July 13, 2013

PARA PEMIMPI DALAM ALKITAB (KATRINA J. WILSON)



1.      Abraham (Kejadian 15:12)
Allah memperlihatkan kepada Abraham peristiwa-peristiwa pada masa depan dan menegaskan perjanjian-Nya dengannya setelah Abraham tertidur nyenyak. Barangkali Abraham tengah merasa kesulitan untuk memahami janji-janji Allah yang luar biasa itu saat ia terjaga. Oleh karenanya, Allah terus berbicara kepadanya ketika ia tidur nyenyak.
Mimpi pertama yang dicatat datang pada Abimelekh, seorang raja yang telah membawa Sara, istri Abraham, ke dalam haremnya. Agar tidak dibunuh, Abraham dengan setengah berdusta mengatakan bahwa Sara adalah adik perempuannya (Sara adalah adik tirinya). Melalui mimpi, Allah memperingatkan Abimelekh agar tidak menyentuh Sara. Saat terbangun, Abimelekh mengembalikan Sara pada Abraham, dan bahkan memberkatinyadengan kekayaan yang berlimpah.

2.      Yakub (Kejadian 28:12)
Yakub, cucu Abraham memiliki pengalaman belas kasihan Allah yang datang padanya lewat mimpi. Yakub melarikan diri dari kakaknya, Esau, dan tertidur dengan beralaskan batu di sebuah ladang. Malam itu, ia mendapat penglihatan alam surgawi ketika ia bermimpi ada tangga yang mencapai langit dan malaikat-malaikat naik turun tangga itu. Allah berdiri di atas tangga itu, berbicara pada Yakub, dan memperbarui perjanjian-Nya dengan leluhurnya, Abraham. Yakub terjaga dan sadar bahwa Allah telah berbicara kepadanya.
Mimpi itu menimbulkan dampak yang sangat besar atas diri Yakub. Selama ini ia suka menipu dan telah melarikan diri dari abangnya, dan pastinya, dari Allah. Sebagai akibat mimpinya itu, ia menamai padang belantara itu Betel, yang artinya Rumah Allah, dan membangun mezbah, di mana ia menyembah Allah dan bersumpah, serta memberikan perpuluhan. Ini adalah awal perubahan dalam diri Yakub.
Mungkin Anda belum pernah mengalami mimpi spiritual yang begitu mengubahkan, tetapi yakinlah bahwa Tuhan mampu melayani Anda. Lalu, Anda juga bisa menyebut padang belantara Anda: Betel, tempat di mana Anda melihat Allah.
Di kemudian hari, setelah bekerja untuk ayah mertuanya, Laban, selama bertahun-tahun, Allah mengutus malaikat-Nya untuk berbicara dalam sebuah mimpi dan memberi tahu Yakub bahwa sudah saatnya ia kembali ke tanah kelahirannya. Akibat pertikaian dengan ayah mertuanya, Yakub harus melarikan diri. Ketika Laban mengejar Yakub, Allah memakai mimpi untuk memperingatkan Laban agar tidak berbicara baik atau buruk kepada Yakub, tetapi membiarkannya pergi. Sebagai akibat dari mimpi itu, Laban dan Yakub membuat perjanjian.
Beda halnya dengan Yakub, tidak semua orang yang pernah mendengar suara Allah lewat mimpi atau penglihatan malam hari menjadi orang yang taat. Bahkan saat ini, orang-orang mendapat mimpi dan mengingatnya, tetapi tidak mendengarkan pesannya serta mengambil tindakan. Namun demikian, mimpi tidaklah membuang-buang waktu Allah, meskipun orang-orang mengabaikannya; mimpi menunjukkan belas kasihan Allah.

3.      Bileam
Ada beberapa contoh orang yang mendapat mimpi yang Allah berikan, tetapi tidak mengindahkannya. Bileam, seorang nabi yang dibayar oleh Balak, seorang musuh Israel, untuk mengutuk bangsa itu (Bilangan 22-25). Allah memperingatkan Bileam lewat mimpi agar tidak ambil bagian dalam rencana Balak itu, tetapi Bileam tidak tidak mau taat.
Yudas 1:10-13 mengatakan bahwa Bileam, oleh sebab ketamakannya akan upah, membawa bangsa itu pada kesesatan. Ketamakan dan cinta uang membuat Bileam tidak menaati mimpi yang Allah berikan. Hingga kini, Bileam masih dikenang sebagai pengkhianat bangsa. Allah berusaha memperingatkan dan menolongnya, tetapi ia tidak mau mendengar. Oh, semoga kita mengindahkan mimpi-mimpi kita.

