Minggu lalu aku meet up ama temen lama, sekalian nemeni dia jaga pameran mobil. Kalo ga salah inget, udah 2 taon ga ketemu, jadinya banyak sharing tentang apa aja yang kami alami sampai di titik ini, terutama pergumulan selama masa pandemi en pandangan hidup kami. And I learned a lot from her.
Waktu itu dia bahas bahwa dia baru aja minjemi duid ke rekan kerjanya yang notabene bukan wanita baik2, supaya wanita itu bisa bayar biaya kost-nya. Niatnya nolong en jadi berkat, ternyata setelah nyicil 1x dari yang seharusnya 3x, wanita itu ngilang tanpa jejak. Refleks, aku nyeletuk "next time kalo mau minjemi duid ke orang, kudu pake hikmat loh". En dia bilang bahwa dia udah siap kehilangan duid karena tau background wanita itu, en terutama karena dia ngerasa Tuhan menggerakkan hatinya untuk nolong. Trus dia bilang:
"Aku tau dengan uang sebanyak itu aku bisa ngasi makan banyak orang, tapi orang2 miskin itu selalu ada. Kalo kita nolong orang hanya mengandalkan hikmat, ga akan ada yang mau nolong wanita kayak dia. Trus gimana wanita itu bisa melihat kasih Bapa? Kalo aku ga nolong dia, dia bakal pinjem duid ke siapa? Jangan2 dia lari ke orang2 yang ga bener ato terjebak dalam prostitusi".
Seketika aku jadi inget ayat yang akhir2 ini merhema di hatiku, "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?" (Matius 5:46). Aku merenungkan obrolan kami malam itu. Kita dipanggil untuk mengasihi, tanpa pilih2 siapa orangnya, bagaimana backgroundnya, apalagi menilai (menghakimi) seseorang berdasarkan "kelayakannya". Jika kita hanya mengasihi orang2 yang kita anggap layak, bagaimana dengan mereka2 yang "ga layak" di mata kita?
Sadar ato nggak, kita dibentuk en dididik dengan pola pikir seperti ini: "Ga semua orang layak ditolong". "Kalo mau nolong, liat2 orangnya dulu, jangan sampai kita dirugikan ato ditipu". Dengan pola pikir demikian, kita cenderung menghakimi sebelum menolong orang lain. Dan ujung2nya, kita pasti mundur teratur ketika bertemu dengan orang2 yang "ga menguntungkan kita jika kita tolong".
Aku jadi inget kisah tuan yang mencari orang untuk mengurus ladangnya dan memberi upah yang sama yaitu sedinar sehari bagi para pekerja, ga peduli jam berapapun mereka mulai bekerja. Dan hal itu menimbulkan sungut2 dari pekerja yang bekerja dari pagi sampai sore. Aku jadi bener2 ngerti implikasi ayat itu dalam kehidupan nyata, bahwa itulah "ketidakadilan yang adil" menurut Bapa. Dia adalah Bapa yang benar2 murah hati, yang ga memandang seseorang dari kelayakannya, namun dari kacamata anugerah.
Aku menyadari bahwa aku masih sering menghakimi orang "layak dan ga layak" menurut kacamata rohaniku. Aku masih males berhubungan dengan orang2 yang pernah kutolong dengan tulus tapi take me for granted atau mengecewakan bahkan memanfaatkanku berkali2. Aku tau bahwa area ini harus dibereskan di hatiku, karena siapakah aku yang dengan berani menilai "kelayakan" seseorang?
Jika Tuhan yang kusembah mengajarkan hal yang demikian, sudah sepatutnya aku pun melakukan seperti yang Dia teladankan. Sekalipun jujur aja, di dunia ini banyak banget manusia2 yang ga tau diri, yang memfitnah setelah ditolong, yang merendahkan bahkan menjatuhkan saat ditolong. Terkadang kita memang perlu "cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati", namun yang menjadi filternya adalah ketika kasih Bapa menggerakkan hati, aku mau taat sepenuhnya. Lead me oh, Lord.
Thanks Icha yang udah mengajarkan ayat tersebut dengan teladan nyata. I'm blessed to meet you that day 😊
No comments:
Post a Comment