cukup. Kita perlu bertindak. Kita perlu menyisihkan sumber daya yang kita miliki untuk diberikan bagi mereka yang kekurangan. Ingatkah kita, bahwa Tuhan mengasihi kita ketika kita masih berdosa en nggak layak untuk diperhatikan? Jika kita telah menerima kasih yang sedemikian besar dari Bapa kita di Sorga, sudah selayaknyalah kita melakukan hal yang sama bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan.

TANGGUNG JAWAB


Note ini akan membahas tentang gimana sih seharusnya kita bertanggung jawab atas semua yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Gimana seharusnya kita setia en bertanggungjawab, sehingga ketika suatu saat Tuhan menuntut pertanggungjawaban kita, kita siap. En kita ga cuma siap, tapi juga beroleh upah dari Dia ^^

Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lagi satu, masing- masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat” (Matius 25:14 -15).

Setiap kita pasti dikasi talenta sama Tuhan, PASTI! Berapa jumlahnya, itu berbeda-beda, tergantung kemampuan en kesanggupan kita. Yang jelas, Tuhan nggak “meluncurkan” kita ke bumi dengan tangan hampa. Coba cari tau, apa yang jadi talenta kalian, guys. Mungkin nyanyi, nge-dance, nulis, konselingin orang, nggambar, ngelukis, dsb dll. Kita harus cari tau dulu apa talenta kita, baru kita bisa pake en kembangkan semua itu.

“Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya (Matius 25:16-18).

Nah, setelah kita tau apa talenta kita, yuk kita berusaha kembangkan, kita pakai untuk kemuliaan Tuhan, kita kerjakan apa yang jadi bagian kita. Jangan jadi orang yang nganggurin talenta yah. Walopun mungkin talenta kita cuma satu, tetep harus dikerjakan donk. Kalo talenta kita nyanyi, ya latihan nyanyi trus. Walopun mungkin masih fals en cempreng (hahahaha), nggak apa-apa, dilatih trus. Kalo talentanya ngonselingi orang, ya coba belajar ngonselingi orang- orang di sekitar kita yang membutuhkan. Mulailah dengan hal- hal yang simple, yang bisa kita jangkau en kerjakan.

Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba- hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:19-21). En hamba yang dapet dua talenta juga dapet hal yang sama.

Tuh kan, sang tuan ngadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Tuhan pun ntar juga begitu! Dia pengen tau, talenta yang Dia kasi ke kita tuh gimana perkembangannya, nghasilin sesuatu kagak, berbuah en tambah banyak kagak, ato jangan-jangan kita pendam dalam tanah en kita lupain. Kalo kita udah berusaha maksimal untuk ngerjakan bagian kita, tenang aja, kita pasti dapet upah. Walopun mungkin ga sedahsyat perumpaan ini, lima beroleh lima, dua beroleh dua. Seenggaknya, kita uda berusaha lakuin yang terbaik yang kita bisa ^^

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi  menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!” (Matius 25:24-25)
     
    Tanggepan pertama gue, buseeet nih hamba, kurang aja bener yah. Udah dikasi gratis, dia nganggurin, eh masih berani bilang tuannya kejam en ngembaliin talenta itu tanpa hasil. Edan tenan. Hahahahaha. Sapa nih yang berani bilang kayak gini? Ckckckckck. Eits, pas ngebaca ayat di atas, mungkin kita mikir kayak gitu. Tapi tunggu dulu, jangan-jangan kita juga kaya gitu tuh. Jangan-jangan ada talenta kita yang juga kita biarin gitu ajah, tanpa kita kerjakan. Mungkin kita nganggep talenta itu kecil dibandingin talenta kita yang lain, sehinggak ita abaikan. Ati-ati loh, guys. Next, kita liat tanggepan tuannya yuk.

Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu(Matius 25:25-28)
       
    Wuikkk, ngeri bener jawaban dari sang tuan yah. Mungkin kita mikir, nih tuan kok jahat bener, kan dia udah dapet laba 7 talenta dari hamba yang lain to (lima plus dua talenta). Masa cuma satu talenta aja yang nggak berhasil, kok dituntut jugak?   

