Dia tidak ingin pergi. Fakta keengganannya pada pekerjaan itu sebenarnya mendorongnya meninggalkan negara itu dengan harapan, tugas itu akhirnya akan diberikan kepada seorang pembicara yang lain. Tugasnya: pergi ke kota musuh yang bernama Niniwe dan peringatkanlah mereka tentang kutukan yang segera tiba kecuali mereka mengubah cara-cara mereka dan berbalik kepada Allah.
Yunus: Seorang yang Pemarah
Karena dia melarikan diri dari tugas yang Allah berikan kepadanya, Yunus ditimpa badai, badai pendisiplinan dari Allah. Ketika dia melarikan diri dari panggilan Allah, sarana pelariannya dihempaskan oleh badai besar. Diperhadapkan pada keadaan yang membahayakan orang-orang lain, Yunus mengakui bahwa dialah penyebab badai itu, dan sebagai tanggapannya, para pelaut itu mencampakkan Yunus ke dalam laut, dengan harapan menyelamatkan diri mereka sendiri. Ketika dia berada di dalam perut ikan besar itu, Yunus akhirnya mengungkapkan penyesalan yang tulus akan keengganannya melaksanakan tugas dari Allah (Yunus 2:8-9).
Penyesalan dan pertobatan Yunus tidak bertahan lama. Tatkala badai yang disebabkan oleh ketidaktaatannya itu berlalu, Yunus sekali lagi mengembangkan sikap yang kurang antusias terhadap misi yang Allah berikan kepadanya. Yang membanggakan, meskipun enggan dan keras kepala, Yunus menggenapi misi itu. Kita hanya dapat membayangkan Yunus berkhotbah dengan enggan mengutuk penduduk Niniwe dengan sengaja tidak efektif dalam pemberitaannya, ia berharap seluruh waktu dan usahanya akan berakhir dengan kegagalan.
Meskipun penampilannya kurang bersinar, Allah mendatangkan penebusan dan kebangunan kepada kota penyembah berhala, Niniwe sebagai hasil langsung dari khotbah Yunus, namun Yunus tidak bahagia (Yunus 4:1). Kemarahannya menghasilkan rasa kesal sebentar dan bahkan langsung menyebabkan dia berteriak kepada Allah, “Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati daripada hidup” (Yunus 4:3). Di tengah-tengah kedongkolan dan frustrasi Yunus, untuk melindunginya dari sinar matahari, Allah menyediakan satu pohon untuk menaunginya, dan “Yunus sangat bersukacita karena pohon itu” (Yunus 4:6). Hari berikutnya, ketika pohon itu layu, sekali lagi Yunus menjadi tertekan dan berkata, “Lebih baiklah aku mati daripada hidup” (Yunus 4:8). Yunus memiliki pandangan yang umumnya negatif tentang hidup dan masa depannya.
Di dalam hidup dan pelayanan Yunus, kita melihat suatu penolakan terhadap tuntutan Allah untuk melaksanakan tugas yang diberikan, cetusan kesedihan dan kemarahan, penyesalan dan duka jangka pendek atas tindakan-tindakannya, perilaku yang semaunya, dan negativitas yang umum. Yunus diklasifikasikan sebagai seorang pemimpin yang pasif-agresif.
Keengganan Melaksanakan Kewajiban
Seperti Yunus—sang nabi yang enggan, para pemimpin yang pasif-agresif memiliki suatu kecenderungan menolak tuntutan untuk melaksanakan tugas secara memadai. Penolakan mereka itu paling sering dinyatakan melalu perilaku seperti penangguhan, membuang-buang waktu atau keras kepala, pelupa, dan sengaja tidak efisien.
Keengganan ini berakar dari rasa takut gagal yang muncul ketika mengemban suatu proyek yang signifikan dan takut keberhasilannya akan menimbulkan tuntutan yang lebih tinggi, yang bisa mengarah kepada suatu tingkat kegagalan di masa datang. Cara lain apakah yang lebih baik untuk menghindari kegagalan atau peningkatan tuntutan yang disebabkan keberhasilan ketimbang sekadar menolak untuk melaksanakan atau dengan sengaja melaksanakannya secara tidak efektif?
Para pemimpin yang pasif-agresif juga mudah meledak dengan emosi-emosi yang tinggi, seperti kesedihan, kemarahan, dan frustrasi. Umumnya mereka melakukan serangan hanya dalam batas-batas yang legal dan diterima secara sosial namun masih tetap provokatif. Ledakan-ledakan ini sering kali diikuti oleh penyesalan dan pertobatan jangka pendek. Semua perilaku ini menunjukkan impulsivitasnya yang khas.
Para Yunus modern adalah para pengeluh abadi yang kehadirannya melemahkan semangat orang-orang yang mereka pimpin atau orang-orang yang berinteraksi dengan mereka, walaupun mereka melaksanakan tugas yang dituntut dari mereka, itu hanya dengan sedikit atau tidak antusias, dan mereka melampiaskan kemarahan dan kebencian karena terpaksa (mereka pikir) melakukan demikian.
Karena orang-orang yang pasif-agresif itu spontan, para rekan dan koleganya sering merasa resah kalau-kalau terkena ledakan berikutnya. Para pemimpin ini membuat orang-orang di sekitarnya tidak nyaman dan sering kali bingung. Orang-orang yang bekerja dengan orang yang pasif-agresif sering bertanya, “Apa yang dimaksudkannya dengan ledakan itu?” atau “Dari mana datangnya ledakan itu?” ketika orang yang pasif-agresif itu meluncurkan kata-kata kemarahan yang berlangsung lama. Kecenderungan lain dari orang-orang ini adalah memperlihatkan ketidaksabaran, lekas marah, dan keresahan ketika ada yang tidak sesuai dengan harapan mereka atau ketika mereka menjadi bosan dengan hal-hal kecil. Ajaib sekali, Allah bahkan mampu menggunakan para pemimpin yang pasif-agresif untuk menggenapkan tujuan-tujuan-Nya.
Para Pemimpin Rohani yang Pasif-Agresif
Banyak pemimpin rohani yang pasif-agresif merasa sulit menentukan sasaran-sasaran dan menerapkan rencana-rencana masa depan karena ada kemungkinan menemui kegagalan. Ketakutan ini ditambah dengan pandangan yang pesimistik dari para pemimpin yang pasif-agresif, menyebabkan mereka mengatakan, “Apakah gunanya merencanakan dan menetapkan sasaran? Bagaimanapun tidak ada yang akan berubah di sekitar sini”. Dengan enggan mereka melaksanakan rencana-rencana majelis mereka. Standar dan sistem penilaian terhadap penampilan, biasanya dibenci dan ditolak oleh pemimpin yang pasif-agresif.
Para pemimpin yang pasif-agresif bisa mengeluh terus menerus tentang tidak adanya dukungan dari dewan dan mereka yang dipimpin, mengulang-ulang tidak adanya dukungan itu adalah salah satu alasan terganggunya efektivitas mereka. Ironisnya, ketika orang-orang lain terlibat dengan mereka dan dengan minat yang serius, sungguh-sungguh berniat untuk menolong mereka, para pemimpin ini segera mengeluh bahwa mereka tidak diizinkan memimpin sesuka mereka.
Dalam pertemuan majelis atau situasi lain, seperti pertemuan jemaat, pemimpin yang pasif-agresif bisa menjadi tidak sabar dan lekas marah jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan maksudnya. Frustrasi ini sering menyebabkan ledakan emosi saat itu atau pada suatu ketika kelak di dalam pertemuan yang tidak berkaitan sama sekali.
Masalahnya bukanlah para pemimpin ini selalu marah dan mengeluh. Umumnya mereka terlihat bahagia, taat, dan puas dengan pekerjaan dan organisasi mereka. Akan tetapi, pola perilaku emosional yang tak terduga hanya dapat terlihat setelah satu jangka waktu. Karena pola ini para pemimpin yang pasif-agresif sering menjadi bulan-bulanan lelucon dan pembicaraan kalangan inti seperti “Saya bingung pendeta mana yang akan muncul malam ini?” atau “Saya pasti berharap pendeta tidak memberikan kita pertunjukan malam ini”.
Kami ingat seorang anggota majelis dari sebuah gereja lokal yang memperlihatkan perilaku pasif-agresif yang klasik. Selama tidak ada agenda untuk perubahan dan tidak ada rencana yang tersusun untuk masa depan, anggota majelis ini baik-baik saja. Pada waktu staf kependetaan dan majelis gereja mulai bergerak secara agresif dan mengembangkan rencana-rencana bagi masa depan gereja, maka dia akan masuk ke pola pasif-agresifnya. Pada pertemuan itu anggota majelis ini bisa meledak dengan ledakan emosional yang tidak masuk akal yang mengejutkan setiap orang. Dia tidak menawarkan argumen-argumen yang jelas atau ide-ide yang lebih baik; dia hanya sekadar menggembar-gemborkan kebiasaan-kebiasaan umum yang jika ada, sedikit menyentuh isu yang sedang dibahas.
Memang, seperti yang Anda duga, taktik-taktik ini dulu berkali-kali berhasil menunda kemajuan. Selama bertahun-tahun manuver dari anggota majelis ini menghalangi gereja menerapkan rencana yang bisa menentukan suatu standar untuk keberhasilan dan menggerakkan gereja itu menuju suatu tingkat pelayanan dan keefektifan yang baru. Ini sering kali merupakan cara para pemimpin yang pasif-agresif mewujudkan diri mereka di dalam setting kepemimpinan rohani. Mereka menggembar-gemborkan keraguannya tentang kemajuan, maka penundaannya pun berlanjut.
Summary:
1. Satu wujud dari sisi gelap adalah pertumbuhan dari pemimpin yang pasif-agresif. Yunus adalah satu contoh yang ditemukan di dalam Alkitab.
2. Beberapa tanda dari pemimpin yang pasif-agresif mencakup yang berikut: Para pemimpin yang pasif-agresif itu keras kepala, pelupa, dan sengaja tidak efisien. Mereka cenderung mengeluh, menolak tuntutan, menangguhkan, dan membuang-buang waktu sebagai sarana untuk mengendalikan lingkungan mereka dan orang-orang sekitar mereka. Kadang kala mereka akan menerapkan kendali melalui penggunaan cetusan-cetusan kesedihan atau kemarahan yang singkat.
3. Di dalam hati pemimpin yang pasif-agresif ada kemarahan dan kebencian juga rasa takut terhadap keberhasilan, karena itu akan melahirkan tuntutan yang lebih tinggi.
GARY L. MCINTOSH& SAMUEL D. RIMA
OVERCOMING THE DARK SIDE OF LEADERSHIP
BAB 12: PEMIMPIN YANG PASIF-AGRESIF
Hlm 155-159
No comments:
Post a Comment