1. Kita harus belajar untuk menyisihkan "pedang" kita dan mengambil handuk kehambaan ketika kita berhadapan dengan sesama orang Kristen maupun non Kristen. Senjata pilihan di alam roh jelas sekali adalah "pedang Roh", namun senjata pilihan di alam duniawi adalah sebuah handuk. Mengayunkan pedang di bumi seringkali memecah belah dan memisahkan. Menyandang handuk di pundak seringkali "re-members" (menyatukan kembali sebagai anggota). Kehambaan akan menyatukan kembali apa yang telah terpecah.
2. Jangan menggunakan pedang di dunia, pedang itu hanya akan memecah belah dan memisahkan Tubuh Kristus. Pedang seharusnya hanya digunakan untuk melawan iblis dan antek-anteknya.
4. Manusia bukanlah musuh kita; Tuhan mengutus kita untuk melayani manusia sebagaimana Tuhan telah melayani kita. Ia "telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Filipi 2:7). Anak Allah melengkapi diri-Nya dengan sebuah handuk, membasuh kaki murid-murid-Nya dan menjadi hamba dari semua orang. Itulah teladan kita dan sumber bagi kebesaran yang sejati.
5. Jika kita ingin melihat kehendak Tuhan terjadi di dunia ini sebagaimana di surga, maka kita harus mengosongkan diri kita dari kemunafikan religius dan merendahkan diri kita. Kita harus menjadi pelayan bagi kebutuhan orang-orang di sekeliling kita.
BAB 2: HADIRAT-NYA HARUS MENGHASILKAN PERUBAHAN
1. Tuhan telah berketetapan membawa Injil dan pernyataan hadirat-Nya dari ruang atas rumah (tempat doa) ke jalanan. Ketika kita tidak mengizinkan hadirat Tuhan menghasilkan perubahan dan tindakan, pesan-Nya menjadi tidak ada artinya.
2. Yesus sangat sering berdoa, namun setiap hari Ia juga menunjukkan buah dari keintiman-Nya dengan Bapa-Nya.
3. Dunia harus melihat sebuah perbedaan dalam hidup mereka yang mengklaim telah berada dalam hadirat Tuhan. Tuhan selalu menyatakan diri-Nya kepada kita untuk suatu tujuan ilahi; Ia tidak tertarik hanya untuk menggentarkan atau menyenangkan kita.
4. Mereka yang benar-benar menghabiskan waktunya dalam hadirat Tuhan akan memiliki rasa kasih dan pengampunan yang begitu besar bagi orang lain serta belas kasihan yang menyala-nyala untuk yang terhilang. Tidak peduli betapa pun sulitnya keadaan, hal yang sejati yang didapatkan dalam hadirat Tuhan tidak akan pernah memudar atau terombang-ambing.
5. Jika Anda telah bersekutu dengan-Nya, Anda akan mencerminkan Dia.
BAB 3: ROH KEHAMBAAN HARUS DITULARKAN, BUKAN DIAJARKAN
1. Roh kehambaan membuat perbedaan antara tugas dan kerinduan, antara melakukan apa yang harus Anda lakukan dan melakukan apa yang ingin Anda lakukan.
Kehambaan menjadi suatu sukacita jika Anda begitu dekat dengan Tuhan sehingga kerinduan-Nya akan menjadi kerinduan Anda.
2. Semangat dan gairah kehambaan yang rendah hati lebih baik ditularkan ketimbang diajarkan. Anda tidak bisa mengajarkan atau meneladankan kerendahan hati jika itu tidak ada dalam diri Anda; ini adalah masalah hati.
3.
"Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu" (Matius 5:39).
Ia tahu bahwa kita harus melepaskan hak kita jika kita ingin menjadi seorang hamba. Hidup Anda tidak lagi menjadi milik Anda sendiri; hidup Anda berada dalam tangan Tuhan Anda. Kabar baiknya adalah bahwa Tuhan Anda dapat mengurus masa depan Anda dengan lebih baik ketimbang Anda.
4.
Lima karakteristik hamba yang sejati:
a. Seorang hamba harus siap merendahkan dirinya
Daud masih mengasihi dan menghormati Saul, bahkan setelah raja itu membuatnya terpaksa melarikan diri ke dalam pembuangan. Mengapa? Karena Daud memiliki hati seorang hamba yang rendah hati.
b. Seorang hamba harus bersemangat
Kita perlu menjadi sangat lapar akan Tuhan hingga kita benar-benar melupakan etiket.
c. Seorang hamba tidak pernah berusaha menyamakan dirinya dengan orang yang dilayaninya
d. Seorang hamba peduli
Daud peduli untuk mengajarkan kepada mereka harga diri dan keberanian (dengan pelatihan terbaik dalam hal doa, penyembahan, dan pujian), jadi mereka bisa menghadapi tantangan hidup dengan berani dan yakin. Tuhan memakai teladan Daud untuk mengubah sekelompok "para pecundang" yang gagal menjadi sebuah pasukan yang kuat yang menolongnya mengalahkan semua musuhnya setelah ia menjadi raja Israel.
e. Seorang hamba memberkati
Pengikut Kristus yang memiliki hati seorang hamba yang sejati akan cepat mengampuni dan melupakan luka dan kesalahan yang diakibatkan oleh orang lain. Pelayan Tuhan selalu memilih untuk memberkati, apakah itu melibatkan tindakan kebaikan, memberikan sukacita kepada orang lain atau secara aktif mengasihi orang yang hina melalui tindakan pelayanan yang nyata.
BAB 4: MELAYANI DENGAN HORMAT DAN SUKACITA
1. Sikap seorang hamba menentukan suasana istana. Bangku-bangku gereja kita penuh dengan orang-orang Kristen yang berkata bahwa mereka "melayani Tuhan", namun mereka sama sekali tidak memikirkan orang-orang yang terhilang. Mereka tidak memahami konsep bahwa "pelanggan" yang masuk ke dalam "toko roti" Tuhan dalam keadaan lapar, hancur, dan membutuhkan pertolongan adalah tujuan di balik semuanya itu.
2. Tidaklah cukup jika kita hanya mati terhadap kedagingan kita; kita harus mati dengan hormat. Kehambaan adalah kayu salib Kristus yang diperhadapkan kepada kita--panggilan peradilan yang harus kita penuhi setiap hari.
3
. Empat cara untuk mengenali seorang hamba:
• melayani dengan sukacita
Semua hamba yang mengenal Dia yang dilayaninya akan bersukacita.
Pelayan-pelayan yang spontan dan penuh sukacita memberikan kesegaran dan kekuatan baru kepada mereka yang dilayani.
• tidak pernah bertanya "apa untungnya bagiku?"
Yusuf hanya memilih untuk mengenakan jubah seorang hamba dimanapun ia berada, apakah ia berada di dalam penjara, atau di istana Firaun. Tuhan tertarik pada pemimpin hamba.
• mencari kesempatan untuk melayani
Seorang hamba lebih mencari kesempatan untuk melayani ketimbang mencari persetujuan atau dilihat orang.
•
melayani ketika tidak seorangpun melihat
Kebanyakan orang Kristen yang jarang melayani di luar gereja mereka tidak melihat sisi lain dari pelayanan. Mereka tidak melihat saat-saat ketika orang-orang meludahi dan menyumpahi Anda. Tetapi, apa yang Anda lakukan ketika tidak seorangpun melihat, itulah yang penting.
4. Anda tidak bisa memiliki kekristenan tanpa kehambaan. Semua yang disebut sebagai Injil Kristen, tetapi gagal mengubah kehidupan ketika Injil itu dikotbahkan, adalah sesuatu yang tidak memiliki kuasa. Tidak ada jalan singkat menuju salib.
5. Sekaranglah saatnya bagi apa yang firman Tuhan disebut "keluhan-keluhan yang tidak terucapkan". Hal itu menggambarkan kenekatan ilahi yang kita alami di dalam Roh ketika kita diam-diam mulai berdoa, "jika Engkau ingin mengubah seseorang, ubahlah aku, Bapa. Aku tidak peduli berapa harga yang harus dibayar.
BAB 5: KEHAMBAAN ADALAH SIKAP HATI, BUKAN KEMAMPUAN
1. Belas kasihan adalah tempat lahirnya berbagai mujizat, dan hati adalah rahim dari setiap mujizat yang akan kita alami dalam hidup ini. Jika sebuah keadaan tidak menggerakkan Anda, maka Anda tidak bisa menggerakkan surga.
2. Anda tidak akan memiliki sebuah kehidupan yang layak dijalani sebelum Anda menemukan sebuah alasan yang untuknya Anda bersedia mati.
Kita seringkali menginginkan Tuhan melindungi kita ketika yang dikehendaki-Nya adalah mempersiapkan kita. Jika Ia tidak menahan Anak-Nya sendiri, Anda pikir siapa diri Anda? Kehambaan adalah panggilan tertinggi kita.
3. Jika hati Anda tidak diubahkan, ditangkap, atau dihancurkan oleh sebuah perjumpaan dengan Tuhan, maka Anda tidak akan bisa melayani orang lain sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehambaan yang sejati adalah mengizinkan Tuhan mengubah hati kita.
4.
Empat komponen penting yang membentuk sikap hati seorang pelayan:
• belas kasihan
• keyakinan
Hanya keyakinan yang dititahkan oleh Tuhan yang dapat menolong Anda bertahan dalam panggilan Anda untuk menjadi seorang hamba ketika semua orang telah meninggalkan Anda.
•
komitmen
• kasih
BAB 6: MEMAHAMI KUASA KEHAMBAAN DAN ARTI PENTING DARI MENYEMIR SEPATU
1. Kayu salib adalah lambang dari perubahan kita, atau pembebasan kita, dari kegelapan ke dalam terang melalui pengorbanan Yesus yang tidak mementingkan diri sendiri di Kalvari. Handuk adalah lambang lain dari "urusan keluarga" dan pekerjaan individual kita yang terus berjalan.
2.
Kehambaan berarti bahwa semua yang saya miliki dan seluruh keberadaan saya ditempatkan untuk kepentingan Anda jika itu akan membawa Anda ke dalam hadirat Tuhan. Kehambaan bukanlah masalah bagaimana saya bisa memberikan nilai tambah dalam hidup saya, namun bagaimana saya memberikan nilai tambah dalam hidup Anda.
3. Letakkan pedang Anda dan ambillah handuk Anda. Letakkan rasa percaya Anda kepada apa yang telah diberikan-Nya kepada Anda; dan kemudian berikanlah itu kepada orang lain dengan iman.
BAB 7: MELIHAT APA YANG YESUS LIHAT
1. Banyak di antara kita tidak mengetahui nilai kehambaan karena kita tidak memiliki "mata seorang hamba". Mata Anda harus terbuka lewat sebuah pengalaman sehingga paradigma atau kerangka pemikiran Anda berubah, sebelum Anda bisa menjadi seorang hamba atau memahami kuasa kehambaan. "Ladang" bukanlah masalah--para pekerjalah yang tidak bisa melihat apa yang berada tepat di hadapan mereka.
2. Jika Anda takut akan apa yang ada di sana, maka Anda tidak bisa mempengaruhi apa yang ada di sana.
3. Jika Anak Allah harus meninggalkan dunia-Nya untuk masuk ke dalam dunia kita, adalah masuk akal jika Anda dan saya harus meninggalkan bangku-bangku gereja kita untuk mempengaruhi dunia yang kita kenal melalui media. Jika mereka melihat lebih banyak hamba di antara kita, mereka akan lebih melihat Yesus di dalam kita. Jika mereka lebih melihat Yesus, maka mereka akan mengubah jalan mereka.
4. Belas kasihan adalah faktor motivasi di balik keajaiban, namun belas kasihan dalam hati dipicu oleh pandangan mata. Anda harus "tergerak" sebelum Anda bisa bereaksi.
5. Belas kasihan dan kepekaan tidaklah cukup bagi para hamba yang sejati; kasih yang sejati harus mengikatkan keduanya dan mengobarkan tindakan-tindakan fisik pelayanan di bawah pimpinan Roh Kudus. Kasih seorang hamba adalah kasih yang aktif, dan tidak seorangpun bisa menahan kasih untuk bertindak.
6. Gaya hidup Tuhan adalah bukti nyata bahwa jalan menuju ke atas adalah ke bawah. Ia membasuh kaki para murid-Nya, menolong para nelayan menjaring ikan, dan melayani puluhan ribu manusua dalam penyembuhan, pembebasan, pengajaran, dan bahkan secara adikodrati menyediakan makanan.
7. Mata siapa yang Anda pakai ketika Anda pergi bekerja setiap hari? Berdoalah terus supaya Tuhan mengubah hati Anda dan Ia akan melakukannya. Ketika Anda menjamah Tuhan dalam ruang tahta keintiman, iman Anda diubahkan menjadi kehambaan.
BAB 8: MENDENGAR DENGAN MATA DAN MELIHAT DENGAN TELINGA ANDA
1. Mekanik yang memperbaiki mobil balap grandprix menggunakan telinga mereka untuk "melihat" kerja internal mesin yang mereka buat. Mereka "mendengar" dengan mengamati operasi mesin, ritme, dan catatan waktu sementara mesin dijalankan pada berbagai kecepatan. Perjumpaan dengan Tuhan seharusnya secara permanen mengubah cara bagaimana kita menggunakan perlengkapan kita. Tuhan ingin kita mendengarkan dengan mata kita dan melihat dengan telinga kita.
2. Salah satu dimensi besar dari hati seorang hamba yang sejati adalah kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak tampak. Hikmat duduk berdampingan dan memahkotai kemampuan untuk melihat.
3. Semua orang yang melangkah dengan iman untuk melakukan kehendak Tuhan harus secara pribadi belajar bagaimana mendengar dan mempercayai-Nya. Adalah baik untuk mencari nasihat yang bijak, tetapi pada akhirnya keputusan yang Anda buat adalah antara Anda dan Tuhan.
4. Terkadang, kesejahteraan mereka yang kita layani bergantung pada kemampuan kita untuk bisa melihat berbagai kebutuhan dengan tepat, luka-luka yang tidak kelihatan melalui mata dan telinga normal kita. Namun kita tidak boleh memutuskan serangkaian tindakan hanya dengan apa yang dilihat oleh mata kita atau apa yang didengar oleh telinga kita.
BAB 9: MENGUBAH KEKECEWAAN MENJADI SEBUAH PERJANJIAN TUHAN
1. Kesetiaan membuat kita melekat pada hubungan, tujuan, komitmen, dan tugas sulit kita meskipun keadaan begitu penuh dengan rintangan, keraguan, dan permusuhan.
Dibutuhkan kesetiaan agar Anda dapat dengan sukses menggunakan handuk seorang hamba sebagai suatu senjata, ketika mereka yang Anda layani berulang kali menolak Anda.
2. Tuhan kekurangan orang yang mau berjalan ke sebuah gunung dan melihat berbagai hal dari sudut pandang-Nya. Tidak peduli berapa kali Anda dijatuhkan dalam perjalanan kehambaan Anda, jika kesetiaan membantu Anda untuk melekat pada tujuan Anda dan kembali bangkit sekali lagi, maka Anda telah menang!
3. Jika Anda setia, kekecewaan yang Anda alami sepanjang jalan semata-mata akan memberikan tekanan yang dibutuhkan untuk menghubungkan Anda dengan suatu perjanjian ilahi yang mulia dan "merekatkan" Anda kepada Tuhan.
4. Jika Anda kecewa, ada 3 hal penting yang harus Anda lakukan: membuat pilihan yang benar, mempertahankan tujuan, dan menanggapi ketimbang bereaksi.
5. Ketika Anda berada dalam suatu krisis, ada dua tempat utama dimana sebaiknya Anda berlindung: keluarga Anda dan Tuhan. Kepulangan itu bukanlah kekalahan. Kembangkanlah hubungan-hubungan di bumi dan di surga yang akan melindungi Anda dari badai kehidupan.
6. Kita semua mengalami saat-saat dalam kehidupan ketika kita harus menjawab pertanyaan, "Apakah aku mengasihi Yesus lebih daripada aku mengasihi dosaku?" Kunci untuk pengampunan dan kemenangan terletak pada cara kita menjawab pertanyaan yang sangat penting itu.
7. Yesus memanggil kita untuk berbuat lebih dari sekadar perubahan hati saja. Terkadang Ia memanggil kita untuk berbuat lebih banyak dari hanya sekadar mendoakan seseorang atau suatu keadaan tertentu--Ia menghendaki kita untuk mengampuni.
BAB 10: MELAYANI DENGAN PERSIAPAN ANTISIPASI
1. Kita menantikan Tuhan melalui penyembahan-- baik secara pribadi ataupun dalam persekutuan-- mengantisipasi kerinduan surgawi. Kita juga menantikan Tuhan dengan melayani pelanggan-pelanggan-Nya seolah-olah Ia ada di sana bersama kita. Yesus berkata,
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Matius 25:40).
2. Yusuf si pelayan menjadi berkat dan penyelamat kehidupan bagi Firaun dan seluruh Mesir karena ia tidak menunggu sampai bencana kelaparan menyerang. Ia mengantisipasi kebutuhan yang akan terjadi dan melakukan persiapan sebelumnya.
Setiap orang yang selalu harus diberi tahu apa yang harus dilakukan bukanlah seorang pelayan.
3.
Daud dipersiapkan dalam Roh karena Ia mengenal Tuhannya. Daud memberi tahu Raja Saul bahwa ia mencengkeram singa pada surainya dan membunuh singa itu, dan ia mempersembahkan kemuliaan atas perbuatannya itu kepada Allah. Inilah cara seorang hamba berhadapan dengan hal yang tak terduga.
4. Yesus adalah seorang pelayan ahli yang memahami pentingnya persiapan. Ketika ibu-Nya memberi tahu Dia bahwa tidak ada lagi anggur pada perkawinan di Kana, hal pertama yang Yesus lakukan adalah memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan bejana. Pelayan sejati juga mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan dengan menjadi peka secara rohani jauh sebelum waktunya.
5.
Kepekaan terhadap Roh dapat membuat perbedaan antara suatu lawatan Tuhan yang penuh kuasa dan mengubahkan hidup yang membuahkan suatu kebangunan rohani dengan suatu kecapan singkat akan apa yang mungkin dapat terjadi kalau saja...
BAB 11: MENAMBAL KEBOCORAN DAN MELAYANI SEUMUR HIDUP
1. Banyak di antara kita yang datang ke gereja dan dipenuhi dengan kemuliaan, kuasa, dan kesucian Allah. Namun entah bagaimana dalam perjalanan kita keluar dari dapur Allah, kita menumpahkan isi gelas kemuliaan tersebut, sehingga kita menjadi terbiasa mempertahankan hidup kita dengan asap api surgawi dan bukannya dalam kobaran api ilahi.
2. Hidangan di meja Tuhan begitu luar biasa dan menggairahkan, namun sebelumnya seseorang harus mencuci serpihan tanah dari kaki orang berdosa dan orang saleh sebelum mereka bisa menghampiri meja. Jika kita tidak melakukan hal itu, akankah Raja Kemuliaan harus mempermalukan kita di depan umum dengan membungkuk sendiri untuk sekali lagi mengambil handuk-handuk kita yang jatuh?
3. Tujuh kunci untuk kehambaan setiap hari (S-E-R-V-A-N-T):
• S-peak love
Pusatkan perhatian pada orang yang telah ditunjukkan Tuhan dan mulailah mengucapkan kasih.
• E-ffective
Terkadang satu-satunya hal yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan dan orang lain adalah keringat di dahi dan kemampuan kita untuk merencanakan, membuat persiapan, dan mengatur.
• R-eveal Jesus
Carilah ayat Alkitab yang sesuai untuk dibagikan kepada orang yang sedang Anda layani, bahkan jika orang itu tidak mengenal Tuhan. Kemudian bacakan atau kutip ayat Alkitab yang telah diberikan Tuhan kepada Anda.
• V-erify
Pastikan dengan Tuhan apakah rencana Anda adalah "gagasan Tuhan" dan bukan hanya sekedar gagasan yang baik.
Beberapa hal penting lain dalam pelayanan:
A. Vitalitas
Bersikaplah antusias dan gembira, bahkan jika orang yang Anda layani tampak tidak menghargainya. Ingatlah untuk melakukan segala sesuatu seakan-akan untuk Tuhan, dan pertahankan sikap saleh dalam hati Anda.
B. Peka
Jangan pernah memaksakan keinginan Anda ketika melayani seseorang.
C. Melayanilah dengan sangat hati-hati
D. Keluarlah dan jangan menyerah pada ketakutan Anda
• A-ct in love
Lakukan hal yang telah Anda persiapkan untuk dilakukan. Lakukan dengan penuh sukacita.
• N-othing in return
Habiskan hari ini dalam doa, ucapkanlah syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang Anda miliki untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya. Buanglah hak untuk mengeluh dan diperlakukan dengan hormat.
• T-arry God
Bertanya kepada Tuhan untuk menunjukkan siapa yang akan kita layani minggu berikutnya.
4. Kebangkitan selalu dimulai di dalam hati dan menyebar dari satu hati ke hati yang lain. Jangan menunggu orang lain untuk menangkap visi. Beranikan diri Anda untuk memimpin sebagai seorang pengikut dan pelayan Kristus. Ijinkan Tuhan mengubah "DNA rohani" Anda dan menjadikan kehambaan sebagai identitas diri Anda, bukan sesuatu yang Anda lakukan.
5. Handuk yang digunakan dengan baik akan membangun Kerajaan-Nya dengan lebih cepat ketimbang pedang yang digunakan dengan tidak tepat.
TOMMY TENNEY & DAVID CAPE
God's Secret to Greatness: The Power of the Towel