October 6, 2012

MENDAKI GUNUNG, MENGGAPAI ASA


Malam-malam ketika aku sulit tidur merupakan malam-malam yang cukup menyiksa namun membuka paradigmaku terhadap sesuatu yang baru. Semalam (3 Oktober 2012), aku capek banget dan berencana untuk tidur lebih awal (sekitar jam 9 malam), tapi ternyata mata ini nggak bisa terlelap. Disitulah Tuhan mengajarkan sesuatu kepadaku.

Aku di-flashback ke masa-masa sebelum aku bertobat, dimana aku suka berpetualang. Aku sempat beberapa kali mengikuti kegiatan hash (naik gunung). Buat aku, kegiatan seperti itu sangatlah seru dan menantang. Kegiatan tersebut diadakan di hari minggu (aku belum bertobat waktu itu, jadi tiap minggu nggak pernah ke gereja :P).

Setiap perjalanan dimulai dari bawah dan diakhiri di bawah. Setiap kali, selalu disediakan 3 rute, yaitu rute pendek, menengah, dan panjang. Rute panjang adalah rute dimana para pendaki dibawa ke puncak gunung, kemudian turun lagi. Sedangkan rute pendek dan menengah, para pendaki hanya dibawa naik hingga jarak tertentu saja. Karena waktu itu aku masih remaja (sekitar umur 14 tahun), papaku nggak pernah ngijinkan aku untuk ikut rute panjang, takut kalo aku nggak kuat. Jadi, aku selalu menempuh rute pendek dan menengah saja. Semalam, Tuhan mengingatkan aku tentang hal itu dan mengajariku beberapa hal.

Pertama, mendaki gunung merupakan sebuah perjalanan, seperti layaknya kehidupan. Ada tujuan yang kita ingin capai, namun kita harus menyadari batas kekuatan kita. Seringkali kita memiliki harapan yang terlalu tinggi, namun kita kurang menyadari kemampuan dan kesanggupan kita. Sehingga ketika kita nggak bisa mencapai tujuan kita, kita menjadi kecewa dan putus asa. Di sepanjang perjalanan kehidupan, kita nggak pernah sendiri, Tuhan selalu memberikan orang lain untuk ada bersama kita. Entah orang tersebut adalah orang yang berjalan di depan kita namun kehabisan tenaga dan akhirnya berjalan perlahan-lahan. Ada orang yang berjalan di belakang kita, namun di suatu waktu orang tersebut mengejar kita dan meninggalkan kita di belakang. Dan ada juga orang yang selalu setia di samping kita untuk menemani kita di sepanjang perjalanan kita hingga kita mencapai garis akhir.

Aku ingat ketika aku ikut hash, dalam perjalanan mencapai garis akhir, selalu ada orang-orang yang awalnya di belakangku dan mengejar ketinggalan. Ketika orang-orang tersebut berjumpa denganku, orang-orang tersebut memberi semangat kepadaku dengan beberapa patah kata, kemudian mereka melesat di depan. Walaupun nggak dapat disangkali bahwa ada beberapa orang yang tidak mengucapkan sepatah katapun ketika melewatiku. Ada juga orang yang sudah start lebih dulu daripada aku, namun di tengah perjalanan mereka kelelahan dan berjalan perlahan hingga aku bertemu dengan mereka. Orang-orang itu seringkali bercerita kepadaku, bagaimana perjalanan mereka hingga akhirnya mereka terjatuh, kelelahan, ataupun kehabisan nafas, sehingga akhirnya mengurangi kecepatan mereka. Namun, ada juga orang yang selalu ada di sampingku (yaitu papaku), yang selalu membantuku ketika aku terpeleset, yang menunggu aku ketika au kehabisan nafas dan butuh istirahat, dan yang menggandeng tanganku ketika aku nggak bisa mendaki tanjakan yang terlalu tinggi.

Coba hari ini kita cermati, pasti ada orang-orang seperti itu yang Tuhan letakkan dalam kehidupan kita. Siapapun mereka, apapun peran mereka dalam kehidupan kita, bersyukurlah untuk keberadaan mereka. Bersyukurlah untuk orang-orang yang telah berjalan di depan kita dan memperlambat langkah mereka, sehingga mereka bisa berbagi pengalaman mereka dengan kita. Pakailah nasihat dan pengalaman mereka sebagai bekal untuk perjalananmu selanjutnya. Bersyukurlah untuk orang-orang yang awalnya di belakang kita, namun mereka melesat ke depan dan memberi kita semangat. Jadikan semangat mereka sebagai kekuatan untuk kita mencapai garis akhir. Bersyukurlah untuk orang-orang yang selalu setia di samping kita untuk menolong kita kapanpun kita butuhkan. Ingatlah, bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri di dunia ini, dan jangan lupakan mereka ketika kita telah berhasil mencapai finish.

Kedua, dalam setiap rute selalu ada petunjuk yang diberikan agar kita tidak tersesat. Ketika aku hash, kami selalu mencari petunjuk berupa sobekan kertas warna-warni yang disebarkan oleh panitia. Walaupun perjalanan terkadang begitu berat, kami merasa lega ketika kami melihat petunjuk tersebut, karena hal itu menandakan bahwa kami nggak tersesat. Demikian pula dengan kehidupan. Tuhan yang merancang kehidupan kita, selalu memberikan petunjuk agar kita tidak tersesat. Di sepanjang perjalanan kehidupan, Dia nggak pernah membiarkan kita berjalan tanpa arah. Bahkan ketika kita merasa bahwa jalan hidup kita nggak jelas, kita selau bisa mencari petunjuk-Nya melalui doa.

Namun, terkadang kita lengah en nggak peka dengan tanda-tanda yang Dia berikan sebagai petunjuk hidup kita. Seringkali kita berjalan menggunakan pengalaman kita di masa lalu, atau dengan perasaan kita. “Ehm, kayaknya jalan ini bener deh”. Dan ketika kita berjalan, ternyata jalan itu adalah jalan yang salah. Oleh karena itu, kita harus belajar untuk peka dengan petunjuk yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita. Jangan jadi orang yang sok pintar atau sok berpengalaman, kemudian tersesat sendiri.

Ketiga, selalu ada pribadi yang ditugaskan untuk menjadi penolong dan penunjuk jalan. Dulu, ketika aku hash, di tengah perjalanan selalu ada orang yang ditugaskan oleh panitia untuk berdiri di tempat-tempat tertentu untuk menolong orang yang mengalami cedera, terjatuh, atau membantu orang untuk mendaki ke tempat yang sulit. Orang tersebut juga bertugas untuk menjadi petunjuk jalan yang akan mengarahkan setiap peserta ke arah yang benar. Dalam kehidupan kta, Tuhan memberikan Roh Kudus untuk menjadi penolong kita. Setiap saat ketika kita membutuhkan bantuan, Dia selalu siap sedia. Ketika kita terjatuh, Dia selalu siap menopang tangan kita. Ketika kita kehilangan arah dan tidak “melihat” petunjuk yang Tuhan berikan, Roh Kudus yang berbicara kepada kita serta menunjukkan arah yang tepat. Roh Kuduslah yang selalu berjaga-jaga untuk mengawasi agar kita tidak tersesat dalam kehidupan ini.

Tiga hal yang sederhana, namun maknanya mendalam. Inilah yang aku pahami sungguh-sungguh, yaitu Tuhan yang memberikanku kehidupan, ingin agar aku selalu mencapai garis finish. Dia tidak ingin aku tersesat, menyerah, maupun terhilang. Dia ingin agar aku tetap berjuang sampai garis akhir, walaupun aku sempat terjatuh, tersandung, maupun terpeleset. Dia ingin mengajarkan kepadaku, bahwa setiap goresan, luka, maupun keringat yang ada, nggak boleh membuat aku menyerah. Diperlukan perjuangan dan tekad yang kuat untuk mencapai garis akhir. Dan semua itu hanya dapat dicapai apabila aku berjalan bersama Dia.

Oct 4th 2012
3:05 pm

No comments: