BAB 31: SEBUAH GUA DAN API UNGGUN
1. Mengapa saya harus memikirkan pengharapan yang bodoh? Karena saya tidak bisa menolak untuk berharap.
2. Saya menulis ini dengan satu alasan. Untuk menunjukkan bahwa mungkin bagi dua orang muda, yang penuh dengan segala gejolak alami yang diberikan oleh Pencipta, untuk menolak godaan. Mereka tidak dapat melakukannya kecuali mereka memiliki sebuah motivasi yang layak untuk diperjuangkan.
3. Sebuah peringatan: Bukanlah ide yang baik untuk pergi ke gua atau duduk di dekat api unggun di tempat yang sepi jika Anda belum yakin akan Allah Anda. Paulus menasihati Timotius muda untuk "menjauhi nafsu orang muda..." Jangan berlari menghampirinya dan kemudian menyalahkan Allah jika godaan tersebut terlalu besar bagi Anda.
BAB 32: BAGAIMANA CARA ANDA BERKATA TIDAK?
1. Anda dapat melakukannya dengan dua cara: dengan perkataan dan bahasa tubuh. Anda berkata tidak dan Anda menyingkir.
2. Menyerah, bukan pencobaan, yang adalah dosa. Kita harus terus meminta Juruselamat menolong kita, menghibur, menguatkan, dan menjaga kita. Ia tidak segan, Ia bersedia. Ia akan menggendong Anda, jika Anda mau. Anda harus menginginkannya.
3. Konflik terus berlangsung, tetapi kehendak dua orang telah diserahkan kepada Tuhan. Cinta yang dirasakan hati mereka telah diserahkan. Ia menolong kita. Ia menggendong kita.
4. Apakah kau masih percaya Tuhan memimpinmu ke sini? Aku percaya. Aku mengatakannya tanpa ragu atau perubahan. Aku mencintaimu sekarang dengan iman. Apa yang sedang Allah kerjakan, aku tidak dapat mengatakannya, tetapi aku tahu akan hal ini: Ia telah memimpin kita bersama. Aku percaya Dia yang ada di dalammu menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang sangat kentara itu. "TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu" (Mazmur 138:8).
5. Aku tidak ingin berpisah darimu dengan kondisi seperti ini lagi. Maka aku telah berdoa dengan gentar agar Tuhan tidak membiarkan kita bertemu satu sama lain lagi tanpa memberikan kita keyakinan akan tujuan akhir-Nya bagi kita.
BAB 33: EMPAT KAKI TELANJANG
1. Apa yang terlihat bagi Jim seperti "moralitas militan" adalah sebagian dari pengetahuan yang ada di dalam diri seorang wanita bahwa ia memegang kunci dari situasi dimana hasrat seorang laki-laki muncul.
2. "Jaga jarak Anda", saya berkata pada para wanita. Kenalilah bahwa keanehan mendasar dari sifat manusia adalah kita menghargai apa yang tidak dapat kita peroleh dengan mudah. Kita menganggap sewajarnya, bahkan menganggap rendah apa yang kita peroleh tanpa usaha.
3. Beberapa hal tertentu hanya untuk cinta yang intim dan bukan milik kasih pertemanan. Ada hal-hal yang merupakan milik pernikahan yang bukan milik pacaran. Segala sesuatu ada waktunya.
4. Jika keperawanan harus dijaga, maka ada garis yang harus ditarik. Mengapa menempatkan diri Anda di dalam situasi dimana garis itu menjadi terhapus dan samar? Mengapa mengambil resiko? Mengapa menerima tekanan dari godaan yang sangat besar ketika Anda bisa dengan mudah menghindarinya dengan menolak untuk berasa dimana kompromi dimungkinkan?
BAB 34: PEMELIHARA AGUNG
1. "Kecenderungan... untuk mempercayakan apa yang paling diinginkan hati kita ke dalam Pemelihara Agung, yang merupakan kepercayaan umum, bahwa Allah sedang menjawab doa-doa kita dalam waktu dan cara-Nya yang terbaik, melibatkan proses penyaliban diri yang secara kentara tidak menyenangkan bagi pertumbuhan dan bahkan hidup pribadi itu sendiri" (T. C. Upham di Inward Divine Guidance).
2. Aku senang aku mencintaimu lebih dari penampilanmu, jadi jika aku menjadi buta, aku masih memiliki cinta. Tetapi penampilanmu tidaklah terpisah sama sekali dari perasaan cintaku. Mencintaimu hanya demi cinta semata? Tidak juga. Demi cinta, ya, tetapi juga untuk selusin hal lainnya, termasuk ingatan akan wajahmu.
BAB 35: KETIDAKSABARAN
1. Tidak ada yang lebih sulit bagi seorang wanita yang sedang jatuh cinta untuk bersabar dan tidak ada bukti yang lebih kuat dari karakter seorang pria daripada pengendalian kekuatannya.
2. Kecuali seorang pria siap untuk meminta seorang wanita menjadi istrinya, hak apakah yang dimilikinya untuk meminta perhatian wanita itu hanya untuknya? Kecuali wanita itu telah diminta untuk menikahinya, untuk apa seorang wanita yang berpikiran sehat mau menjanjikan seorang pria perhatian khususnya? Jika ketika waktunya telah tiba untuk komitmen, tetapi ia tidak cukup berani untuk meminta seorang wanita menikahinya, wanita itu tidak seharusnya memberikan alasan apapun untuk pria itu menganggap bahwa ia adalah milik pria itu.
BAB 36: AKU SEKARANG MEMILIKIMU TAK BERNODA
1. Aku yakin bahwa mencintaimu adalah bagian dari hidupku sekarang, sama pentingnya seperti makan. Dan Tuhan tahu, aku membutuhkannya.
2. Aku senang aku masih saja tidak bisa menjaga tanganku untuk tidak menyentuhmu, masih harus diingatkan untuk tidak "mengotorimu". Aku sekarang memilikimu tak ternoda, dan seperti itulah bagaimana aku membutuhkanmu sekarang.
3. Aku rasa, kita akan terbiasa dengan satu sama lain, sentuhan, aroma, dan paras wajah satu sama lain, tetapi aku senang itu bukan sekarang. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya, yaitu bahwa aku harus mengkhususkan diriku untukmu. Allah tahu ini adalah bertahan dalam kemurnian, dan Ia tahu betapa banyaknya goncangan terhadap kemurnian yang ada di depan.
BAB 37: BERTAHAN DENGAN TAWARAN ALLAH
1. "Rasa kehilanganmu" karena tidak bisa bersama beberapa bulan terakhir ini tidaklah baru bagiku. Aku mengetahuinya dan sering memberitahukan ini kepada-Nya. Dan pemikiran seperti "Jika Rumah-Mu lebih penuh, Tuhan... " (dari Amy Carmichael) menjadi penghiburanku. Tetapi kenyataan tidak adanya hasil yang kuperoleh membuatku terdiam. Karena jika kita benar-benar menyangkal diri kepada dan dari satu sama lain demi Dia, tidakkah seharusnya kita mengharapkan untuk melihat keuntungannya bagi kita?
2. Aku bersedia "rumahku di dunia menjadi lebih sepi" tetapi hanya jika "rumah-Nya menjadi lebih penuh". Dan aku pikir adalah hal yang benar untuk kita berpegang pada tawaran-Nya.
3. Ada semacam kesadaran filosofis bahwa sebenarnya aku tidak kehilangan apapun. Aku membayangkan kesenangan yang luar biasa ketika aku memikirkan melakukan hal bersama-sama, tetapi jangan biarkan harapan itu mengurangi sukacita melakukannya sendirian. Apa yang ada adalah nyata. Apa yang tampaknya tidak ada, aku tidak boleh mempertanyakan Allah seolah-olah Ia telah merampasnya dariku, padahal sebetulnya memang tidak ada. Lebih jauh lagi, hal-hal yang menjadi milik kita, dan hal-hal itu baik, pemberian Allah dan diperkaya.
4. Yang ketaatan minta dari kita, bukan penderitaan fisik ataupun pengasingan diri dari kehidupan sosial seperti yang terjadi pada beberapa orang, tetapi peperangan dengan kekuatiran dan penyesalan yang masuk ke dalam pemikiran kita. Kita telah menancapkan (di dalam integritas kita) panji kepercayaan kita di dalam Tuhan. Akibat yang akan muncul adalah tanggung jawab-Nya.
BAB 38: TUHAN MEMBERI DAN TUHAN MENOLAK
1. Tidak ada kehidupan rohani yang berjalan tanpa proses melepaskan. Jika kita memegang erat-erat apa yang diberikan kepada kita, tidak rela melepaskannya ketika waktunya tiba untuk melepaskan, atau tidak rela mengizinkannya untuk digunakan sebagai alat untuk Sang Pemberi, kita menghalangi pertumbuhan jiwa.
2. Sebenarnya, itu adalah milik kita yang harus disyukuri dan untuk dipersembahkan kembali kepada-Nya, milik kita untuk dilepaskan, untuk kita biarkan pergi--jika kita ingin menemukan diri kita yang sesungguhnya, jika kita menginginkan Hidup yang sejati, jika hati kita terarah kepada kemuliaan.
3. Maksud-Nya bagi kita ialah "...tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus". Banyak kematian yang harus terjadi di dalam usaha untuk mencapai tingkat pertumbuhan itu, dan banyak melepaskan. Semakin Anda menangkap tujuan Allah di dalam hidup Anda, semakin berkurang rasa buruk akan keterhilangannya.
4. "Langkah pertama untuk masuk ke dalam dunia memberi adalah... bukan kepada manusia tetapi kepada Allah: pemberian kita yang terbaik. Begitu lama pengertian kita tentang berserah dibatasi dengan definisi meninggalkan hal-hal yang dilarang. Kita belum pernah menangkap arti yang sesungguhnya dari kata-kata ini: 'tidak ada hal yang cemar' yang boleh dipersembahkan" (Lilias Trotter).
BAB 39: PERPUTARAN DAN RODA YANG KACAU
1. Ketabahan akan membuat kenyataan menjadi lebih manis.
2. Cinta menolong orang yang dicintai memahami segala sesuatu. "Kasih itu sabar...murah hati. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia menutupi segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu".
3. Keraguan saya secara manusia, sangat beralasan. Tetapi dari jarak ini, saya juga bisa melihat bahwa saya seharusnya mempercayai Allah di dalam Jim. Jim, meskipun seorang manusia dengan keterbatasan, mencoba yang terbaik untuk berjalan di dalam ketaatan kepada Allah. Ia tidak memaksakan keinginannya. Saya seharusnya merasa tenang mengetahui hal itu.
4. Kita selalu berada dalam genggaman kasih Allah. Kita tidak pernah sepenuhnya berada dalam belas kasihan orang lain. Ia yang memegang kunci, Ia yang menentukan nasib. Maka percaya kepada-Nya meminta agar saya membiarkan beberapa hal diputuskan oleh orang lain, jika keputusan sebenarnya adalah miliknya. Saya harus menolak keinginan hati saya untuk memanipulasinya, memojokkan, atau mengganggunta sampai ia menyerah. Saya harus percaya kepada Allah di dalamnya, percaya bahwa Allah akan melakukan bagi kita lebih baik dari yang saya tahu.
BAB 40: SURAT-SURAT CINTA
1. Aku mencintaimu. Dulu kalimat ini berarti "aku percaya kepadamu" dan "aku menghargai dan mengagumimu". Sekarang ini berarti aku menjadi bagian darimu, denganmu, di dalammu.
2. Cinta tidak sepenuhnya merupakan sebuah peristirahatan bagiku. Ada ketegangan dan tantangan, panggilan untuk menaklukkan.
BAB 41: INILAH ALLAH KITA, YANG KITA NANTI-NANTIKAN
1. Pernikahan adalah komitmen tiap jam sekarang.
2. Ayat yang diberikan kepada kami hari iru adalah Yesaya 25:9, "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan". Penantian itu melampaui kata-kata.
BAB 42: DARI CINTA KEPADA KASIH
1. Kemurnian sebelum pernikahan adalah tentang menahan diri kami dari satu sama lain dalam ketaatan kepada Allah. Sedangkan kemurnian setelah pernikahan adalah tentang memberikan diri kita kepada dan bagi satu sama lain dalam ketaatan kepada Allah. Hasrat, baik bagi orang yang belum menikah ataupun telah menikah, harus dikendalikan oleh prinsip. Prinsip itu adalah kasih, bukan perasaan erotis, sentimental, atau seksual, tetapi kasih.
2. Jatuh cinta adalah hal yang baik, tetapi bukan yang terbaik. Sebaliknya, kondisi jatuh cinta biasanya tidak berlangsung lama. Namun kondisi berhenti 'jatuh cinta' tidak harus berhenti mencintai. Cinta...adalah kesatuan yang mendalam, ditunjang oleh kehendak dan diperkuat secara hati-hati dengan kebiasaan; diperkuat dengan anugerah yang diminta dan diterima kedua orang dari Tuhan.
3. 'Jatuh cinta' menggerakkan mereka untuk menjanjikan kesetiaan; cinta yang lebih tenang ini memampukan mereka untuk menjaga janji ini. Berdasarkan cinta inilah mesin pernikahan digerakkan. Jatuh cinta hanyalah ledakan yang memulainya.
4. Tidak ada yang lebih besar daripada semangat kemurahan hati yang sejati, yaitu memberi diri. Kemurahan hati berkata, "Aku memberikanmu apa yang menjadi hakmu. Aku tidak bersikeras untuk mendapatkan hakku. Aku memberikan diriku kepadamu. Aku tidak memaksa agar kau memberikan dirimu kepadaku.
5. Memberi diri ini diperlukan jika suami dan istri ingin menaati perintah untuk mengasihi dan menundukkan diri. Adalah tugas suami untuk memegang otoritas sebagai kepala, seperti yang ditunjukkan Kristus ketika Ia memberikan nyawa-Nya bagi kita, tubuh-Nya. Bukanlah tugas istri untuk menuntut suaminya mengasihinya seperti Kristus mengasihi gereja. Tugasnya adalah tunduk begitu rupa (yaitu dengan senang hati, sukarela, sepenuh hati) sehingga mempermudah suaminya untuk mengasihinya seperti Kristus mengasihi gereja.
6. Cinta yang lebih tenang tetapi yang bertahan selamanya memang adalah cinta yang kekal. Cinta ini berarti kebaikan dan rasa hormat. Kebaikan dan rasa hormat yang sederhana, sopan, dan penuh kerendahan diri kepada orang lain, yang diciptakan menurut gambar Allah.
7. Kasih berasal dari Allah. Tidak ada cara lain untuk mengendalikan hasrat. Tidak ada jalan putar lain menuju kemurnian. Akhirnya, tidak ada jalan lain kepada sukacita. Yesus berkata murid-murid-Nya dalam momen-momen terakhir-Nya, "Tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya".
BAB 43: CIPTAAN YANG BARU
1. "Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka". Ini mengajarkan kepada kita bahwa ada titik keberangkatan. Siapa kita dulu dan siapa kita di dalam Kristus sekarang sangatlah berbeda. Berhenti hidup untuk diri Anda, mulailah hidup untuk Kristus. Sekarang.
PASSION AND PURITY
ELISABETH ELLIOT
No comments:
Post a Comment