Ketika Tuhan “menghancurkan” semua impian akan masa depan yang kubangun, kemudian memberiku sebuah panggilan yang tak pernah muncul di otakku, jujur saja aku kecewa. Aku merasa seperti seorang anak kecil yang istana pasirnya lenyap diterjang ombak di tepi pantai. Sedih, tau bahwa istana itu tak mungkin dibangun lagi dalam waktu semenit. Sedih, mengingat betapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk membangun istana pasir tersebut.
Namun, aku mengingat bahwa diriku hanyalah debu, yang akan hilang ditiup angin ketika waktuku telah tiba. Tak ada gunanya aku mempertahankan impianku jika Sang Pencipta memiliki tujuan lain bagiku. Tak ada artinya berdebat dengan sang Penulis hidupku, karena kutahu Dia menuliskan kisah yang terbaik bagiku. Tak ada gunanya kecewa, marah, ataupun protes. Aku ingat apa batas umurku, oleh karena itu aku memilih untuk memutar haluan, yaitu menerima takdir baruku sebagai seorang penulis. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).
Aku belajar menyukai apa yang Dia sukai, belajar menghargai apa yang Dia telah percayakan ke dalam tanganku, belajar mengembangkan bakat dan talenta yang Dia titipkan padaku. Setapak demi setapak, aku mulai melangkah dalam takdirku, sebuah perjalanan yang sungguh tak mudah bagiku. Tantangan pertama muncul ketika aku menyadari bahwa diriku masih begitu “hijau” dalam bidang tulis menulis.
Awalnya, aku ragu untuk melangkahkan kakiku di dunia baruku ini, khawatir apakah panggilan ini benar-benar sesuai dengan apa yang Dia rancangkan bagiku, berpikir apakah panggilan ini dapat menghidupiku, takut akan kegelapan yang ada di depanku, tak tau arah mana yang harus kutempuh. Sebagai penulis amatir, apa yang bisa kuharapkan? Pengalaman bukanlah sesuatu yang aku simpan dalam karung kehidupanku, toh selama ini aku hanya menulis sebuah blog pribadi, bukan menulis di surat kabar ternama, ataupun renungan harian populer. Langkah awal apa yang harus kuambil, apakah melamar pekerjaan di media cetak ataukah di media elektronik ataukah di gereja? Arah mana yang harus kutempuh, apakah menjadi penulis sekuler atau penulis rohani? Aku belum tau.
Aku tak tahu seberapa tinggi tangga yang harus kunaiki untuk benar-benar menjadi seorang penulis. Aku tak tahu berapa penghasilan yang akan kuterima tiap bulannya, dan sanggupkah semua itu mencukupi berbagai macam keperluanku. Aku tak paham, apa saja yang kubutuhkan untuk memulai karirku di bidang asing ini. Aku tak mengerti, apa saja yan harus kupelajari, apa saja yang harus kusiapkan, apa saja yang perlu kugali.
Namun satu hal yang semakin menguatkanku dari hari ke hari. Damai sejahtera-Nya menuntunku dari setiap ide demi ide, hingga lahirlah tulisan demi tulisan di blog pribadiku. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Aku paham benar bahwa damaisejahtera bukanlah sesuatu yang bisa manusia usahakan sendiri, bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang, bukanlah sesuatu yang bisa direka-reka. Damai sejahtera yang sejati hanya berasal dari Tuhan itu sendiri. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yohanes 14:27).
Aku percaya, Bapa yang mengasihiku, yang telah meletakkanku di jalur ini, telah menyediakan jalan bagiku. Dia juga yang akan memelihara hidupku, menuntun setiap langkahku, bahkan setiap huruf demi huruf, kata per kata, kalimat demi kalimat, hingga menghasilkan sebuah tulisan yang indah dan memuliakan Dia. Dia yang akan menunjukkan kesempatan demi kesempatan, membukakan pintu demi pintu, memberikan harapan demi harapan bagiku. Aku percaya bahwa aku tidak akan pernah kekurangan jika aku berjalan dalam track-Nya, itu imanku.
Disinilah aku berada saat ini, di persimpangan antara impianku dan impian-Nya. Memutar haluan hidup tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kerelaan hati, iman yang teguh, serta lutut yang selalu bertelut di hadapan-Nya. Aku mau belajar menaruh hidupku dalam tangan-Nya, belajar mempercayai-Nya dalam setiap keputusan yang Dia ambil, belajar mengerti hati-Nya di bidang yang harus kujalani. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Bagiku, iman adalah berani melangkah ketika Dia menyuruhku melangkah dan percaya bahwa Dia akan melakukan yang terbaik bagi hidupku.
Ini aku, smua milikku
Kuserahkan pada-Mu Tuhan
Penyesalan dan kebanggan
Suka dan duka, smua kuserahkan
Yang tlah lalu, yang kan datang
Asa dan harapan yang terbayang
Masa dpan dan rencanaku
Smua kuserahkan dalam tangan-Mu
Reff: Kupersembahkan hidupku kepada-Mu Tuhan
Tuk kemuliaan-Mu
Kuberikan hidup ini sbagai persembahan
Yang berkenan bagi-Mu
Oct 9th 2012
2:04 pm
Ditulis sebagai bukti penyerahan diri penulis kepada Tuhan
No comments:
Post a Comment