BAGIAN II: BADAI KERAGU-RAGUAN
BAB 11: MELIHAT TUHAN DI DALAM PECAHAN KACA
1. Ada jendela dalam hatimu; melaluinya Anda dapat melihat Tuhan. Anda mengenal Allah. Anda tahu bahwa Allah mempunyai kehendak dan Anda senantiasa menemukan apa kehendak itu.
2. Kemudian, secara tiba-tiba jendela itu retak. Sebuah batu memecahkan kaca itu. Batu kepedihan. Kepedihanmu menyebabkan distorsi pandangan.
3. Kebanyakan dari kita tahu bagaimana rasanya kalau dikecewakan oleh Tuhan. Kebanyakan dari kita mempunyai caranya sendiri untuk menyelesaikan kalimat ini, "Jika Allah itu Allah, maka..."
4. Kita mencari Tuhan tetapi tidak menemukan-Nya. Kaca yang terpecah-pecah menghalangi penglihatan kita. Garis-garis menutupi wajah-Nya. Potongan kaca besar membuat pemandangan menjadi kabur. Dan sekarang Anda tidak begitu yakin lagi apa sebenarnya yang Anda lihat.
5. Perhatikan bahwa Yesus mengirim murid-murid ke dalam badai sendirian. Badai terbesar malam itu bukan di langit tetapi di hati para murid. Rasa takut paling besar bukan karena melihat gelombang yang ditiup badai; datangnya karena melihat punggung pemimpin mereka ketika Ia meninggalkan mereka menaiki lereng gunung.
6. Stres menyerang urat syarafmu. Angin ribut menyerang imanmu. Stres menginterupsi. Angin ribut menghancurkan. Stres datang seperti sirene. Angin ribut datang seperti peluru kendali. Stres membuat harimu kelabu. Angin ribut mendorong masuk malam gelap. Pertanyaan stres adalah, "Bagaimana saya dapat menanggulangi?" Pertanyaan di dalam angin ribut ialah, "Dimana Tuhan dan mengapa Ia melakukan ini?"
7. Jika Anda tidak dapat melihat Dia, percayalah kepada-Nya. Sosok yang Anda lihat bukan setan. Suara yang Anda dengar bukan angin. Yesus lebih dekat daripada yang Anda impikan.
BAB 12: DUA PAPA DUA PESTA
1. Untuk mencapai tujuan, kita harus menolak beberapa permintaan
• "Tidak" adalah kata yang perlu dibawa serta di perjalanan.
• Hasrat Allah adalah bahwa Anda mencapai tujuan. Jadwal-Nya meliputi perhentian pemberi semangat pada perjalananmu. Ia tidak menyetujui pemberhentian yang menghambatmu. Bila rencana berdaulat-Nya dan rencana duniawimu bertabrakan, harus diambil keputusan. Siapa yang memimpin pada perjalanan?
2. Anak-anak tidak punya pengertian tentang menit-menit atau mil
• Biasanya Ia memilih untuk mengukur yang di sini dan sekarang dibanding di sana dan nanti. Dan kalau Anda membandingkan hidup ini dengan hidup itu, hidup ini tidak lama.
3. Anak-anak tidak dapat membayangkan imbalannya
• Saya dapat menanggung perjalanan jauh karena saya tahu tujuannya.
• "Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (II Korintus 4:16-18).
4. Bermanfaat sekali
• Tantangan-tantangan kemarin lebur dalam sukacita hari ini.
• Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa perjalanan itu mudah, tetapi Ia mengatakan bahwa tibanya akan besar manfaatnya.
• Tuhan mungkin tidak melakukan apa yang Anda inginkan, tetapi Ia akan berbuat yang benar...dan yang terbaik.
BAB 13: BADAI KERAGUAN
1. Dimana Allah kalau dunia-Nya diguncang angin ribut? Setiap kali angin ribut datang, saya memandang ke langit yang makin gelap, saya katakan, "Tuhan, tolong berikan sedikit terang".
2. Terang Allah di dalam malam-malam gelap kita sama banyaknya dengan bintang-bintang di langit, asalkan kita mencarinya.
3. Terang yang lemah lembut. Solusi Tuhan untuk badai keragu-raguan. Kilap-kilap berbintik emas yang membawa nuansa keemasan harapan ke dalam kegelapan. Bukan sambaran kilat. Bukan ledakan terang. Hanya terang yang lemah lembut.
BAB 14: MUJIZAT SANG TUKANG KAYU
1. "Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri" (Matius 14:23). Apa yang Yesus impikan untuk dibuat dan apa yang rupanya dapat Ia buat terpisah satu dengan yang lain oleh kesenjangan yang tidak mungkin dijembatani.
2. Mungkin Ia mengangkat kepala-Nya keluar dari kekacauan dunia cukup lama untuk mendengar solusi sorgawi. Mungkin Ia diingatkan bahwa hati yang degil tidak mengganggu Sang Bapa. Bahwa orang sulit tidak mengusik Dia yang kekal. Kita tidak tahu apa yang Ia buat atau katakan. Tetapi kita tahu hasilnya. Bukit itu menjadi batu loncatan, badai itu menjadi jalan.
3. Yesus tidak berusaha menyelesaikan sendiri. Mengapa Anda harus?
BAB 15: HIKMAT TUKANG POTONG KAYU
1. Penilaian yang baik menuntut adanya gambaran yang luas. Satu kegagalan tidak membuat seseorang menjadi kegagalan total; satu prestasi belum membuat seseorang berhasil.
2. Yang Anda tahu hanyalah sepotong. Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu.
3. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.
4. "Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri" (Matius 6:34).
5. Ia yang paling tahu. Ia menulis cerita kita. Dan Ia sudah menulis bab terakhir.
BAB 16: PERATURAN-PERATURAN MENARA API
1. Peraturan menara api mengandung lebih dari hanya ide bagus, kesukaan pribadi, dan pendapat yang jujur. Mereka merupakan kebenaran pemberian Allah yang sudah diuji oleh waktu dan menetapkan alur yang Anda harus pilih dalam hidupmu. Kalau Anda menaatinya, Anda akan menikmati perjalanan yang aman. Anda mengabaikannya, maka Anda akan terhempas atas batu karang realitas.
2. Dekati kehidupan ini seperti perjalanan di atas kapal layar. Nikmati pemandangannya. Jelajahilah kapal itu. Bersahabatlah dengan kapten. Memancinglah sedikit. Kemudian, turunlah kalau sudah sampai di rumah.
BAB 17: IA BERBICARA DARI DALAM BADAI
1. Ia berbicara dari dalam badai dan ke dalam badai, sebab disitulah Ayub berada. Disitulah Allah terdengar paling baik. Suara Allah menggelegar di ruangan. Elihu jatuh terduduk. Ayub bangun terduduk. Dan mereka berdua tidak akan sama lagi seperti dulu.
2. Allah tidak berhutang kepada siapapun. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan. Tidak ada bantuan. Tidak ada kebaikan yang harus dibalas. Maka fakta bahwa Ia memberi segala sesuatu kepada kita menjadi lebih menakjubkan.
3. Allah tidak pernah dibuat kesal oleh lilin pencari yang jujur.
4. "Aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (Ayub 42:5). Ayub melihat Allah--dan itu sudah cukup. Tetapi belum cukup bagi Allah. Dalam tahun-tahun mendatang, Ayub dengan kesehatan yang sudah pulih dan keuntungan yang bertambah. Ia mempunyai anak-anak lagi dan cucu-cucu dan buyut--empat generasi.
5. Allah memberi kepada Ayub lebih daripada yang pernah diimpikan Ayub. Allah memberi Diri-Nya.
BAB 18: PERMENUNGAN PEZIARAH
1. "Ketika Ia sedang berdoa", tulis Lukas, "rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan". Untuk satu saat kemilau, beban kemanusiaan-Nya terangkat. Perjalanan berdebu dan hati yang keras jauh dari tempat ini. Dia yang letih diingatkan bahwa keletihan itu akan berlalu.
2. Dari kedalaman awan itu, Bapa berbicara: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia" (Matius 17:5). Dia yang sudah hilang semangat diperkokoh kembali. "Apa yang dipikir manusia tidak penting", Allah berseru, "Yang Aku pikir, itu penting".
3. Ia adalah Bapa--pada perjalanan panjang di tempat yang dingin. Ia diberi--seperti mereka, seperti kita--sekilas dari rumah. Dan mimpi hari esok menjadi keteguhan hari ini.
BAB 19: BADAI KITA, JALAN DIA
1. Malam itu ganas sekali, namun Ia berbicara seakan-akan laut itu tenang dan langit diam.
2. Petrus turun dari perahu dan melangkah ke atas air. Jalan ke Yesus ini merupakan pita ketenangan. Damai. Hening. Yesus memancarkan terang di ujung jalan. Tersenyum.
3. Bahaya bagi kami, bagi Dia hanya jalan memutar.
4. Ada saat-saat dalam hidup seseorang ketika ia menyadari bahwa ia tidak akan sama lagi seperti dulu, bahkan di tengah-tengah pengalaman itu. Saat-saat yang berfungsi sebagai tonggak perjalanan untuk selama-lamanya.
5. Saya melihat Allah. Allah yang tidak dapat diam kalau badai itu terlalu ganas. Allah yang membiarkan saya menjadi cukup takut sehingga membutuhkan Dia, lalu datang cukup dekat agar saya dapat melihat Dia. Allah yang menggunakan badai-badaiku sebagai jalan-Nya untuk datang kepadaku.
BAB 20: AKAN MEREKA BUAT LAGI
1. Akan mereka buat lagi. Saya yakin itu. Murid-murid akan naik perahu yang sama lagi dan berdayung di dalam badai. Mengapa? Sebab melalui badai mereka melihat sang Juruselamat.
2. Kalau Anda mengenal Allah sebagai Pencipta, Anda akan mengagumi Dia. Kalau Anda mengenal kebijaksanaan-Nya, Anda akan belajar dari Dia. Kalau Anda menemukan kekuatan-Nya, Anda akan mengandalkan Dia. Tetapi hanya kalau Ia menyelamatkan, Anda akan memuja Dia.
3. Dan sejak saat itu, Ia bukan hanya ilah untuk dikagumi, guru yang diamati, atau tuan yang harus dipatuhi. Ia adalah sang Juruselamat. Penyelamat yang harus dipuja.
4. Satu musim dengan penderitaan harga yang tidak tinggi untuk mendapat pandangan dari Allah.