July 25, 2014

PEMIMPIN YANG PARANOID (GARY L. MCINTOSH& SAMUEL D. RIMA)

Mungkin sejarah kurang bersahabat dengan Richard M. Nixon. Walaupun dia adalah seorang yang sangat cerdas, supel dan gigih, kepemimpinannya dirongrong oleh sisi gelapnya sendiri yang licik. Tidak ada ketajaman politik atau kemampuan dalam relasi internasional yang mampu menaklukkan pengaruh yang kuat dari sisi gelap pemimpin yang tragis ini.

Richard Nixon adalah seorang yang dikendalikan oleh paranoia yang akut. Dia sangat curiga pada orang lain—bahkan para anggota stafnya sendiri—dan terobsesi untuk mengumpulkan informasi dari orang-orang yang dianggap musuh yang dapat digunakan untuk memperkuat serangan balik terhadap setiap atau semua lawan politik. Bahkan di hadapan kesalahan yang jelas Nixon tidak mau mengakui kegagalan atau menerima kesalahan apapun. Dia merupakan seorang penyangkal ulung. Dia telah mempelajari sisi gelapnya dan menjadi sadar atas bentuk yang telah dikenakan sisi gelap itu, dia tanpa ragu menghindari penghinaan dari Watergate dan bermaksud memulihkan kursi kepresidenannya. Sebagai gantinya dia menjadi korban yang paling menonjol dari sisi gelap abad dua puluh ini. Richard Nixon hanyalah satu mata rantai usang dari para pemimpin paranoid yang telah menghancurkan diri mereka sendiri.

Saul: Seorang yang Dicekam oleh Kecurigaan
Ketika Saul memasuki tahap kepemimpinan nasional, dia telah diperlengkapi untuk berhasil. Dia sangat menarik dan sangat bertalenta. Dia ditunjuk oleh Allah, yang mengubahnya secara supranatural agar dia dapat menjadi seorang pemimpin yang efektif.
Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain… Sedang ia berpaling untuk pergi meninggalkan Samuel, maka Allah mengubah hatinya.
(I Samuel 10:6, 9)

Dikatakan bahwa Allah telah mengubah hati Saul dalam ayat 9, bahasa Ibrani secara harafiah mengatakan bahwa Allah mengganti hatinya dengan hati yang lain, suatu hati yang akan memampukannya memimpin bangsa itu. Semua ini sangat mengejutkan Saul, karena sebelumnya dia memiliki pandangan yang sangat rendah tentang dirinya sendiri dan keluarga asalnya. Citra ketidakamanan pribadi dan harga diri yang rendah ini terbukti dalam I Samuel 15:17 ketika Samuel menegur Saul dengan mengatakan. “Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?” Ide tentang melayani sebagai raja Israel itu sangat asing bagi masa depan yang telah Saul rancang bagi dirinya sendiri. Namun kini Saul menjadi alat di tangan Allah untuk sebuah pelayanan.

Ketika Saul dinobatkan sebagai raja secara terbuka, ada segelintir orang yang meragukan bahwa “orang ini” dapat menyelamatkan bangsa itu (I Samuel 10:27). Walaupun Saul menyadari pesimisme mereka, dia tidak membela dirinya atau menanggapi para pengritiknya. Sangat disayangkan itulah terakhir kalinya Saul menggunakan pendekatan yang sedemikian matang terhadap para lawannya, entah itu sungguh-sunguh atau khayalan.

Pelayanan utama yang Allah rencanakan bagi Saul adalah membebaskan Israel dari penindasan orang Filistin. Awalnya Saul memperoleh kemenangan atas orang Filistin. Namun itu tidak lama setelah sisi gelap Saul mulai merongrong kepemimpinannya dan rencana-rencana Allah baginya.

Selalu ada parameter dan batasan pada kepemimpinan. Tidak ada satu pun pemimpin, termasuk Saul, yang memiliki kekuasaan penuh. Salah satu batasan di kerajaan Israel adalah jangan pernah mengambil alih peran imam. Sebelum suatu peperangan yang penting, ketika Saul menanti kedatangan Samuel sang imam dan mempersembahkan kurban yang layak, orang-orang itu menjadi gelisah dan mulai tercerai. Saul sangat memerhatikan gejolak yang melemahkan ini sehingga dia memutuskan untuk melaksanakan pengurbanan keimaman itu sendiri. Sejenak setelah Saul melaksanakan persembahan itu, yang diketahuinya sangat dilarang, Samuel tiba di tempat itu dan memperhadapkan Saul dengan ketidaktaatannya yang sangat nyata pada hukum Allah. Saul membenarkan tindakannya itu dan tidak bersedia mengakui kekeliruan apa pun (I Samuel 13:11-13). Ini memperlihatkan langkah kecil pertama menuju kehancurannya.

Tidak lama setelah kegagalannya, Samuel mengumumkan bahwa Allah telah mengalihkan jubah kepemimpinan Saul dan telah memilih seorang raja baru, yang akan muncul di waktu mendatang. Sejak saat itu, kepemimpinan Saul dipenuhi oleh kecurigaan, ketidakpercayaan kepada orang-orang di sekelilingnya, termasuk para anggota keluarga dekat, upaya memaksakan kesetiaan, dan bahkan memata-matai. Episode yang sangat kejam terjadi ketika raja Saul melarang rakyatnya makan hingga dia sendiri berhasil membalas musuh-musuhnya (I Samuel 14:24-30).

Kenyataannya Saul mengatakan bahwa siapa pun yang makan sebelum diizinkan akan dikutuk. Itu merupakan tuntutan yang tercetus dari paranoia yang parah dan ketidakpercayaan yang akut. Yonatan menanggapi perintah ayahnya dengan mengatakan, “ayahku telah mencelakakan negeri”. Yang mengacaukan rencana Saul adalah fakta bahwa Yonatan, yang tidak mengetahui larangan itu, adalah orang pertama yang melanggar perintah raja. Saul mengartikan tindakan anaknya sebagai pengkhianatan, dan bermaksud menghukum Yonatan atas kesalahannya. Dalam providensia Allah, orang-orang menyelamatkan Yonatan dari tangan ayahnya (I Samuel 14:31-45). Setelah peristiwa ini Saul mulai merosot tajam ke dalam paranoia yang obsesif.

Setelah kegagalan lainnya, ketika Saul gagal membasmi seluruh orang Amalek dan tidak mau mengakui ketidaktaatan apa pun, seorang gembala muda yang bernama Daud mulai mempersulit kehidupan Saul.

Dimampukan untuk naik takhta sebagai raja, Saul masih tetap belum menyelesaikan tugas utamanya yang ditunjuk secara ilahi untuk membebaskan orang Israel dari orang Filistin. Israel masih diejek oleh raksasa Filistin, Goliat. Daud, sang gembala yang masih remaja, langsung merebut hati orang Israel ketika dia maju dan dengan satu batu yang kecil merobohkan raksasa musuh.

Ketika Saul melintasi negeri itu setelah kematian Goliat, dia mendengar perempuan-perempuan bernyanyi di sepanjang jalan, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (I Samuel 18:7). Sejak saat itu Saul mencurigai Daud hendak mencuri takhtanya. Saul mengatakan, “Kepada Daud diperhitungkan berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkan beribu-ribu; akhirnya jabatan raja itu pun jatuh kepadanya” (I Samuel 18:8).

Saul menjadi takut pada popularitas Daud di mata rakyat. Di sini ada raja, yang ditunjuk oleh Allah sendiri dan secara supranatural diubah untuk pekerjaan itu namun iri dan curiga pada gembala yang masih muda dan tidak berpengalaman. Saul berusaha membunuh Daud dalam sejumlah peristiwa. Ketika pembunuhan tidak berhasil, Saul mencoba membeli kesetiaan Daud dengan menikahkan putri sulungnya dengan Daud. Tanpa menghiraukan apa yang diupayakannya, Saul tidak dapat meredakan ketakutan dan kecurigaannya yang tidak masuk akal.

Konsekuensinya, dia terlibat dalam tindakan penipuan dan mata-mata yang lebih jauh lagi dalam usaha untuk melenyapkan Daud dari kerajaan itu. Puncaknya aktivitas Saul yang neurotik itu mengarah membawanya ke dalam kejatuhan dan kegagalannya sendiri. Itulah nasib pemimpin yang paranoid.

Takut pada Bayangan Sendiri
Seperti raja Saul yang penuh curiga, para pemimpin yang paranoid itu sangat takut pada apa pun dan siapa pun, entah itu nyata atau khayal, bahkan mereka bisa mengenali potensi yang terjauh yang bisa mengikis kepemimpinan mereka dan secara diam-diam mencuri perhatian publik. Mereka bersifat curiga, memusuhi, dan minta dikawal ketika berhubungan dengan orang lain—sekalipun rekan dekat dan para anggota keluarga. Seperti Saul, para pemimpin yang paranoid itu terlalu peka pada tindakan dan tanggapan dari orang yang mereka pimpin, selalu takut terhadap pemberontakan yang mungkin bisa terjadi. Karena mereka merasa sangat tidak percaya pada kemampuan mereka sendiri, para pemimpin yang paranoid secara patologis iri hati pada orang lain yang bertalenta.

Seperti Richard Nixon, para pemimpin yang paranoid  menggunakan rencana rahasia dan mata-mata untuk mempertahankan dan memperkokoh genggamannya pada kepemimpinan. Wujudnya sering kali berupa membangun persekutuan dan jaringan rahasia dengan orang yang mudah dimanfaatkan dan tertarik pada posisi dan kuasa pemimpin itu. Siapa pun yang dianggap menjadi ancaman, sering kali tidak menyadari dirinya tertangkap jaringan yang memberikan informasi yang salah dan rumor dari pemimpin yang paranoid dan jaringan mata-mata serta para pendukungnya.

Para pemimpin yang paranoid bisa bereaksi berlebihan terhadap bentuk kritik yang paling lembut sekalipun. Ini disebabkan kritik dari para pengikut  dan koleganya sering dianggap sebagai usaha untuk menggulingkan mereka atau memangkas kuasa mereka. Selain itu para pemimpin yang paranoid itu bahkan selalu menuduh orang lain dalam organisasi yang melakukan hal sederhana sebagai tindakan subversif.

Karena kecurigaan mereka, para pemimpin yang paranoid akan sering menciptakan struktur dan sistem kendali yang ketat di dalam organisasi mereka yang memampukan mereka mengatur setiap bagian kecil dari organisasi dan membatasi otonomi para bawahan dan rekan-rekan. Banyaknya pertemuan dan laporan staf sering kali sebagai akibat dari kebutuhan untuk mempertahankan cengkeraman atas orang-orang di sekeliling mereka. Sangat disayangkan, para Saul zaman kini tersebar di seluruh jenjang kepemimpinan rohani.

Para Pemimpin Rohani yang Paranoid
Dewasa ini bukan tidak lazim mendengar seorang pendeta secara berkelakar mengatakan, “Saya tidak akan pernah membiarkan majelis saya rapat tanpa saya”. Lebih sering daripada yang berani diakui oleh banyak pemimpin rohani, itu bukan kelakar. Bagi sebagian pendeta, lawan utama mereka adalah majelis yang ironisnya, seharusnya menjadi mitra utama mereka dalam memelihara umat Allah. Namun entah bagaimana, sering kali sebagai akibat dari ketidakamanan pendeta itu sendiri, berkembanglah suatu hubungan permusuhan. Secara terbuka, kekhawatiran ini tidak seluruhnya tanpa manfaat. 

Apa yang tidak pernah didengar pendeta tentang majelis yang melakukan pertemuan khusus sementara pendeta sedang berlibur—ketika pendeta itu pulang dari cuti musim panasnya, ada satu amplop merah muda di mejanya. Kami berdua mempunyai teman-teman yang pernah diperlakukan seperti ini. Peristiwa itu terjadi setelah lebih dari setahun pelayanan yang keras pada satu gereja pedesaan yang memiliki hubungan yang sangat dekat dan tidak ada pembatas. Namun ini adalah pengecualian bahwa seorang pendeta yang tidak bersalah dan tidak dicurigai dipecat dengan cara ini.

Yang lebih lazim dalam pelayanan gereja adalah pendeta senior tidak mengizinkan seorang rekan berkhotbah karena takut jemaat menyukai khotbah rekannya itu melebihi khotbahnya sendiri. Kala lain, ketika seorang rekan diizinkan berkhotbah dan rekan itu menerima pujian dari jemaat, rasa iri yang samar-samar mencekam pendeta senior itu dan dia mulai mengambil langkah-langkah untuk membatasi pujian yang diterima rekannya, biasanya dengan membatasi penampilan publiknya. Dan ketika seorang pendeta yang paranoid memasuki ruang majelis dan mendapati walau hanya satu anggota majelis yang terlihat marah dan frustrasi, dia langsung merasa khawatir bahwa kemarahan atau frustrasi itu ditujukan kepadanya.

Pergumulan lain dari para pemimpin rohani yang paranoid adalah kesulitan mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang dekat dengan para anggota gereja atau organisasi mereka. Hubungan-hubungan yang dekat itu sulit karena memerlukan suatu ukuran mengenai keterbukaan diri dan transparansi yang mereka khawatirkan dapat dimanfaatkan untuk menghadapi mereka pada suatu waktu untuk meruntuhkan kepemimpinan mereka. Para pemimpin yang seperti ini yakin, lebih baik menjaga jarak yang aman biarpun dipandang sombong dan tidak ramah. Bagi para pendeta yang paranoid kemungkinan diberhentikan, mereka yang Anda kasihi? Kesadaran tersebut tidak senilai dengan risiko yang tak terpisahkan dalam hubungan-hubungan yang akrab dan wajar.


Summary:
1. Satu wujud dari sisi gelap adalah berkembangnya pemimpin yang paranoid. Saul adalah satu contoh yang ditemukan di dalam Alkitab.
2. Beberapa tanda dari pemimpin yang paranoid mencakup yang berikut: Pemimpin yang paranoid itu curiga, memusuhi dan penuh ketakutan, serta iri. Takut bahwa seseorang akan meremehkan kepemimpinan mereka, mereka hipersensitif terhadap tindakan-tindakan orang lain, mengenakan makna-makna subjektif pada motif-motif, dan menciptakan suatu struktur yang kaku untuk mengendalikan.
3. Di dalam hati pemimpin yang paranoid ada perasaan-perasaan tidak aman dan kurang percaya diri yang kuat.


GARY L. MCINTOSH& SAMUEL D. RIMA
OVERCOMING THE DARK SIDE OF LEADERSHIP
BAB 10: PEMIMPIN YANG PARANOID
Hlm 129-136


No comments: