1. Abraham (Kejadian 15:12)
Allah memperlihatkan kepada Abraham peristiwa-peristiwa pada
masa depan dan menegaskan perjanjian-Nya dengannya setelah Abraham tertidur nyenyak. Barangkali Abraham tengah merasa
kesulitan untuk memahami janji-janji Allah yang luar biasa itu saat ia terjaga.
Oleh karenanya, Allah terus berbicara kepadanya ketika ia tidur nyenyak.
Mimpi pertama yang dicatat datang pada Abimelekh, seorang
raja yang telah membawa Sara, istri Abraham, ke dalam haremnya. Agar tidak
dibunuh, Abraham dengan setengah berdusta mengatakan bahwa Sara adalah adik
perempuannya (Sara adalah adik tirinya). Melalui mimpi, Allah memperingatkan Abimelekh
agar tidak menyentuh Sara. Saat terbangun, Abimelekh mengembalikan Sara pada
Abraham, dan bahkan memberkatinyadengan kekayaan yang berlimpah.
2.
Yakub
(Kejadian 28:12)
Yakub, cucu Abraham memiliki pengalaman belas kasihan Allah
yang datang padanya lewat mimpi. Yakub melarikan diri dari kakaknya, Esau, dan
tertidur dengan beralaskan batu di sebuah ladang. Malam itu, ia mendapat
penglihatan alam surgawi ketika ia bermimpi ada tangga yang mencapai langit dan
malaikat-malaikat naik turun tangga itu. Allah berdiri di atas tangga itu,
berbicara pada Yakub, dan memperbarui perjanjian-Nya dengan leluhurnya,
Abraham. Yakub terjaga dan sadar bahwa Allah telah berbicara kepadanya.
Mimpi itu menimbulkan dampak yang sangat besar atas diri Yakub.
Selama ini ia suka menipu dan telah melarikan diri dari abangnya, dan pastinya,
dari Allah. Sebagai akibat mimpinya itu, ia menamai padang belantara itu Betel,
yang artinya Rumah Allah, dan membangun mezbah, di mana ia menyembah Allah dan
bersumpah, serta memberikan perpuluhan. Ini adalah awal perubahan dalam diri
Yakub.
Mungkin Anda belum pernah mengalami mimpi spiritual yang
begitu mengubahkan, tetapi yakinlah bahwa Tuhan mampu melayani Anda. Lalu, Anda
juga bisa menyebut padang
belantara Anda: Betel, tempat di mana Anda melihat Allah.
Di kemudian hari, setelah bekerja untuk ayah mertuanya,
Laban, selama bertahun-tahun, Allah mengutus malaikat-Nya untuk berbicara dalam
sebuah mimpi dan memberi tahu Yakub bahwa sudah saatnya ia kembali ke tanah
kelahirannya. Akibat pertikaian dengan ayah mertuanya, Yakub harus melarikan
diri. Ketika Laban mengejar Yakub, Allah memakai mimpi untuk memperingatkan
Laban agar tidak berbicara baik atau buruk kepada Yakub, tetapi membiarkannya
pergi. Sebagai akibat dari mimpi itu, Laban dan Yakub membuat perjanjian.
Beda halnya dengan Yakub, tidak semua
orang yang pernah mendengar suara Allah lewat mimpi atau penglihatan malam hari
menjadi orang yang taat. Bahkan saat ini, orang-orang mendapat mimpi dan
mengingatnya, tetapi tidak mendengarkan pesannya serta mengambil tindakan.
Namun demikian, mimpi tidaklah membuang-buang
waktu Allah, meskipun orang-orang mengabaikannya; mimpi menunjukkan belas
kasihan Allah.
3.
Bileam
Yudas 1:10-13 mengatakan bahwa Bileam, oleh sebab
ketamakannya akan upah, membawa bangsa itu pada kesesatan. Ketamakan dan cinta
uang membuat Bileam tidak menaati mimpi yang Allah berikan. Hingga kini, Bileam
masih dikenang sebagai pengkhianat bangsa. Allah berusaha memperingatkan dan menolongnya,
tetapi ia tidak mau mendengar. Oh, semoga kita mengindahkan mimpi-mimpi kita.
