“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang ” (Amsal 13:20)
“Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri” (Amsal 22:24-25)
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (I Korintus 15:33)
3 ayat di atas berbicara tentang friendship, tentang pergaulan. Seberapa penting sih pengaruh pergaulan bagi kita? Aku pernah mendengar kata- kata ini “Kalau kamu ingin tau masa depanmu, tunjukkan padaku teman- temanmu”. Waw, serem yah? Pernyataan itu berarti bahwa teman- teman kita, juga mempengaruhi masa depan kita. Sebesar itulah pengaruh pergaulan bagi kita, oleh karena itu, penting banget untuk memilih teman dalam bergaul.
Dalam note ini, aku membagi kriteria teman menjadi 3 bagian, yaitu teman biasa, teman dekat, dan sahabat. Teman biasa adalah orang- orang yang hanya kita ketahui namanya dan beberapa fakta tentang mereka. Teman biasa adalah teman- teman di sekolah, kampus, kantor, ato komunitas kita. Ketika kita bertemu dengan mereka, kita hanya say hello. Teman dekat adalah orang- orang yang kita kenal, kita tau apa hobinya, makanan kesukaannya, keluarganya. Kita pergi bersama mereka, bercanda bersama mereka, mengobrol, bekerjasama. Kita saling menceritakan sedikit tentang kehidupan kita kepada mereka. Sedangkan sahabat adalah orang yang benar- benar kita kenal secara pribadi, orang yang kita percayai, orang yang bisa kita andalkan, orang- orang yang spesial. Pada umumnya, kita memiliki banyak sekali teman biasa, banyak teman dekat, namun beberapa sahabat. Sahabat inilah yang kita ijinkan berada di “lingkaran dalam” kita, yaitu orang yang mengenal kita sesungguhnya, tau dan memahami hal- hal yang kita alami. Mereka adalah orang- orang yang kita ajak berbagi.
Beberapa waktu terakhir ini, aku belajar banyak hal tentang lingkaran dalam. Aku adalah orang yang nggak gampang untuk dekat dengan orang lain, apalagi aku bukanlah orang yang populer. Aku cuma punya beberapa teman dekat, dan hanya 3 sahabat. Aku juga orang yang tertutup, sehingga aku jarang menceritakan hal- hal pribadi ke orang lain.
Desember tahun lalu, aku kehilangan seorang yang sangat berharga dalam hidupku. Seorang yang mendukungku secara rohani selama 5 tahun terakhir. Di saat yang hampir bersamaan, aku juga kehilangan seorang sahabat. Hal itu membuat aku goyah, terutama karena masa-masa itu aku sedang mengalami pergumulan yang sangat berat. Namun aku berusaha untuk bertahan. Mungkin karena aku kesepian, aku mulai dekat dengan beberapa orang. Aku yang biasanya cukup pemilih dalam berteman, kali ini tidak begitu “cerewet”. Setelah sekian waktu, aku menyadari bahwa kehadiran mereka dalam hidupku membawa dampak yang negatif. Mereka bukan orang jahat, namun mereka juga bukan orang baik. Mereka selalu berusaha berbuat baik, namun apabila hal itu tidak menguntungkan mereka, mereka akan melakukan apapun untuk diri mereka sendiri.
Disitulah aku menyadari, betapa pentingnya untuk menjaga pergaulan sedemikian rupa, terutama lingkaran dalam. Aku belajar, lebih baik aku nggak punya sahabat, daripada aku bersahabat dengan orang yang tidak memikirkan kebaikanku. Aku semakin menyadari betapa pentingnya memiliki sahabat yang seiman, yang sungguh- sungguh mencintai Yesus. Sehingga bisa saling mendukung dan mendoakan. “Jangan bersahabat hanya karena kamu butuh teman, tapi bersahabatlah karena kamu ingin saling membangun”. Kalimat inilah yang sampai hari ini aku pegang. Aku butuh teman, tapi lebih dari itu, aku butuh sahabat, yang mau berbagi suka dan duka bersama aku. Sahabat yang menerimaku apa adanya, bukan menerimaku hanya ketika aku baik- baik saja. Sahabat yang bersedia memberikan bahunya untuk aku menangis.
Thanks buat sahabat-sahabat terbaikku. Walaupun kalian nggak selalu di sampingku, aku tau bahwa kalian selalu ada untukku. Seperti aku selalu ada untuk kalian. GBU, my best friends ^^
No comments:
Post a Comment