Aku udah lama banget ikut CG (connect group). Udah terbiasa dengan
suasana akrab dengan para anggota CG, udah sering pergi bareng sambil
makan-makan, ngerayain ultah para anggota CG, sharing tentang apa aja yang terjadi dalam hidup, dan sebagainya.
Saking uda lamanya en udah terbiasanya, sampai-sampai aku udah nggak ngerasa
kalo semua itu anugerah. Wew!
Aku baru disadarkan dari “tidur panjangku” pas sabtu lalu CG-ku pergi bareng ke Foodfest. Waktu itu, aku ngajak laoshi untuk join. En laoshi dengan senang hati join. Karena keterbatasan kosakata bahasa mandarin, akhirnya aku nggak tau mau ngajak ngomong laoshi dengan topik apa. Beruntung banget ada anggota CG yang bisa bahasa mandarin. Yey!
Waktu itu, laoshi ngeliat keakraban kami (yang menurutku biasa itu tadi) en tercengang. Dia tuh asalnya dari Guangxi, China. Tinggal di Indonesia sekitar 4 tahun en temen-temennya mayoritas para laoshi. Dia punya beberapa temen orang Indo, tapi nggak begitu banyak ato akrab. Disitulah aku baru nyadari betapa beruntungnya diriku karena aku punya CG *sigh*
Laoshi sempet bilang kalo dia pengen punya temen-temen yang bisa saling sharing, karena dia nggak punya. Ternyata oh ternyata, aku baru tau kalo laoshi ini cukup kesepian. Dari luarnya, dia tuh keliatan fun, nggak ada masalah dengan keberadaannya di Indo walopun dia nggak begitu fasih berbahasa Indonesia. Ternyata di hatinya tersimpan sebuah makhluk bernama kesepian.
Aku jadi merenungkan banyak hal. Udah berapa lama aku ikut CG en berapa kali aku bersyukur dengan keberadaan temen-temen CG-ku? Apakah aku pernah berpikir betapa beruntungnya aku memiliki mereka? Apakah aku pernah ngerasa betapa butuhnya manusia akan sebuah komunitas? Mungkin pernah, tapi nggak bener-bener sadar. Kalo diinget-inget, aku lebih banyak mengeluh daripada bersyukur tentang CG. Upsss. Mungkin aku lebih sering ngerasa biasa aja daripada berpikir, “WAOW, aku nggak sendirian di dunia ini karena aku punya komunitas yang support aku”.
Mungkin hal yang udah terlalu biasa ini emang nggak baik. Kadang kita emang perlu sedikit digoncang supaya sadar akan anugerah yang kita miliki. En aku menyadari hal itu setelah digoncangkan oleh pernyataan yang keluar dari mulut laoshi, orang yang nggak pernah kubayangkan akan ngomong kayak gitu.
Thanks laoshi, melalui perkataan laoshi aku disadarkan bahwa aku adalah manusia yang beruntung di dunia ini. Tanpa sadar, aku menganggap sesuatu yang bagi laoshi adalah hal luar biasa sebagai hal yang biasa. Tanpa sadar, aku udah lama nggak bersyukur secara sungguh-sungguh untuk kehadiran anggota CG-ku.
Thanks Tuhan buat keberadaan en kehadiran mereka-mereka yang kadang bikin emosi, yang kadang-kadang bikin ketawa, yang kadang-kadang bikin aku kepikiran. Thanks udah nempatin aku di antara mereka. Thanks udah kasi aku kesempatan untuk menjadi manusia yang memiliki komunitas di dalam Kristus.
2 comments:
Kadang memang butuh sudut pandang orang lain untuk nyadarin kita agar bersyukur atas hal2 yg menurut kita "biasa" yg ada di hidup kita.
Thanks for share! :)
Yup, setuju :)
Post a Comment