Sejak bulan Mei, aku jadi jengah ama kelakuan dirut yang sering telpon untuk update kabar, sering chat di luar jam kerja. Banyak hal yang mestinya aku ga perlu tau, ga perlu diupdate kalo belom ada keputusan yang fix dari rapat dengan pemegang saham, ga perlu denger juga tentang pertimbangan2 mereka yang masih nggantung. Alhasil, aku jadi ikutan stress en mumet. Aku paham kalo kami dalam kondisi yang sangat sulit, tapi menurutku semua kudu ada batasnya lah ya. Sampai mamaku nyeletuk "kamu kayak sekretarisnya aja, dikit2 diupdate info".
Aku pun ngadepi banyak situasi yang sulit, 2 anak buah yang makin berulah, kerjaan yang makin numpuk, konsultan pajak yang sulit diajak komunikasi, belom lagi kudu koordinasi ama divisi laen tentang banyak hal. Mei kemaren aku banyak dicurhati en dimintai pendapat dari hampir semua orang di kantor, sampai akhirnya aku pelarian ke makanan saking stress-nya hahaha.
Dalam situasi kayak gitu, ditambah wacana proyek pembangunan bakal dilockdown 6 bulan, karyawan bakal dirumahkan tanpa gaji, en semua ketidakpastian yang ada; bikin aku pengen banget cari kerjaan baru. Aku bergumul banget soal hal ini, situasi global sedang kacau, ga mudah cari kerjaan yang bisa ngasi posisi en gaji seperti ini. Tapi aku memutuskan untuk dengar2an akan kehendak Tuhan bagi hidupku.
Singkatnya, aku baca buku "Acres of diamonds", aku ngerasa bahwa Tuhan berbicara secara khusus untuk aku tetep tinggal di perusahaan yang sekarang, sekalipun kondisinya ga baik. Sempet ada protes dalam hatiku, gajiku ga full entah sampai kapan, kerjaan en tanggung jawabku tambah banyak, en aku ngerasa dirut makin kehilangan arah. Menurutku sulit mengikuti bos yang ga jelas maunya apa, en akhir2 ini sulit dikasi masukan.
Tapi Tuhan mengingatkan aku bahwa sejak awal aku masuk ke dunia kerja, Dia mengilustrasikan hidupku seperti Yusuf: dimasukkan sumur, difitnah, dipenjarakan, dilupakan selama 2 tahun, baru menuju istana Firaun. Saat ini posisiku sedang di istana Firaun en ini adalah momen paceklik. Justru di saat paceklik inilah kemampuan dan otoritasku diuji, apakah aku sanggup kelola apa yang ada sehingga ga kekurangan, apa aku emang mumpuni ditaruh di posisi spv bahkan dipromosikan sebagai manager.
"Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu" (Yohanes 15:16)
Jujur aja, bagiku ga mudah mengetahui fakta2 yang ada. Aku beneran pengen nangis, ngerasa ga sanggup dengan tanggung jawab sebesar ini, dengan kondisi gaji ga full pula, belom lagi September ato Oktober ntar kantor bakal pindah ke tempat yang super jauh dari rumah. Aku ga tau apa worth it untuk stay there, tapi aku mau taruh semua pertimbangan, kekhawatiran, en keraguanku di bawah kaki Tuhan.
Jumat lalu sepulang dari piket, aku bilang ama Tuhan "Bukankah Kau berjanji membawaku ke padang yang berumput hijau dan air yang tenang, tapi kenapa sekarang malah tandus kayak padang gurun?" Dia bilang bahwa mungkin gajiku ga full, tapi Dia akan memberkati aku dengan hal2 yang ga bisa dibeli oleh uang: kesehatan, koneksi ilahi, hubungan2 berkualitas, pemulihan di bidang laen. Ada ketenangan sejati yang memenuhi hatiku saat aku ambil keputusan untuk taat kepada apa yang Tuhan mau.
Aku menyadari bahwa di masa2 seperti ini yang terpenting bukanlah aku berada di mana, tapi bersama dengan siapa. Jika Tuhan ada bersamaku dan menyertai setiap langkahku, maka ga ada sesuatupun yang perlu kukhawatirkan. Tempat teraman di bumi ini adalah di pusat kehendak-Nya, sekalipun kondisinya penuh ketidakpastian. Yang memelihara hidupku bukan perusahaan ini, tapi Tuhan sendiri. Dialah Jehova Jireh, Dia sanggup turunkan manna dari sorga ataupun datangkan gagak untuk ngasi aku makan.
Aku mengakhiri setiap pertimbangan dan pergumulanku dengan sebuah keputusan bulat: aku mau berada di tempat Tuhan berada, di tempat dimana Dia letakkan aku, di tempat dimana Ia mau membuatku bertumbuh bahkan berbuah lebat. Setiap kesulitan yang ada seharusnya menumbuhkan akar2ku semakin melekat kepada Pribadi-Nya, sungguh aku bergantung dari setiap firman yang Dia ucapkan bagiku.
Buat setiap orang yang baca post ini, kuharap kalian dalam keadaan baik2 saja, tetap dalam rencana yang Tuhan tetapkan sekalipun keliatannya gersang, tetap berpaut pada Sang Sumber itu. Krisis ini akan berlalu, biarlah krisis ini makin mendekatkan kita kepada Bapa, bukan menjauhkan kita dari kehendak-Nya yang sempurna. Be strong and courageous, guys! God be with you, always and forever.
No comments:
Post a Comment