4.
Daniel
dan raja Nebukadnezar
Di dalam Daniel 4, kita membaca mimpi simbolik raja
Nebukadnezar yang meresahkan, yang mengungkapkan isi hatinya yang penuh
keangkuhan itu. Mimpi ini mengejutkan raja, sehingga ia menceritakan mimpinya
itu pada hamba yang ia percayai, Daniel. Daniel menafsirkan mimpi itu dan
menasihati agar raja bertobat. Untuk sesaat raja merendahkan dirinya, tetapi
setelah setahun, ia melupakan pesan mimpi itu dan kembali meninggikan diri.
Sebagai akibatnya, ia dipaksa makan di ladang seperti binatang. Kewarasannya akhirnya
kembali saat ia mengakui Raja atas
segala raja. Saya bertanya-tanya, akankah
kita juga mengalami situasi yang tidak perlu itu karena kita tidak sadar bahwa salah
satu dari mimpi-mimpi kita adalah sebuah pesan peringatan.
5.
Pilatus (Matius
27:19)
6.
Yusuf
(Kejadian 37)
Yusuf, anak Yakub yang berumur tujuh belas tahun, mendapat
dua mimpi simbolik yang mengungkapkan masa depannya. Dalam mimpi pertama,
keluarganya sedang mengikat berkas gandum di ladang, dan berkas Yusuf tegak
sementara berkas-berkas lain tunduk pada berkasnya. Dalam mimpi berikutnya,
matahari, bulan, dan sebelas bintang tunduk kepadanya. Sekalipun mimpi-mimpi
itu dalam bentuk lambang, maknanya cukup jelas. Ayah Yusuf dan kesebelas saudaranya
berkata kepadanya, “Apakah kau ingin berkuasa atas kami?” Saudara-saudaranya
membencinya karena mimpi itu.
Situasi ini memperlihatkan bahwa tidak selalu bijaksana jika kita menceritakan mimpi kita pada
orang-orang. Gara-gara menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya, Yusuf
sangat menderita. Saya pikir Yusuf tidak menyadari apa yang bakal menimpanya
atau berapa tahun yang mesti ia lewati sebelum mimpinya itu digenapi, tetapi
mimpinya itu ternyata menjadi kenyataan. Karena Yusuf memahami mimpi-mimpi ini,
bertahun-tahun kemudian ia bisa mengatakan dengan yakin pada saudara-saudaranya
bahwa apa yang mereka rencanakan demi kejahatan telah dipakai Allah untuk
mendatangkan kebaikan (Kejadian 50:20).
Yusuf, akibat karunia menafsirkan mimpi yang Allah berikan
kepadanya, mampu menyelamatkan banyak bangsa. Namun, ia harus bertahun-tahun
lamanya diuji sebelum menyaksikan mimpinya digenapi. Banyak orang menginginkan
kepuasan instan. Namun demikian, sebagaimana halnya dengan karunia-karunia
dalam bidang lain, saya mendapati bahwa kita
akan diuji untuk melihat apakah kita akan mengembangkan dan menggunakan karunia
kita tersebut untuk kemuliaan Allah dalam kondisi apapun.
Lihat ujian yang dialami Yusuf. Mimpi adalah bagian aktif
dalam kehidupannya. Setelah dikhianati dan dijual sebagai budak oleh
saudara-saudaranya, ia berakhir di penjara. Dan keadaan menjadi semakin buruk sebelum akhirnya membaik. Di
penjara itu – di mana ia bisa saja mengasihani diri, ia cukup peka, sehingga
mampu menafsirkan mimpi simbolik rekan-rekan satu penjaranya – juru makanan dan
juru minuman Firaun. Mereka merasa tertekan karena tidak seorang pun dapat
menafsirkan mimpi mereka. Tanggapan
Yusuf adalah penafsiran itu milik Allah. Bahkan di dalam penjara pun, ia tetap
percaya kepada Allah.
Jadi, juru minuman menceritakan mimpinya, yaitu pohon anggur
dengan tiga cabang yang penuh tandan buah anggur, yang ia perah ke dalam cawan
Firauan. Juru makanan bermimpi tentang tiga keranjang di mana ada penganan untuk
Firaun, dan burung-burung memakan isi keranjang itu. Dalam waktu tiga hari
sesuai dengan penafsiran Yusuf, mimpi itu menjadi kenyataan; juru minuman
dikembalikan ke posisinya, dan juru makanan dihukum mati (Kejadian 40).
Mimpi itu ada hubungannya dengan posisi dan situasi yang
mereka hadapi saat itu, serta menunjukkan masa depan mereka (Perhatikan bahwa
mimpi juru makanan tentang kematiannya bersifat simbolik). Seandainya kedua
orang itu tidak menceritakan mimpi mereka pada Yusuf, tidak diragukan lagi,
mimpi-mimpi itu pasti akan lewat begitu saja. Namun, karena Allah punya seorang
hamba yang siap untuk menafsirkan mimpi-mimpi tersebut, Allah dimuliakan, dan
pada akhirnya Yusuf dipulihkan.
Yusuf tetap berada di dalam penjara setalah juru minuman itu
dibebaskan, tetapi dua tahun kemudian, Firaun mendapat dua mimpi yang tidak
seorang pun dapat menafsirkannya. Firaun merasa yakin bahwa mimpinya itu ada
kaitannya dengan masa depan negerinya dan marah karena tidak seorang pun juga
dapat menafsirkan mimpinya itu. Saat itulah juru minuman, yang kedudukannya
telah dipulihkan, dan berjanji akan menolong Yusuf, teringat akan karunia Yusuf
dalam menafsirkan mimpi.
Ketika Yusuf dipanggil menghadap Firaun, Yusuf mengatakan
bahwa hanya Allah yang dapat memberi jawaban kepadanya. Yusuf tidak membiarkan
kedudukan Firaun mengintimidasinya. Yusuf memberikan semua pujian kepada Allah!
Ia lulus satu ujian lagi! Apakah Anda juga
akan lulus dalam ujian yang diberikan pada Anda?
Setelah Yusuf menafsirkan mimpi Firaun, Yusuf mengatakan
bahwa kedua mimpi itu memiliki makna yang sama (berarti bahwa kedua mimpi itu
ingin menyampaikan pesan yang sama).
Karena pesan itu berasal dari Allah, dan tidak lama lagi Allah akan
mewujudkannya. Terbukti, Yusuf memahami tujuan dari kedua mimpi itu karena ia sendiri
telah menerima hasil bagi dirinya sendiri. Sebagian orang mendapat mimpi-mimpi
yang selalu berulang, yang mungkin memiliki lambang yang berbeda-beda, tetapi
memiliki makna yang sama, dan mereka tidak tahu bagaimana cara mengevaluasi
mimpi itu sebagai satu kesatuan. Mungkin Anda ingin menelaah kembali beberapa
mimpi Anda yang selalu berulang setelah membaca mengenai Yusuf.
Saat Anda mendapat mimpi yang menunjukkan masa depan, jangan pikir
bahwa penggenapannya akan langsung terjadi, seperti pada juru makanan dan juru
minuman raja. Perlu waktu tiga belas tahun sebelum mimpi Yusuf saat ia menjadi
remaja menjadi kenyataan, dan setelah empat belas tahun barulah mimpi Firaun
tergenapi.
Perhatikanlah bahwa Firaun meninggikan Yusuf hingga menjadi orang kedua di negeri itu sebelum masa kelaparan dimulai! Hasil akhir dari penafsiran tersebut adalah bahwa Firaun mengakui Allah yang disembah Yusuf, dan Yusuf bukan hanya dipulihkan, tetapi juga dpromosikan sebagai orang kedua di negeri itu; bangsa Mesir dan bangsa-bangsa lain diselamatkan pada masa kelaparan. Ujung dari semua itu berpuncak pada Yusuf dan keluarganya yang akhirnya bersatu kembali, serta terpeliharanya garis keturunan bangsa Yahudi. Sekali lagi Allah mengenapi rencana-Nya melalui orang-orang yang peka terhadap mimpi-mimpi mereka.
Perhatikanlah bahwa Firaun meninggikan Yusuf hingga menjadi orang kedua di negeri itu sebelum masa kelaparan dimulai! Hasil akhir dari penafsiran tersebut adalah bahwa Firaun mengakui Allah yang disembah Yusuf, dan Yusuf bukan hanya dipulihkan, tetapi juga dpromosikan sebagai orang kedua di negeri itu; bangsa Mesir dan bangsa-bangsa lain diselamatkan pada masa kelaparan. Ujung dari semua itu berpuncak pada Yusuf dan keluarganya yang akhirnya bersatu kembali, serta terpeliharanya garis keturunan bangsa Yahudi. Sekali lagi Allah mengenapi rencana-Nya melalui orang-orang yang peka terhadap mimpi-mimpi mereka.
7.
Gideon
(Hakim-hakim 7:13-15)
Mimpi simbolik dapat dipahami! Bala tentara Gideon
dirampingkan hingga tinggal tiga ratus orang, dan mereka menghadapi bala
tentara Midian yang yang luar biasa banyaknya. Gideon berseru pada Tuhan , dan
Tuhan memberi tahunya bahwa karena ia takut berperang, ia mesti memata-matai bala
tentara Midian. Da ia akan mendengar
sesuatu yang akan menguatkannya.
Gideon mendengarkan dua prajurit sedang berbicara, dan
prajurit yang satu bercerita pada rekannya tentang mimpinya, “Sekeping roti
jelai terguling masuk ke dalam perkemahan bangsa Midian, dan masuk ke dalam
sebuah kemah, lalu kemah itu roboh dan habis runtuh”.
Rekannya segera memberi penafsiran mimpi tersebut: “Tidak ada yang selamat dari
pedang Gideon…karena ke dalam tangannya Allah telah menyerahkan bangsa Midian
beserta kemah-kemahnya”.
Itu sudah cukup bagi Gideon! Ia memuji Allah, kembali pada
bala tentaranya yang sedikit itu, dan berkata, “Bangkitlah karena Allah telah
menyerahkan seluruh bangsa Midian ke dalam tanganmu”. Lalu bala tentara Gideon
yang hanya tiga ratus orang itu, dengan pertolongan Allah, mengalahkan bala
tentara Midian yang ganas.
Saat Anda berada dalam situasi yang membingungkan dan merasa
seperti Gideon, bahwa jumlah Anda tidak dapat menandingi musuh, berserulah pada
Tuhan, dan mintalah agar Dia memberi petunjuk selagi Anda tertidur. Lalu
saat Anda terbangun, luangkan waktu untuk mengingat mimpi Anda, merenungkannya, mengevaluasi situasi
Anda saat ini, dan lihat apa yang ingin Allah katakan pada Anda.
8.
Daud (Mazmur
17:3)
Daud memahami tujuan mimpi, yaitu menguji motif hati kita. Ia mengatakan bahwa Allah menyelidiki hatinya, mengunjunginya pada malam hari, mengujinya, dan tidak mendapati apa pun ; ia telah bertekad agar mulutnya tidak melakukan pelanggaran. Tidak banyak dari kita bisa berkata demikian, seperti halnya Daud, bahwa Tuhan tidak akan mendapati adanya kesalahan karena kita mengawasi dengan cermat perkataan kita saat kita terjaga. Inti dari ayat ini adalah bahwa malam hari bisa menjadi waktu di mana Allah menyelidiki motif hati kita saat kita tidur; lalu kita tidak dapat berdebat, mencoba membela diri di hadapan-Nya. Dia bisa mengunjungi kita, meninggalkan sesuatu di dalam hati kita, bahkan memurnikan dan menyucikan kita selagi kita tidur. Kita terbangun dengan perasaan segar dan dipulihkan berkat perubahan-perubahan yang telah terjadi!
Daud memahami tujuan mimpi, yaitu menguji motif hati kita. Ia mengatakan bahwa Allah menyelidiki hatinya, mengunjunginya pada malam hari, mengujinya, dan tidak mendapati apa pun ; ia telah bertekad agar mulutnya tidak melakukan pelanggaran. Tidak banyak dari kita bisa berkata demikian, seperti halnya Daud, bahwa Tuhan tidak akan mendapati adanya kesalahan karena kita mengawasi dengan cermat perkataan kita saat kita terjaga. Inti dari ayat ini adalah bahwa malam hari bisa menjadi waktu di mana Allah menyelidiki motif hati kita saat kita tidur; lalu kita tidak dapat berdebat, mencoba membela diri di hadapan-Nya. Dia bisa mengunjungi kita, meninggalkan sesuatu di dalam hati kita, bahkan memurnikan dan menyucikan kita selagi kita tidur. Kita terbangun dengan perasaan segar dan dipulihkan berkat perubahan-perubahan yang telah terjadi!
9.
Salomo
(I Raja-raja 3:4-15)
Salomo juga merupakan seorang yang hatinya diselidiki Allah lewat sebuah mimpi. Ketika Salomo baru diangkat sebagai raja, ia pergi keGibeon untuk menyembah dan mendapat kekuatan dari Tuhan.
Semenjak itulah Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam sebuah mimpi, dan
berkata, “Mintalah maka akan Kuberikan kepadamu”. Itu adalah sebuah pertanyaan
yang menguji. Salomo menjawab dengan jujur. Allah senang tatkala Salomo
menjawab, “Berilah kepada hamba-Mu ini hati
untuk menghakimi umat-Mu, agar aku dapat membedakan yang baik dan yang jahat”.
Allah memberikan kepada Salomo hati yang demikian bijaksana, sehingga tidak ada
yang seperti dia. Selain hikmat, Allah juga memberikan kepadanya kekayaan dan
kemuliaan.
Salomo juga merupakan seorang yang hatinya diselidiki Allah lewat sebuah mimpi. Ketika Salomo baru diangkat sebagai raja, ia pergi ke
Saat saya menyadari implikasi dari ini, bahwa Allah memberikan hikmat pada Salomo
melalui mimpi, saya melihat tujuan yang lebih penting dari malam hari dan
mimpi. Jika Allah bisa melakukan itu untuk Salomo, Dia juga bisa melakukan hal
itu bagi Anda dan saya! Tanyakan kepada diri sendiri mengenai respon Anda jika
Allah datang di dalam tidur dan mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang Dia
tanyakan pada Salomo. Saya kerap mengatakan bahwa seandainya Tuhan menampakkan
diri kepada kita dalam kemuliaan-Nya sementara kita terjaga dan mengajukan
pertanyaan itu, benak kita akan segera berpikir, “Aku harus memberikan jawaban
yang bersifat spiritual; lagipula Dia ini kan Tuhan!” Lalu kita akan mencoba
memberikan tanggapan yang menyenangkan hati-Nya: “Oh Tuhan, aku hanya ingin
menjadi rohani dan mengikuti Engkau kemana pun Engkau pergi”.
Namun, saat kita tertidur, kita akan menjawab dari kedalaman
hati kita. Seorang wanita lajang yang kesepian mungkin meminta seorang suami
dan tidak begitu peduli dengan persyaratan kristianinya. Seorang yang dalam
kesulitan keuangan mungin meminta uang dan bukannya hikmat untuk mendapatkan
promosi dalam pekerjaannya. Seorang yang punya masalah dalam perkawinannya
mungkin meminta pasangan baru. Seorang yang sedang menghadapi situasi yang sulit mungkin meminta kesempatan
untuk pindah dan bukan kekuatan untuk menghadapi situasi itu. Bagaimana jika
Tuhan menjawab kita sesuai dengan apa yang kita ucapkan dalam tidur? Salomo
sedang menyembah Allah, dan hatinya siap menerima pertanyaan Allah.
KATRINA J. WILSON
APAKAH
TUHAN DAPAT BERBICARA LEWAT MIMPI? (DREAM
TALK)
Hlm
104-115
No comments:
Post a Comment