Judul
di atas mungkin kesannya aneh dan mengherankan. Mengapa seorang Lucy yang punya
blog en udah menulis sekian tulisan
bisa ngasi judul kayak itu? Mungkin ini sangat mengejutkan kalian yang
membacanya, namun itulah pertanyaan yang kerap kali muncul di hatiku.
“Apakah menjadi penulis adalah panggilan hidupku? Apakah aku akan bekerja menjadi seorang penulis? Apakah penulis adalah destiny yang Tuhan berikan bagi hidupku? Mungkinkah?” Sejujurnya, dalam hati kecilku, aku berkata, “I don’t think so. It’s impossible”. Secara gamblang aku berteriak dalam hatiku, “Aku nggak mau jadi penulis! Nggak mau!”
Fiuuuuhhh… Punya sebuah blog en menulis sekian tulisan, nggak berarti aku punya keinginan untuk jadi penulis. Nggak pernah kepikiran sama sekali di otakku. Nggak pernah ada niat di hatiku. Nggak pernah. Trus blog ini lahir dari mana? Tulisan-tulisan yang ada di blog ini siapa yang nulis? Oke, emang aku yang nulis. Tapi semuanya bukan dari aku. Ada yang dari summary kotbah, dari buku, dari kisah hidupku, atau dari kejadian-kejadian yang aku alami. Tapi inspirasinya dari mana? Entahlah, yang jelas bukan aku. Menurutku, aku hanya menulis apa yang ada di otakku, yang Roh Kudus ajarkan ke aku, ditambah refleksi-refleksi pribadi.
Awalnya aku bikin blog ini 100% murni karena iseng. ISENG. Bukan karena niat ato suka nulis. Cuma iseng aja, pengen supaya apa yang aku pernah pelajari di kehidupan ini, nggak mudah ilang gitu aja. Nggak mungkin kan kalo otakku bisa mengingat semua kejadian yang terjadi di hidupku atupun semua hal yang Tuhan ajarkan ke aku. Jadi blog ini awalnya hanyalah sebuah jurnal pribadi seorang Lucy. Nggak ada niat untuk dipakai jadi penginjilan atau untuk memberkati orang lain. Lalu, aku pengen share aja ke temen-temen dekatku, aku mulai kasi link blog ini ke mereka. Se-simple itu. Makanya aku nulis “Blog ini dibuat sebagai jurnal dari apa yang dipelajari oleh penulis dalam kehidupan. Bagaimana penulis belajar dari setiap kesalahan dan kejadian dalam hidupnya, serta dituntun oleh Roh Kudus untuk semakin serupa dengan Penciptanya. ” sebagai deskripsi akan blog ini.
Lama-lama Roh Kudus ngasi aku inspirasi en passion untuk nulis ini itu. Pas malem-malem en nggak bisa tidur, kadang aku nanya hal-hal yang aku nggak ngerti ke Tuhan, ngobrol en cerita apa yang aku alami. Tiba-tiba aja Tuhan ngajar sesuatu ke aku en cliiiinnnggg, aku post ke blog en jadi sebuah tulisan. Aku nggak peduli sama sekali, apakah tulisan-tulisanku bisa memberkati orang lain ato nggak. Karena ini jurnal pribadiku. Ini perjalananku sama Tuhan. Ini kisah jatuh bangun, suka duka, hancur en bangkit dari seorang aku.
Waktupun berlalu (walah). Sampai di suatu waktu, Tuhan bilang kalo ini adalah kepercayaan baru yang Dia kasi ke aku sebagai ganti dari karunia inner healing yang sudah berakhir. Lalu seorang teman baikku bilang ke aku dengan terkejut kalo dia nggak nyangka bahwa aku serius dengan blog ini. Temanku yang lain bilang kalo jadi penulis adalah ide yang hebat en dia tanya, kapan aku nerbitin buku. Buku? Yang bener aja, nulis skripsi aja nggak kelar- kelar.
Ingatanku kembali ke beberapa tahun lalu, saat pertama kali aku nulis summary kotbah en nge-post ke note facebook (sekitar Mei 2010). Trus entah gimana, ada seorang temen yang share tulisanku itu ke mami rohaniku. Lalu waktu itu, mami rohaniku sms aku en bilang kalo dia diberkati dengan tulisanku itu, dia bilang kalo aku punya karunia menulis. Dia berpesan sama aku supaya aku mengembangkannya en bisa bersikap dengan benar kalo ada yang ngeritik. Dalam hati, aku bingung en nggak percaya sama apa yang mami rohaniku bilang (I’m sorry, mi). Aku mikir, kotbah itu aku tulis kayak yang dikotbahin, aku tulis yang bisa aku tangkap en apa yang aku perlukan waktu itu (yah, waktu itu aku lagi bergumul hebat dengan sesuatu). Bisa memberkati? Puji Tuhan! Tapi itu kan bukan aku yang bikin, aku hanya nulis summary-nya. Trusss, anak rohaniku bilang kalo dia bisa membayangkan bahwa aku bakal jadi penulis buku di masa depan. Salah seorang pemimpinku bilang kalo ntar di masa depan aku bakal jadi penulis. Apa-apaan sih ini? Kapan aku pernah bilang kalo aku mau jadi penulis? *bingung setengah mati*
Di saat-saat mengerjakan skripsi, aku juga semakin bertanya-tanya, “Apa bener bahwa destiny-ku adalah penulis? Apa ini jalan yang Tuhan mau buat aku?” Aku belum dapat jawaban yang pasti tentang destiny-ku, tapi beberapa orang en beberapa kotbah seolah-olah meneguhkan hal itu. Berkali-kali aku putus asa untuk menulis. Ngerasa nggak mampu en nggak layak. Sempet juga pengen membuktikan ke diriku en Tuhan, bahwa aku bukanlah seorang penulis. Aku pengen buktikan ke Tuhan kalo aku nggak bisa nulis dengan baik, apalagi memberkati orang lain. Aku belum punya gaya penulisan, aku nggak ngerti sistematika penulisan en bla bla bla.
Pernah juga pengen hapus blog ini en mengakhiri semua hal tentang tulis menulis. Saat itu, aku mencoba membaca tulisan-tulisanku yang pertama-tama aku tulis en aku nangis dijamah Tuhan. Aku terkejut baca tulisanku sendiri en nggak ngerasa pernah nulis hal-hal itu. Bahkan kadang aku ngerasa diberkati dengan tulisanku sendiri. Huuuwwwaaaaa.
Akhirnya, aku memutuskan untuk nggak ngehapus blog ini. Biarin deh, ke depan mau gimana. Aku nggak terlalu peduli. Yang penting, blog ini bener-bener aku pakai jadi jurnal pribadiku. Mau ada yang diberkati, mau ada yang nggak suka, mau ada yang ngeritik, TERSERAH. Aku hanya tau satu hal: ENTAH MENULIS ADALAH PANGILAN HIDUPKU ATAU BUKAN, AKU MAU MENGERJAKAN APA YANG SAAT INI DIA PERCAYAKAN DALAM HIDUPKU.
You are forever in my life
You see me through the season
Cover me with Your hands
And lead me in Your righteousness
And I look to You
And I wait for You
I’ll sing to You Lord, a hymne of love
I’ll sing to You Lord, a hymne of love
For
Your faithfulness to me
I’m
carried in everlasting arms
You’ll
never let me go, through it all
(Through it all)
No comments:
Post a Comment