    Sebenernya sang tuan tuh bukan kejam, tapi dia mau bilang gini: “Apapun yang aku lakukan, itu bukan urusanmu karena aku adalah tuanmu. Lakukan aja apa yang jadi bagianmu, karena kamu adalah hamba. Tugas hamba ya cuma ngerjakan apa yang tuannya suruh kan.”

Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi. Tetapi siapa tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya (Matius 25:29).
           
   Artinya kurang lebih begini: kalo kamu bisa dipercayai, ya kamu akan diberi kepercayaan lebih gede. Tapi kalo kamu dikasi sedikit aja nggak bisa dipercaya, ya kamu ga bakal dikasi hal yang lebih gede, bahkan apa yang kamu punya bakal diambil. Jadi masalahnya bukan terletak pada jumlahnya gede ato kecil, tapi pada tanggung jawab kita.

Coba bayangkan, kalo misalnya dibalik, hamba yang punya satu talenta itu ngerjakan bagiannya en dapet satu talenta lagi, apa tuannya bakal ngamuk? Nggak kan. Tapi kalo hamba yang dapet dua en lima talenta itu nggak ngerjakan bagiannya, apa tuannya marah? Pasti donk. Lebih baik orang yang dipercayakan sedikit, tapi dikerjakan, daripada orang yang dipercayakan banyak tapi nggak ngapa-ngapain. Tul nggak?

Ayat yang lain bilang gini: Barangsiapa setia dalam perkara- perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara  besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10).

Nah, makin jelas kan kalo masalahnya bukan di jumlah. Mau satu, dua, lima, bahkan sepuluh sekalipun, kalo emang kita nggak bertanggung jawab ya sama aja. Tapi sebaliknya, berapapun hasil yang kita peroleh, Tuhan nggak menargetkan. Tujuan Tuhan tuh pokoknya kita kerjakan dengan setia, dengan tanggung jawab en maksimal, udah itu aja. Bahkan Yesus, Anak Allah pun bertanggung jawab atas apa yang Bapa percayakan kepadanya loh. Coba liat yuk.

“ Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku. Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci” (Yohanes 17:12).
God bless you, guys!

April 14th , 2012
12:22 pm

May 1, 2012

TAWANAN ROH


 “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberikan kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah (Kisah Para Rasul 20:22-24).
            
Ayat di atas merupakan perkataan yang disampaikan oleh Paulus kepada para penatua di Efesus, sebagai kata-kata perpisahan. Paulus yang kita ketahui, adalah seorang pelayan Kristus yang sangat luar biasa. Dia dipakai Tuhan dengan sangat dahsyat karena keradikalannya dan ketaatannya yang penuh kepada tuntunan Roh Kudus. Bahkan dia mengatakan bahwa dirinya adalah tawanan Roh. Apa sih yang dimaksud dengan tawanan Roh?
            
Seorang tawanan adalah seorang yang tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Seorang tawanan menjadi hak milik orang yang berkuasa atasnya, misalnya budak yang dimiliki oleh seorang tuan tanah. Dalam hal ini, Paulus sudah mengetahui bahwa Roh Kudus akan menuntunnya ke dalam penderitaan, namun dia tetap menundukkan dirinya kepada tuntunan Roh Kudus. Mengapa demikian? Karena Paulus sudah menyerahkan dirinya sepenuhnya dalam kuasa Roh Kudus, sehingga ia mau taat dan tunduk, kemana pun Roh Kudus membawanya pergi.
            
Sebagai orang Kristen, kita perlu memiliki penundukan diri yang demikian terhadap Roh Kudus. Kita telah dibeli dan harganya lunas dibayar oleh Kristus, sehingga hidup kita bukan lagi milik kita sendiri, tetapi telah menjadi milik Kristus. Kristus adalah Tuan kita, dan kita adalah hamba-Nya. Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa kita adalah tawanan Roh Kudus, kita harus taat kemanapun ia mau membawa kita, kemanapun Dia ingin kita pergi. Bahkan ketika kita sudah tau bahwa Dia akan menuntun kita ke tempat atau kepada orang yang tidak kita sukai sekalipun, kita harus belajar taat dan tunduk. Itulah kunci keberhasilan kita sebagai orang Kristen, yaitu ketika kita melepaskan hak-hak kita dan mengijinkan Roh Kudus yang berkuasa penuh atas diri kita.