4.      Daniel dan raja Nebukadnezar
Di dalam Daniel 4, kita membaca mimpi simbolik raja Nebukadnezar yang meresahkan, yang mengungkapkan isi hatinya yang penuh keangkuhan itu. Mimpi ini mengejutkan raja, sehingga ia menceritakan mimpinya itu pada hamba yang ia percayai, Daniel. Daniel menafsirkan mimpi itu dan menasihati agar raja bertobat. Untuk sesaat raja merendahkan dirinya, tetapi setelah setahun, ia melupakan pesan mimpi itu dan kembali meninggikan diri. Sebagai akibatnya, ia dipaksa makan di ladang seperti binatang. Kewarasannya akhirnya kembali saat ia  mengakui Raja atas segala raja. Saya bertanya-tanya, akankah kita juga mengalami situasi yang tidak perlu itu karena kita tidak sadar bahwa salah satu dari mimpi-mimpi kita adalah sebuah pesan peringatan.

5.      Pilatus (Matius 27:19)
Pilatus adalah orang lainnya yang tidak mengindahkan mimpi. Ia bergumul untuk bisa mengetahui apa yang harus ia lakukan pada Yesus. Istrinya mendapat mimpi dan mengirim pesan pada suaminya, katanya, “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia, aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam”. Pilatus takut pada orang banyak dan tidak mendengarkan istrinya, maupun mengindahkan pesan peringatan dari mimpi itu. Entah bagaimana ia berpikir bahwa ia bisa cuci tangan atas perkara Yesus.

6.      Yusuf (Kejadian 37)
Yusuf, anak Yakub yang berumur tujuh belas tahun, mendapat dua mimpi simbolik yang mengungkapkan masa depannya. Dalam mimpi pertama, keluarganya sedang mengikat berkas gandum di ladang, dan berkas Yusuf tegak sementara berkas-berkas lain tunduk pada berkasnya. Dalam mimpi berikutnya, matahari, bulan, dan sebelas bintang tunduk kepadanya. Sekalipun mimpi-mimpi itu dalam bentuk lambang, maknanya cukup jelas. Ayah Yusuf dan kesebelas saudaranya berkata kepadanya, “Apakah kau ingin berkuasa atas kami?” Saudara-saudaranya membencinya karena mimpi itu.
Situasi ini memperlihatkan bahwa tidak selalu bijaksana jika kita menceritakan mimpi kita pada orang-orang. Gara-gara menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya, Yusuf sangat menderita. Saya pikir Yusuf tidak menyadari apa yang bakal menimpanya atau berapa tahun yang mesti ia lewati sebelum mimpinya itu digenapi, tetapi mimpinya itu ternyata menjadi kenyataan. Karena Yusuf memahami mimpi-mimpi ini, bertahun-tahun kemudian ia bisa mengatakan dengan yakin pada saudara-saudaranya bahwa apa yang mereka rencanakan demi kejahatan telah dipakai Allah untuk mendatangkan kebaikan (Kejadian 50:20).
Yusuf, akibat karunia menafsirkan mimpi yang Allah berikan kepadanya, mampu menyelamatkan banyak bangsa. Namun, ia harus bertahun-tahun lamanya diuji sebelum menyaksikan mimpinya digenapi. Banyak orang menginginkan kepuasan instan. Namun demikian, sebagaimana halnya dengan karunia-karunia dalam bidang lain, saya mendapati bahwa kita akan diuji untuk melihat apakah kita akan mengembangkan dan menggunakan karunia kita tersebut untuk kemuliaan Allah dalam kondisi apapun.
Lihat ujian yang dialami Yusuf. Mimpi adalah bagian aktif dalam kehidupannya. Setelah dikhianati dan dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya, ia berakhir di penjara. Dan keadaan menjadi semakin buruk sebelum akhirnya membaik. Di penjara itu – di mana ia bisa saja mengasihani diri, ia cukup peka, sehingga mampu menafsirkan mimpi simbolik rekan-rekan satu penjaranya – juru makanan dan juru minuman Firaun. Mereka merasa tertekan karena tidak seorang pun dapat menafsirkan mimpi mereka. Tanggapan Yusuf adalah penafsiran itu milik Allah. Bahkan di dalam penjara pun, ia tetap percaya kepada Allah.
Jadi, juru minuman menceritakan mimpinya, yaitu pohon anggur dengan tiga cabang yang penuh tandan buah anggur, yang ia perah ke dalam cawan Firauan. Juru makanan bermimpi tentang tiga keranjang di mana ada penganan untuk Firaun, dan burung-burung memakan isi keranjang itu. Dalam waktu tiga hari sesuai dengan penafsiran Yusuf, mimpi itu menjadi kenyataan; juru minuman dikembalikan ke posisinya, dan juru makanan dihukum mati (Kejadian 40).
Mimpi itu ada hubungannya dengan posisi dan situasi yang mereka hadapi saat itu, serta menunjukkan masa depan mereka (Perhatikan bahwa mimpi juru makanan tentang kematiannya bersifat simbolik). Seandainya kedua orang itu tidak menceritakan mimpi mereka pada Yusuf, tidak diragukan lagi, mimpi-mimpi itu pasti akan lewat begitu saja. Namun, karena Allah punya seorang hamba yang siap untuk menafsirkan mimpi-mimpi tersebut, Allah dimuliakan, dan pada akhirnya Yusuf dipulihkan.
Yusuf tetap berada di dalam penjara setalah juru minuman itu dibebaskan, tetapi dua tahun kemudian, Firaun mendapat dua mimpi yang tidak seorang pun dapat menafsirkannya. Firaun merasa yakin bahwa mimpinya itu ada kaitannya dengan masa depan negerinya dan marah karena tidak seorang pun juga dapat menafsirkan mimpinya itu. Saat itulah juru minuman, yang kedudukannya telah dipulihkan, dan berjanji akan menolong Yusuf, teringat akan karunia Yusuf dalam menafsirkan mimpi.
Ketika Yusuf dipanggil menghadap Firaun, Yusuf mengatakan bahwa hanya Allah yang dapat memberi jawaban kepadanya. Yusuf tidak membiarkan kedudukan Firaun mengintimidasinya. Yusuf memberikan semua pujian kepada Allah! Ia lulus satu ujian lagi! Apakah Anda juga akan lulus dalam ujian yang diberikan pada Anda?
Setelah Yusuf menafsirkan mimpi Firaun, Yusuf mengatakan bahwa kedua mimpi itu memiliki makna yang sama (berarti bahwa kedua mimpi itu ingin menyampaikan pesan yang sama).  Karena pesan itu berasal dari Allah, dan tidak lama lagi Allah akan mewujudkannya. Terbukti, Yusuf memahami tujuan dari kedua mimpi itu karena ia sendiri telah menerima hasil bagi dirinya sendiri. Sebagian orang mendapat mimpi-mimpi yang selalu berulang, yang mungkin memiliki lambang yang berbeda-beda, tetapi memiliki makna yang sama, dan mereka tidak tahu bagaimana cara mengevaluasi mimpi itu sebagai satu kesatuan. Mungkin Anda ingin menelaah kembali beberapa mimpi Anda yang selalu berulang setelah membaca mengenai Yusuf.
Saat Anda mendapat mimpi yang menunjukkan masa depan, jangan pikir bahwa penggenapannya akan langsung terjadi, seperti pada juru makanan dan juru minuman raja. Perlu waktu tiga belas tahun sebelum mimpi Yusuf saat ia menjadi remaja menjadi kenyataan, dan setelah empat belas tahun barulah mimpi Firaun tergenapi.
Perhatikanlah bahwa Firaun meninggikan Yusuf hingga menjadi orang kedua di negeri itu sebelum masa kelaparan dimulai! Hasil akhir dari penafsiran tersebut adalah bahwa Firaun mengakui Allah yang disembah Yusuf, dan Yusuf bukan hanya dipulihkan, tetapi juga dpromosikan sebagai orang kedua di negeri itu; bangsa Mesir dan bangsa-bangsa lain diselamatkan pada masa kelaparan. Ujung dari semua itu berpuncak pada Yusuf dan keluarganya yang akhirnya bersatu kembali, serta terpeliharanya garis keturunan bangsa Yahudi. Sekali lagi Allah mengenapi rencana-Nya melalui orang-orang yang peka terhadap mimpi-mimpi mereka.

7.      Gideon (Hakim-hakim 7:13-15)
Mimpi simbolik dapat dipahami! Bala tentara Gideon dirampingkan hingga tinggal tiga ratus orang, dan mereka menghadapi bala tentara Midian yang yang luar biasa banyaknya. Gideon berseru pada Tuhan , dan Tuhan memberi tahunya bahwa karena ia takut berperang, ia mesti memata-matai bala tentara Midian.  Da ia akan mendengar sesuatu yang akan menguatkannya.
Gideon mendengarkan dua prajurit sedang berbicara, dan prajurit yang satu bercerita pada rekannya tentang mimpinya, “Sekeping roti jelai terguling masuk ke dalam perkemahan bangsa Midian, dan masuk ke dalam sebuah kemah, lalu kemah itu roboh dan habis runtuh”.
Rekannya segera memberi penafsiran  mimpi tersebut: “Tidak ada yang selamat dari pedang Gideon…karena ke dalam tangannya Allah telah menyerahkan bangsa Midian beserta kemah-kemahnya”.
Itu sudah cukup bagi Gideon! Ia memuji Allah, kembali pada bala tentaranya yang sedikit itu, dan berkata, “Bangkitlah karena Allah telah menyerahkan seluruh bangsa Midian ke dalam tanganmu”. Lalu bala tentara Gideon yang hanya tiga ratus orang itu, dengan pertolongan Allah, mengalahkan bala tentara Midian yang ganas.
Saat Anda berada dalam situasi yang membingungkan dan merasa seperti Gideon, bahwa jumlah Anda tidak dapat menandingi musuh, berserulah pada Tuhan, dan mintalah agar Dia memberi petunjuk selagi Anda tertidur.  Lalu saat Anda terbangun, luangkan waktu untuk mengingat mimpi  Anda, merenungkannya, mengevaluasi situasi Anda saat ini, dan lihat apa yang ingin Allah katakan pada Anda.

8.      Daud (Mazmur 17:3)
  Daud memahami tujuan mimpi, yaitu menguji motif hati kita. Ia mengatakan bahwa Allah menyelidiki hatinya, mengunjunginya pada malam hari, mengujinya, dan tidak mendapati apa pun ; ia telah bertekad agar mulutnya tidak melakukan pelanggaran.  Tidak banyak dari kita bisa berkata demikian, seperti halnya Daud, bahwa Tuhan tidak akan mendapati adanya kesalahan karena kita mengawasi dengan cermat perkataan kita saat kita terjaga. Inti dari ayat ini adalah bahwa malam hari bisa menjadi waktu di mana Allah menyelidiki motif hati kita saat kita tidur; lalu kita tidak dapat berdebat, mencoba membela diri di hadapan-Nya. Dia bisa mengunjungi kita, meninggalkan sesuatu di dalam hati kita, bahkan memurnikan dan menyucikan kita selagi kita tidur. Kita terbangun dengan perasaan segar dan dipulihkan berkat perubahan-perubahan yang telah terjadi!
       
9.      Salomo (I Raja-raja 3:4-15)
  Salomo juga merupakan  seorang yang hatinya diselidiki Allah lewat sebuah mimpi.  Ketika Salomo baru diangkat sebagai raja, ia pergi ke Gibeon untuk menyembah dan mendapat kekuatan dari Tuhan. Semenjak itulah Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam sebuah mimpi, dan berkata, “Mintalah maka akan Kuberikan kepadamu”. Itu adalah sebuah pertanyaan yang menguji. Salomo menjawab dengan jujur. Allah senang tatkala Salomo menjawab, “Berilah kepada hamba-Mu ini  hati untuk menghakimi umat-Mu, agar aku dapat membedakan yang baik dan yang jahat”. Allah memberikan kepada Salomo hati yang demikian bijaksana, sehingga tidak ada yang seperti dia. Selain hikmat, Allah juga memberikan kepadanya kekayaan dan kemuliaan.
Saat saya menyadari implikasi dari  ini, bahwa Allah memberikan hikmat pada Salomo melalui mimpi, saya melihat tujuan yang lebih penting dari malam hari dan mimpi. Jika Allah bisa melakukan itu untuk Salomo, Dia juga bisa melakukan hal itu bagi Anda dan saya! Tanyakan kepada diri sendiri mengenai respon Anda jika Allah datang di dalam tidur dan mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang Dia tanyakan pada Salomo. Saya kerap mengatakan bahwa seandainya Tuhan menampakkan diri kepada kita dalam kemuliaan-Nya sementara kita terjaga dan mengajukan pertanyaan itu, benak kita akan segera berpikir, “Aku harus memberikan jawaban yang bersifat spiritual; lagipula Dia ini kan Tuhan!” Lalu kita akan mencoba memberikan tanggapan yang menyenangkan hati-Nya: “Oh Tuhan, aku hanya ingin menjadi rohani dan mengikuti Engkau kemana pun Engkau pergi”.
Namun, saat kita tertidur, kita akan menjawab dari kedalaman hati kita. Seorang wanita lajang yang kesepian mungkin meminta seorang suami dan tidak begitu peduli dengan persyaratan kristianinya. Seorang yang dalam kesulitan keuangan mungin meminta uang dan bukannya hikmat untuk mendapatkan promosi dalam pekerjaannya. Seorang yang punya masalah dalam perkawinannya mungkin meminta pasangan baru. Seorang yang sedang menghadapi  situasi yang sulit mungkin meminta kesempatan untuk pindah dan bukan kekuatan untuk menghadapi situasi itu. Bagaimana jika Tuhan menjawab kita sesuai dengan apa yang kita ucapkan dalam tidur? Salomo sedang menyembah Allah, dan hatinya siap menerima pertanyaan Allah.


KATRINA J. WILSON
APAKAH TUHAN DAPAT BERBICARA LEWAT MIMPI? (DREAM TALK)
Hlm 104-115

No comments: