BAB 16: HIDUP DARI KEMATIAN
1. Allah menenangkan gejolak emosi saya karena saya memintanya dan mencarinya dan cukup tenang untuk mendengarkannya.
2. Bagi mereka yang memiliki telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat akan tersedia kelepasan dari beban yang tak tertanggungkan di dalam bahasa yang disampaikan oleh pohon-pohon pada musim gugur, contohnya ketika mereka berpakaian paling indah untuk menyongsong kematian.
3. Jika daun-daun tidak dibiarkan jatuh dan mengering, jika pohon tidak diizinkan menjadi gundul untuk berbulan-bulan, maka hidup yang baru tidak akan muncul, tidak ada kuntum, tidak ada bunga, tidak ada buah, tidak ada benih, tidak ada generasi yang baru.
BAB 17: APA YANG HARUS DIPERBUAT DENGAN KESEPIAN
1. Apa yang harus diperbuat dengan kesepian?
• Tenanglah dan ketahuilah bahwa Ialah Allah
Jika Ia adalah Allah, berarti Ia masih mengendalikan.
• Ingatlah bahwa Anda tidak sendirian
Meskipun Anda tidak dapat merasakan kehadiran-Nya, Ia ada di sana, tidak pernah melupakan Anda sekejap pun.
• Mengucap syukurlah
Kesepian itu, yang nampaknya berat, akan dikalahkan oleh kemuliaan.
• Tolak mengasihani diri
Terimalah kesepian Anda. Ini adalah satu dan satu-satunya tahap dalam sebuah perjalanan yang membawa Anda kepada Allah. Tahap ini tidak akan berlangsung lama.
• Persembahkanlah kesepian Anda kepada Allah
Seperti anak kecil yang memberikan lima roti dan dua ikan miliknya kepada Yesus, Allah dapat mengubahnya menjadi kebaikan bagi orang lain.
• Lakukan sesuatu untuk orang lain
Berdoalah agar Anda bisa menjadi alat pendamaian Allah sehingga dimana terdapat kesepian, Anda mendatangkan sukacita.
2. Jangan menyia-nyiakannya. "Dimanapun engkau berada, beradalah di sana dengan sepenuh dirimu", Jim pernah menulis. "Hidupilah sepuas-puasnya setiap situasi yang engkau percayai sebagai kehendak Allah.
3. Dengan percaya, kesepian dapat menghasilkan tahan uji, bahkan dengan bertahan dalam keterpisahan, keheningan, persoalan yang sulit, ketidakpastian; pengharapan dapat timbul di dalam hati kita.
BAB 18: APA YANG TELAH DILAKUKAN ALLAH
1. Tidakkah sebuah permintaan yang sederhana dari Allah untuk mempercayai-Nya sudah cukup? Perlukah Ia merenggut apapun yang paling kita hargai, menyeret kita ke dalam trauma rohani yang terburuk, menelanjangi kita di tengah-tengah angin Roh-Nya yang memurnikan kita supaya kita belajar untuk mempercayai?
2. Kasih Allah tidak membenci tragedi. Kasih Allah tidak pernah menyangkal kenyataan. Ia tidak perlu melindungi kita, tidak dari apapun yang dapat membuat kita menyerupai Anak-Nya. Akan diperlukan pukulan, pahatan, pemurnian dengan api di dalam proses itu.
3. Percaya adalah pelajaran yang harus diambil. Yesus mengasihi saya, ini saya ketahui, bukan karena Ia melakukan persis apa yang saya sukai, tetapi karena Alkitab mengatakannya demikian. Kalvari membuktikannya. Ia mengasihi saya dan memberikan diri-Nya bagi saya.
BAB 19: KELUH PEMBERONTAKAN
1. Saya mengetahui dan menyadari bahwa pelajaran rohani terdalam mungkin bukan dengan membiarkan kami mendapatkan apa yang kami inginkan, tetapi dengan membuat kami menunggu, membawa kami di dalam kasih dan kesabaran hingga kami mampu berdoa dengan kesungguhan: Kehendak-Mu jadilah. Penerimaan akan apapun merupakan kemenangan iman yang agung yang mengalahkan dunia.
2. Ketika ketaatan kepada Allah berlawanan dengan keinginan saya untuk mendapatkan kesenangan, saya menanyakan kepada diri saya apakah saya mengasihi-Nya. Jika saya dapat menjawab "ya" kepada pertanyaan itu, tidak bisakah saya berkata "ya" untuk menyenangkan-Nya? Tidak dapatkah saya berkata "ya" bahkan jika hal itu berarti membutuhkan pengorbanan? Sedikit refleksi yang tenang akan mengingatkan saya bahwa "ya" kepada Allah selalu memimpin pada akhir yang penuh sukacita. Kita dapat dengan pasti mempercayainya.
3. Jika kerinduan itu pergi, apa yang kita miliki untuk kita persembahkan kepada Tuhan? Bukankah mereka diberikan kepada kita untuk dipersembahkan? Yang diperlukan adalah kendali atas hasrat, bukan pembasmian hasrat. Bagaimana kita akan belajar berserah kepada otoritas Kristus jika kita tidak memiliki apapun untuk diserahkan?
4. Jika semua kesusahan dan penderitaan dihilangkan, roh tidak akan lagi mencapai kedewasaan. Bapa Sorgawi ingin melihat kita bertumbuh.
BAB 20: MENIPU DIRI SENDIRI
1. Ayah saya menasihati keempat anak laki-lakinya untuk tidak pernah mengatakan, "Aku mencintaimu" kepada seorang perempuan sampai mereka siap untuk segera mengikuti kalimat itu dengan, "Maukah kau menikah denganku?" Juga tidak seharusnya mereka berpikir untuk mengucapkan, "Maukah kau menikah denganku?" kecuali mereka telah mengucapkan, "Aku mencintaimu". Betapa besarnya penderitaan dan kebingungan yang akan terhindarkan jika para lelaki mengikuti aturan itu.
2. Orang Kristen menyerahkan tali kekang mereka kepada Tuan-Nya. Keinginan-keinginan manusiawinya mengikutinya. Keinginan-keinginan tersebut masih ada, masih kuat, alami, dan manusiawi, namun tunduk kepada kekuasaan Roh, kuasa yang lebih tinggi. Keinginan tersebut dimurnikan dan dikoreksi sewaktu kita hidup hari demi hari di dalam iman dan ketaatan.
3. Mari berterus terang kepada diri sendiri di hadapan Allah. Jika hasrat Anda terbangkitkan, katakanlah demikian--kepada diri sendiri dan kepada Allah, bukan kepada obyek hasrat Anda. Kemudian berikanlah kendali kepada Allah. Bawalah kehendak Anda kepada-Nya. Taatilah Dia, mintalah pertolongan-Nya.
BAB 21: APA YANG PEREMPUAN LAKUKAN TERHADAP LAKI-LAKI
1. Pelajaran bagi para lelaki adalah mereka harus melakukan sesuatu. Pelajaran bagi para perempuan adalah tidak melakukan apa-apa. Itu adalah api penyucian bagi sebagian besar dari kita. Perempuan, khususnya ketika menyangkut kehidupan percintaan, hampir tidak dapat cuma disuruh menunggu dan tidak melakukan apa-apa.
2. Saya dapat mendengar teriakan protes dari para perempuan. "Para lelaki senang bermain-main. Mereka mengecoh kami, mencoba mendapatkan apa yang bisa mereka ambil dari kami, menipu kami", dan seterusnya. Ada benarnya, dan karena itulah mengapa saya memohon para perempuan untuk menanti. Menanti Allah. Tetap tutup mulut Anda. Jangan berharap apapun sampai ada pernyataan yang jelas dan terang. Dan kepada para lelaki, saya katakan, berhati-hatilah dengan kami, tolong. Sangat berhati-hatilah.
3. Tolaklah godaan untuk mempermainkan perasaan orang lain. Mungkin menyenangkan untuk "bermain dengan ikan", seperti kalau kita memancing ikan. Kita membiarkan ikan memakan umpan, membiarkan mereka bebas berkeliaran, lalu menyentakkannya, tetapi itu kejam, tidak jujur, dan berbahaya.
BAB 22: APA YANG DICARI LELAKI?
1. Ketika saya beranjak dewasa, ibu saya memberi saya dua dan hanya dua nasihat saja tentang hal ini: Biarkan laki-laki yang mengejar dan jaga mereka dalam jangkauan tanganmu.
2. Pesan yang kami tangkap saat para mahasiswa seminari berbicara di sekitar perapian adalah mereka tidak ingin diberi tahu segala sesuatu yang dipikirkan oleh perempuan. Mereka ingin dibiarkan menebak-nebak dan menemukannya sendiri.
3. Kecantikan seorang perempuan, menurut Rasul Petrus, seharusnya terletak di pusat keberadaannya yang paling dalam, sebuah "...perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram yang sangat berharga di mata Allah".
BAB 23: KEKACAUAN YANG KITA CIPTAKAN
1. Laki-laki, bahkan desain tubuhnya saja menunjukkan, diciptakan menjadi seorang inisiator. Perempuan diciptakan untuk menjadi penerima, pemberi respon.
2. Adam dan Hawa membuat kekacauan ketika mereka membalik peran mereka. Hawa mengambil inisiatif, menawari Adam buah terlarang, dan Adam, yang seharusnya mengambil peran sebagai pelindung, berespon dan berdosa bersama Hawa. Tidak heran jika semakin jauh kita beranjak dari tatanan mula-mula, semakin bingung kita dibuatnya.
3. Saya ingin meminta para penantang saya untuk bercermin pada desain Sang Perancang, bertanya apa artinya, menguji cara mereka memperlakukan lawan jenis dengan pertanyaan-pertanyaan ini: Apakah ini cocok? Apakah ini pola yang akan jadi cara hidup saya? Apakah ini seirama dengan pengertian terbaik saya tentang rencana Allah? Apakah yang membawa laki-laki dan perempuan milik Allah menjadi dekat satu sama lain dengan kehalusan dan keanggunan? Apakah saya ingin berjalan di sini dengan iman, dan juga di wilayah lain hidup saya, atau akankah saya mengambil alih segala sesuatu sendiri?
BAB 24: KERINGAT YANG PANAS DAN KAKI YANG BASAH
1. Saya mencoba berkata kepada diri saya bahwa bukan menunggu, keterpisahan atau ketidakpastian yang paling sulit dihadapi, melainkan keheningan.
2. Melalui permasalahan, Allah menyingkapkan motivasi kita yang sesungguhnya: "...apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna...".
3. Jika Adam membutuhkan Hawa dan ia diciptakan untuk Adam, bukankah laki-laki dan perempuan saling menginginkan satu sama lain adalah hal yang alamiah? Memang itu adalah hal yang alamiah, namun itu bukan satu-satunya hal yang Allah rencanakan bagi kita. Bagaimana kita bisa melatih cita rasa kita untuk hal-hal yang sorgawi jika kita kenyang dengan hal-hal duniawi? Seks dan roti sama-sama tidak akan memuaskan kita.
4. Hati saya berkata, "Tuhan, ambillah kerinduan ini atau berikan kepadaku apa yang kurindukan". Tuhan menjawab, "Aku harus mengajarmu merindukan sesuatu yang lebih baik".
5. Dari Robert Louis Stevenson: "Setiap orang dapat mennggung bebannya hingga malam hari, betapapun beratnya beban itu. Setiap orang dapat melakukan tugasnya untuk satu hari, betapapun sukarnya pekerjaan itu. Setiap orang dapat hidup dengan manis, dengan sabar, dengan penuh kasih, dengan kemurnian, sampai matahari terbenam. Dan inilah arti hidup sesungguhnya".
Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok.. (Matius 6:24)
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Matius 6:11)
...selama umurmu kiranya kekuatanmu (Ulangan 33:25).
BAB 25: TAK SEORANGPUN MENGETAHUI KESUSAHAN ITU
1. Mencoba merasakan kesakitan orang lain memang perlu. Kita harus saling menanggung beban dan dengan demikian kita mematuhi hukum Kristus. Di atas semuanya, ini berarti belajar kasih Kalvari--melupakan diri supaya kuat untuk melayani.
2. Dimana ada kelemahan yang nyata, kelemahan yang mengejutkan dan mempermalukan kita, disanalah kesempatan kita untuk mempelajari apa yang harus Paulus pelajari melalui "durinya": anugerah Allah adalah yang kita butuhkan, karena "kuasa menjadi nyata di dalam kelemahan".
3. "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia".
BAB 26: AKHIRNYA SEPUCUK SURAT
1. Adakah sesuatu Tuhan, yang membuat hatiku terbagi? Jika pernikahan bukanlah untuk kami, maka Kristus sudah cukup bagi kami. Jika dalam perjalanan mengikuti-Nya Ia memberikan pernikahan kepada kami, maka kami akan menerimanya sebagai hadiah. Masalahnya, hadiah bukanlah hasil permintaan, tetapi diberikan secara sukarela dan keluar dari kasih.
2. Ada kelaparan di dalam diri akan Allah, diberikan oleh Allah, dan dipuaskan oleh Allah. Aku hanya dapat berbahagia ketika aku sadar akan apa yang sedang Ia lakukan, apa yang Ia kehendaki untuk dilakukan di dalam diriku.
3. "Seseorang harus berhenti dinikmati ketika orang lain paling menikmatinya. Hal ini diketahui oleh semua orang yang ingin dicintai selamanya" (Nietzsche).
No comments:
Post a Comment