Ketika bayi, keadaan yang tragis memaksa anak lelaki muda itu ditinggalkan oleh orang tuanya. Pertimbangan ini diambil oleh orang tuanya dengan berat hati, sebagai satu-satunya harapan untuk kehidupan anak itu. Itu dilakukan dalam upaya untuk menyelamatkan nyawanya. Sayangnya, anak-anak tidak dapat memahami keadaan atau mencerna motivasi-motivasi yang memicu peristiwa yang sangat traumatik ini. Mereka ditinggalkan begitu saja, melewati masa hidup yang terpisah, menghadapi dan mengalami puing-puing emosional yang tak terhindarkan.
Setelah dewasa, mungkin tidak terlalu sulit bagi anak itu untuk berpikir bahwa dia adalah anak adopsi. Dia tampak begitu berbeda dengan keluarga yang mengadopsi dan berasal dari budaya yang berbeda sama sekali. Dia mungkin mengajukan pertanyaan sama yang dipertanyakan oleh setiap anak adopsi: Mengapa? Apa salahku? Mengapa orang tuaku tidak mau memeliharaku? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan waktu seumur hidup untuk menjawabnya.
Ketika anak itu tumbuh dan dewasa dia mempelajari warisan budayanya dan mungkin mulai lebih memahami keadaan-keadaan yang membuatnya dibuang ketika bayi. Akan tetapi, hanya dengan memahami tidak akan menghapus luka-luka, atau kepedihannya. Ketika pemuda, sudah jelas baginya bahwa para anggota dari ras dan budayanya hidup di dalam status tertindas. Sebagai akibat telah diadopsi ke dalam suatu keluarga yang kaya, terelasi dengan baik, pemuda itu kini memiliki kuasa dan posisi yang diperlukan untuk membebaskan orang-orang sebangsanya yang masih menderita sebagai tahanan politik dan budak. Akan tetapi, upaya awalnya untuk membebaskan bangsanya mengalami kegagalan. Faktanya mengakibatkan pembunuhan. Ketika kakek adopsinya mengetahui tindakan subversif ini, dia mengambil langkah agar cucu adopsi ini dibunuh untuk membayar kejahatannya. Pemuda ini melarikan diri ke negeri asing untuk menyelamatkan diri (Keluaran 2:1-15).
Itulah pengalaman masa kanak-kanak Musa. Pembuangan oleh orang tuanya pada waktu bayi, pengadopsian oleh para musuh dari bangsanya sendiri, pendidikan di lingkungan yang tegas dari keluarga kerajaan diiringi tuntutan yang tinggi, suatu kegagalan yang signifikan, dan akhirnya penolakan oleh kakek adopsinya telah memenuhi tahun-tahun pembentukan Musa. Tidak diragukan lagi gabungan dari kebutuhan yang tak terpenuhi yang berakar dari masa kanak-kanak ini menciptakan sisi gelap Musa dan telah mengakibatkannya menjadi seorang pemimpin yang kompulsif.
Musa: Seorang yang Terkendali
Ketika Musa memimpin bangsa Israel keluar dari penindasan Mesir, perkiraan konservatif menyebutkan sekitar tiga juta orang berada di bawah kepemimpinannya. Selama zaman mana pun dan pemimpin mana pun, tak peduli seberapa hebat talentanya, ini merupakan jumlah orang yang mustahil dikendalikan secara langsung. Dan ternyata muncul dari catatan Alkitab bahwa Musa merasakan suatu kebutuhan untuk memiliki kendali dan yakin bahwa dia sendiri mampu melakukan tugas itu dengan baik. Dalam Keluaran 18 kita diberitahu bahwa Musa sendiri mengadili perkara di antara bangsa itu dan membuat keputusan-keputusan yang meyakinkan. Untuk menyelesaikan tugas ini orang-orang yang berperkara akan berdiri mengelilingi Musa dari “pagi sampai petang”, suatu periode, paling sedikit dua belas jam, agar Musa dapat merampungkan masalah mereka. Kelihatannya sebagian perkara agak sepele sifatnya (Keluaran 18:22).
Orang akan berpikir bahwa seseorang dengan tingkat pendidikan seperti Musa dan pengalamannya di Mesir pada bentuk pemerintahan canggih yang dikenal dunia saat itu akan melihat perlunya pendelegasian otoritas. Namun ternyata ayah mertuanya, yang bernama Yitro, yang menyaksikan praktik yang tidak efisien ini dan menyarankan perubahan-perubahan organisasional sebelum Musa dapat melihat bahwa kebutuhan kompulsifnya untuk memegang kendali, tidak sehat bagi dia dan bagi bangsa itu (Keluaran 18:17-18).
Lagi pula isu kendali Musa kadang-kadang dipengaruhi oleh ledakan kemarahannya di hadapan publik. Faktanya, salah satu dari ledakan kemarahannya berakibat dia dilarang memasuki Tanah Perjanjian, yang merupakan tujuan akhirnya menuntun bangsa itu keluar dari Mesir (Bilangan 20:1-13). Walaupun analisis mengenai kepribadian Musa hanya dugaan, rasanya masuk akal jika menganggap bahwa ledakan kemarahannya di hadapan publik yang tegar tengkuk itu dapat menunjukkan beberapa kemarahan yang dipendam sejak tahun-tahun awalnya.
Meskipun Musa memiliki pergumulan-pergumulan, Allah memakai dia dengan cara yang luar biasa untuk melaksanakan rencana kerajaan-Nya, dan dia menikmati hubungan yang akrab dengan Allah (Ulangan 34:10). Apa pun penyebab pastinya, di dalam kehidupan dan kepemimpianan Musa kita dapat melihat beberapa tanda dari pemimpin yang kompulsif.
Mempertahankan Kendali Apa pun yang Terjadi
Kompulsif dalam konteks kepemimpinan menggambarkan kebutuhan untuk menjunjung tatanan yang mutlak. Karena kepemimpinan yang kompulsif dihasilkan dari kepribadian yang kompulsif dari sang pemimpin itu sendiri. Pemimpin itu memandang organisasi sebagai area lain dari kehidupannya yang harus dikendalikan. Sang pemimpin menganggap penampilan organisasi sebagai cermin langsung dari kepribadian dan performanya sendiri. Pemimpin yang kompulsif menuntut tingkat kesempurnaan yang ekstrem, baik dalam kehidupan pribadi maupun organisasi. Para pemimpin yang kompulsif umumnya mengembangkan rutinitas harian yang sangat kaku dan sangat sistematis yang harus dijalani secara tepat. Ini dapat mencakup olahraga, waktu teduh, agenda, dan rutinitas keluarga dan meluas sampai ke dalam kepemimpinan dalam organisasi.
Para pemimpin yang kompulsif juga cenderung sangat sadar status dan akibatnya selalu menghormati dan mencari muka kepada atasan mereka, sering kali keluar jalur untuk memberi kesan kepada atasan dengan kerajinan dan efisiensi mereka. Mereka selalu mencari dukungan dan pujian dari para tokoh yang berkuasa dan selalu salah tingkah ketika tidak yakin pada performa dan posisi mereka. Karena semua upaya ini menuntut sejumlah besar energi, para pemimpin yang kompulsif sangat bertanggung jawab pada pekerjaan, sering menjadi gila kerja. Mereka bekerja tanpa kenal waktu sampai membahayakan keluarga mereka dan memberi contoh dan lingkungan yang tidak sehat kepada para anggota staf. Para anggota staf kemudian merasa seperti pemalas jika mereka tidak seirama dengan bos atau jika mereka mau meninggalkan kantor setelah waktu jam kerja normal. Hanya ada sedikit ruang bagi spontanitas, dan bahkan rekreasi dari para pemimpin yang kompulsif ini sering kali direncanakan sebelumnya agar mereka bisa benar-benar beristirahat. Para pemimpin ini sering kali terlalu moralistik, kaku dan suka menghakimi diri sendiri dan orang lain.
Walau para pemimpin yang kompulsif merupakan gambaran dari tatanan yang mutlak (contohnya: kerapian, pakaian, tutur kata, keluarga dan lingkungan kerja mereka), pada sisi dalam mereka merupakan tong mesiu emosional. Pada intinya mereka bisa menjadi individu yang pemarah, pemberontak yang meyakini bahwa mengungkapkan perasaan-perasaan yang sebenarnya adalah keliru. Perasaan-perasaan ini dapat merupakan akibat dari masa kanak-kanak yang kaku tempat harapan-harapan yang tidak realistik yang dibebankan pada mereka. Atau mereka merupakan produk dari beberapa kegagalan atau trauma masa kanak-kanak sewaktu mereka tidak diizinkan mengekspresikan hal yang sebenarnya. Apa pun sumbernya, para pemimpin yang kompulsif menanggapi kerancuan batin mereka dengan cara mengikat perasaan mereka sangat erat sehingga mengakibatkan kekacauan yang bertentangan—pribadi-pribadi yang sangat terkendali dan tertata. Inilah sebabnya mengapa sudah lazim bagi orang-orang yang seperti ini menahan kemarahan mereka agar tidak diekspresikan secara tiba-tiba dan meledak dengan kasar, serta perlu segera dikontrol dengan penyesalan-penyesalan yang tepat.
Akhirnya upaya untuk menerapkan dan mempertahankan kendali atas kehidupan dan lingkungan, mereka menyimpan kemarahan, kebencian, dan pemberontakan agar tidak mencuat ke permukaan. Tidaklah aneh bagi para pemimpin yang kompulsif mengubur kemarahannya sebegitu dalam, hidup dalam penyangkalan selama periode yang cukup panjang, sehingga mereka tidak menyadari kehadirannya. Langkah pertama untuk mencapai keseimbangan adalah mengenali apakah kepemimpinan yang kompulsif merupakan suatu masalah dan selanjutnya mulai merenungkan sumber-sumber penyebabnya.
Para Pemimpin Gereja yang Kompulsif
Ada banyak pendeta dan pemimpin rohani sekarang ini yang merasa perlu mengendalikan organisasi mereka secara total dan detail. Mereka harus memeriksa persiapan buletin untuk memastikan buletin itu memenuhi standar mereka yang tinggi. Merekalah yang memilih lagu untuk Ibadah Minggu. Ada satu pengarah ibadah, namun orang itu tidak mampu memadukan lagu itu dengan tema khotbah secara sempurna. Para pemimpin ini terobsesi pada setiap keputusan. Seorang pendeta dari suatu gereja besar menegaskan agar stafnya mengenakan celana hitam atau biru, kemeja putih dan dasi merah. Inilah peraturan untuk staf!
Kompulsivitas gereja sering muncul dalam hal mengejar keunggulan dalam pelayanan. Usaha keras demi mencapai keunggulan ini dapat menjadikan mereka perfeksionis. Para pemimpin yang kompulsif memandang organisasi yang mereka pimpin sebagai refleksi dari diri mereka sendiri. Oleh sebab itu, setiap noda di dalam organisasi dipandang sebagai suatu refleksi langsung kepada mereka secara pribadi.
Kita sangat mendukung pelayanan yang unggul, namun harus ada keseimbangan. Kita perlu mengenali ketika pengejaran kita atas keunggulan melampaui batas dan menuju perfeksionisme yang obsesif. Kritik dan komentar yang berlebihan dapat menjadi gejala lain dari kepemimpinan yang kompulsif di gereja. Para pemimpin yang seperti ini sering kali paling kritis pada diri mereka sendiri, namun sikap mereka memengaruhi orang-orang lain di dalam organisasi itu.
Walaupun semua perilaku di atas itu berkedok melayani Allah dan melakukan yang terbaik bagi Tuhan, yang sangat mengagumkan, dalam realitasnya semua itu dilakukan dalam upaya untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tidak sehat dari sang pemimpin.
Summary:
1. Wujud dari sisi gelap adalah pertumbuhan pemimpin yang kompulsif. Musa adalah salah satu contoh yang terdapat di Alkitab.
2. Beberapa tanda dari seorang pemimpin yang kompulsif itu mencakup hal berikut: Para pemimpin yang kompulsif itu sadar status, mencari dukungan dan pujian dari mereka yang berkuasa. Mereka berusaha mengendalikan banyak kegiatan dan mempertahankan tatanan dan biasanya gila kerja. Adakalanya mereka itu moralistik, kaku dan suka menghakimi secara berlebihan.
3. Di dalam hatinya, para pemimpin yang kompulsif memiliki sikap pemarah dan pemberontak. Karena mereka merasa tidak pantas mengungkapkan perasaan-perasaan mereka yang sebenarnya, mereka menekan kemarahan dan kebencian mereka.
GARY L. MCINTOSH& SAMUEL D. RIMA
OVERCOMING THE DARK SIDE OF LEADERSHIP
BAB 8: PEMIMPIN YANG KOMPULSIF
Hlm 109-115
No comments:
Post a Comment