"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan" (Roma 12:19-20)
Berat bagiku buat nulis hal ini...
Minggu lalu, aku kontak salah 1 fulltimer gereja yang pernah berseteru denganku, karena aku mau mampir library. Pikirku taon demi taon udah berlalu, aku sudah mengampuni dia, en berpikir dia udah berubah jadi pribadi yang lebih baik. Dari situ, aku tau kalo temen baiknya mau tunangan dengan sepupuku. Usut punya usut, akhirnya terbongkarlah semua kebohongan en kemunafikan sepupuku hanya supaya hubungannya lancar dengan cewek itu. Lalu ketika fakta terungkap, aku difitnah oleh sepupuku bahkan mau dilabrak. Hal ini menimbulkan pertengkaran dahsyat di keluarga besarku.
Sempet terbersit kemarahan di hatiku, gara2 fulltimer ini, hubunganku rusak, tapi dia sembunyi tangan en malah berbalik marah ke aku karena temannya tau dia membocorkan hal2 yang ga seharusnya, bahkan dia block kontakku serta mengucapkan tuduhan tak berdasar. Aku sempet mau datengi fulltimer ini ke kantornya, lapor ke atasannya tentang semua kebusukan yang dilakukan sehingga merusak banyak hubungan. Untungnya, sabtu lalu aku merencanakan ke BDI, dan Tuhan berbicara banyak disana sehingga aku mengurungkan niatku untuk melaporkan fulltimer itu.
Tuhan menyingkapkan bahwa semua perseteruan itu ada andil kesalahanku, namun Dia memakainya untuk menyingkapkan motif terselubung setiap orang. Aku ga ada niat untuk merusak hubungan siapapun, tapi ada pihak yang menunggangi en membuat semua jadi runyam. Aku bersedia dihukum ama Tuhan kalo emang aku bersalah di mata-Nya. Dan akhirnya aku tau bahwa fulltimer itu ga pernah punya niat baik, dia selalu menyampaikan fitnahan orang ke aku untuk menghancurkanku, tapi dia selalu kabur setiap kali kedoknya terbongkar. Aku tau keluarga om-ku yang dari dulu berbuat jahat ke aku tuh memang ga pernah tulus, sekalipun aku berusaha membalas kejahatan mereka dengan kebaikan, mereka selalu punya senjata untuk menusukku dari belakang. Bahkan kata2 "ga dulur2an" keluar dari mulut om-ku. Oke, aku lebih bahagia putus hubungan dengan toxic family kayak gitu.
Jujur aja, aku sempet mangkel, ngerasa semua kebaikan, doa, serta ketulusanku tuh sia2. Percuma aku berbuat baik kalo ujungnya aku difitnah, ditusuk dari belakang, lalu dijelek2kan seperti itu. Tapi aku mau mengampuni, bahkan aku hapus semua bukti konkret di chat yang bisa kupakai untuk menghancurkan mereka balik. Tuhan menyelidiki hatiku dan aku sadar dari awal aku ga ada niat untuk merusak hubungan siapapun, bahkan sekalipun aku udah disakiti seperti ini. Pembalasan adalah urusan Tuhan, aku ga mau mengutuk, aku ga mau menuntut balas.
Aku melepas semua hakku untuk membela diri, untuk membalas, untuk membuka semua fakta. Bagiku ketenangan batin dan kebenaran di hadapan Allah jauh lebih penting daripada semua pembelaan diri atau pembuktian. Aku tau dengan jelas, kebenaran akan menang pada akhirnya, bahkan tanpa perlu aku konfirmasi. Orang yang sejak awal punya niat ga murni dalam membangun hubungan denganku, akan terbuka karakter aslinya suatu saat nanti. Aku ga perlu capek2 berbuat ini itu. Cukup Tuhan yang tau semuanya, aku ga perlu klarifikasi kanan kiri. Entah kenapa, aku ngalami ketenangan dalam hadirat-Nya setiap kali aku doa di masa2 pergumulan itu.
Pemurnian...
Betapa banyak orang yang membangun hubungan dengan kita tanpa kita sadari apa motif sebenarnya di balik semua senyum manis dan kebaikan mereka? Betapa banyak orang mengaku sebagai fulltimer, hamba Tuhan, ataupun sudah bertobat, tapi hidupnya diselubungi dengan kemunafikan, kepalsuan, serta kisah bohong demi menyelamatkan "muka" mereka? Berapa banyak orang tau tentang masa lalu kita, mengaku sebagai saudara, namun nyatanya menggunakan semua informasi pribadi kita untuk mengarang kisah bohong tentang kita demi melindungi diri mereka?
Betapa banyak orang yang membangun hubungan dengan kita tanpa kita sadari apa motif sebenarnya di balik semua senyum manis dan kebaikan mereka? Betapa banyak orang mengaku sebagai fulltimer, hamba Tuhan, ataupun sudah bertobat, tapi hidupnya diselubungi dengan kemunafikan, kepalsuan, serta kisah bohong demi menyelamatkan "muka" mereka? Berapa banyak orang tau tentang masa lalu kita, mengaku sebagai saudara, namun nyatanya menggunakan semua informasi pribadi kita untuk mengarang kisah bohong tentang kita demi melindungi diri mereka?
Pemurnian...
Berapa banyak orang yang benar2 murni membangun hubungan dengan kita, menabur kasih dan kebaikan tanpa pamrih? Berapa banyak orang yang benar2 tulus membantu di saat kesesakan kita tanpa ada niat memutarbalikkan kisah kita untuk kepentingan pribadi mereka yang egois? Berapa banyak orang yang berdiri membela di masa terpuruk kita, tanpa ada agenda tersembunyi di masa mendatang?
Berapa banyak orang yang benar2 murni membangun hubungan dengan kita, menabur kasih dan kebaikan tanpa pamrih? Berapa banyak orang yang benar2 tulus membantu di saat kesesakan kita tanpa ada niat memutarbalikkan kisah kita untuk kepentingan pribadi mereka yang egois? Berapa banyak orang yang berdiri membela di masa terpuruk kita, tanpa ada agenda tersembunyi di masa mendatang?
Saudara, fulltimer, hamba Tuhan, bahkan ada hubungan darah pun ga menjamin bahwa mereka benar2 orang yang tulus dan murni. Ketika dalam keadaan terjepit, manusia cenderung mengarang kisah pembenarannya sendiri, bahkan membusukkan nama kita demi keuntungan pribadi mereka. Apapun yang mereka lakukan, sama sekali tidak menggambarkan diri kita, tapi membongkar kedok mereka sendiri.
Tak peduli apapun yang orang lain lakukan, tetaplah jaga hatimu murni di hadapan Allah. Kita ga berurusan dengan manusia, namun dengan Allah itu sendiri. Setiap kebohongan, kemunafikan, kebencian, amarah, ataupun dendam akan terbuka pada akhirnya. Tetaplah hidup dengan sikap hati yang benar, sekalipun orang berusaha menghancurkanmu. Tetaplah jaga perkenanan dan kepercayaan Allah di hidupmu. Orang benar merasa aman seperti singa muda. Percayalah bahwa Allah tau mana yang benar di hadapan-Nya dan Dia menunggu saatnya untuk memberi ganjaran kepada setiap orang.

No comments:
Post a Comment