August 27, 2012

BENIHKU MUNGKIN BURUK, TAPI AKU TIDAK AKAN BIARKAN BUAHKU JUGA BURUK


Sewaktu kita menaburkan benih yang buruk di tanah (contohnya benih buah yang masam), maka yang dihasilkan oleh benih itu tentunya buah yang masam pula. Kita tau dengan jelas bahwa apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai nantinya. Setiap hal baik yang kita tabur, akan kita tuai. Demikian pula akan setiap hal buruk yang kita tabur, maka akan kita tuai juga.
           
Hal itu nggak akan jadi masalah kalo hanya berhubungan dengan tanaman. Tapi, gimana kalo hal itu kita kaitkan dengan kehidupan kita? Kalo hanya masalah menabur dan menuai, tentu kita bisa milih untuk menabur hal-hal yang baik dalam hidup kita. Tapi, gimana kalo akar masalahnya adalah benih yang di dalam hidup kita adalah benih yang buruk, dari nenek moyang kita? Hal itu tentunya merupakan hal yang diluar kendali kita. Kita nggak bisa memilih untuk berada di keluarga yang silsilahnya baik atau buruk. Kalo aja kita bisa memilih, pastilah setiap kita akan memilih untuk berada di silsilah keluarga yang baik tanpa cacat.
            
Namun, jika kita tidak seberuntung itu, dalam arti kita berada dalam silsilah keluarga yang cacat, bahkan rusak parah, gimana donk? Apakah itu berarti nggak ada harapan? Bukankah kita memang tidak memiliki kendali untuk memilih silsilah keluarga kita? Bahkan terlebih lagi, bukankah kita tidak memiliki kuasa untuk mengubah masa lalu? Lalu bagaimana dengan “buah”-ku nantinya, apakah karena benihku cacat, maka aku akan menghasilkan buah yang cacat pula?

Aku dilahirkan di tengah keluarga besar yang nggak mengenal Tuhan, ibarat jaman hakim-hakim, setiap orang hidup menurut apa yang mereka anggap  benar (Hakim-hakim 17:6). Beberapa orang dari saudara sepupuku ada yang ke gereja, tapi mereka belum mengenal Kristus secara pribadi. Pohon keluargaku menghasilkan orang-orang yang hidup tanpa tujuan, mengejar kesenangan semu, dan mati dalam kesia-siaan. Mereka hidup dengan semaunya sendiri, tanpa mengerti akan adanya hukuman bagi orang berdosa dan upah bagi orang benar. Pada saat aku mengetahui fakta tersebut, aku merasa tidak memiliki harapan.
            
Puji Tuhan, karena di dalam Yesus ada kuasa pemutarbalikan. II Korintus 5:17 mengatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”. Bukankah ini menimbulkan harapan baru di dalam hati kita? Berarti, walaupun benihku buruk, aku bisa dipulihkan dan menghasilkan buah yang baik. Yup, itu benar. Nggak bisa dipungkiri bahwa benih kita dari nenek moyang mampu mempengaruhi kita, namun adaah keputusan kita apakah kita akan mengambil langkah yang sama buruknya dengan mereka atau tidak. Kita diberi kuasa untuk memulai lagi sebuah permulaan yang baru ketika kita bertobat dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita.
            
Yesuspun pada saat di dunia ini, dilahirkan dalam silsilah yang sangat kacau. Kehidupan nenek moyang Yesus dipenuhi dengan pemberontakan, penyembahan berhala, pembunuhan, dan sebagainya. Dia tidak memiliki silslah keluarga yang baik maupun sempurna. Dia pun “dilahirkan” dalam benih yang rusak dan berdosa. Apakah Dia putus asa? TIDAK! Justru disitulah kesempatan-Nya untuk memutarbalikkan semua keadaan yang buruk menjadi baik. Justru di balik semua kelemahan para nenek moyang-Nya, Dia melakukan karya yang indah. Dia melakukan penebusan yang sempurna di dalam DNA manusia yang cacat dan penuh cela.
            
Seperti yang kita tahu, dalam silsilah Yesus di Matius 1, disebutkan nama 5 wanita. Pada umumnya, orang Israel tidak pernah menyebutkan nama wanita dalam silsilah keluarga. Tapi, entah mengapa dalam silsilah Yesus disebutkan nama 5 wanita. Dan wanita-wanita itu mengungkapkan seperti apa kehidupan mereka. Tamar— seorang wanita yang menipu mertuanya sendiri untuk memperoleh keturunan. Rahab—seorang pelacur yang menyembunyikan pengintai yang disuruh oleh Yosua. Rut— seorang  Moab, orang yang ditolak masuk dalam jemaah Tuhan. Batsyeba— istri Uria yang berzinah dengan raja Daud. Hanya Maria—yang arti namanya adalah pahit— yang tidak memiliki reputasi buruk.

Untuk apakah nama-nama para wanita itu disebutkan dalam silsilah Yesus? Aku nggak tahu dengan pasti. Namun, aku berspekulasi, bahwa mungkin ada 2 tujuan yang Tuhan mau. Pertama, untuk memberi harapan kepada kita yang memiliki silsilah kelaurga yang buruk. Kedua, untuk membuktikan bahwa kuasa-Nya sanggup untuk memulihkan setiap orang berdosa sehingga mereka bisa masuk dalam kasih karunia Allah.

No comments: