"Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya" (1 Korintus 9:20-23)
Semalem zoom meeting "By your side" en aku sangat diberkati ama materi yang disampaikan ce Paulin. Kami bahas kesulitan2 apa aja yang kami hadapi saat memuridkan orang lain. Ternyata wajar banget kalo pemuridan tuh bukan sesuatu yang mudah, sering bikin kita jengkel, bikin kita ngerasa kok ga berdampak, dsb-nya. Itu tandanya kita bener2 butuh Tuhan dalam memuridkan 😂
Inti dari ayat di atas tuh kita harus menerima orang yang kita muridkan sebagaimana dia adanya, bukan menuntut dia harus begini begitu, bukan menilai orang tersebut udah kenal Tuhan sekian taon seharusnya udah ga lakuin ini itu, bukan membandingkan progress-nya dengan progress kita. Biarkan orang itu menjadi dirinya sendiri, mengalami progress-nya sendiri. Seringkali kita hanya menilai dari apa yang terlihat, dan lupa bahwa Tuhan menilai seseorang secara utuh sampai hal2 yang ga kelihatan. Kita harus fokus sama kedalaman, bukan keluasan.
Kita harus ingat bahwa "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan" (1 Korintus 3:6).
Seringkali pengalaman seseorang terhadap figur otoritas mempengaruhi hubungannya dengan Bapa di Surga. Kalo kita menilai anak rohani kita ga begitu tertarik pada hubungan dengan Bapa di Surga, kita perlu tau bagaimana background kerohaniannya, apakah dia pernah percaya pada Bapa lalu kecewa, sehingga merasa ga ada gunanya bersekutu dengan Bapa; atau ada background hubungan yang ga baik dengan ortunya di masa kecil.
Kita juga perlu tau, anak2 rohani kita di level apa: bayi rohani, anak2, remaja, atau dewasa. Jangan karena dia sudah lama bertobat, ke gereja, atau pelayanan, lalu kita nganggep orang itu sudah dewasa rohani; kemudian kita jadi jengkel kalo dia banyak pertanyaan atau berperilaku layaknya anak kecil. Wajar bagi anak2 untuk banyak bertanya, bahkan sekalipun hal2 yang seharusnya sudah dia tahu en sudah berulangkali kita ajarkan. Justru kalo punya anak rohani seperti itu, merupakan kesempatan untuk kita banyak mendekat dengan Tuhan 😊 Oh Tuhan, beri kami kesabaran extra sebagai ortu rohani...
Anak2 yang sudah remaja, relasinya mulai ke orang lain. Selama dia masih anak2, fokusnya adalah dirinya sendiri.
Secara psikologi, 3 tahun pertama kehidupanlah yang membentuk sifat asli seseorang. Di umur 0-3 tahun, otak kanan yang pertama kali berkembang, sehingga memvisualisasikan sikap, perilaku, cara menghadapi orang lain ketika berbicara, dsb. Saat 3 tahun pertama kehidupan, otak kiri yang mengandung logika belum berkembang, sehingga anak2 belum bisa banyak mengungkapkan kata2, belum bisa menangkap makna dari perilaku orang2 di sekitarnya terutama orangtuanya. Jadi mereka akan menerima semua yang mereka lihat itu sebagai suatu nilai yang dia pegang sampai dewasa. Itulah alasan bahwa sangat layak untuk menggali masa lalu seseorang.
Tuhan menciptakan kita dalam keluarga karena pada dasarnya Ia ingin kita mencicipi bagaimana kasih Bapa surgawi itu melalui ayah kita, bagaimana kelembutan Roh Kudus itu melalui seorang ibu, bagaimana Yesus sebagai yang sulung dari antara saudara melalui kakak adik kita. Namun seringkali keluargalah yang pertama kali menimbulkan luka dalam kehidupan kita. Dan kita tau itulah yang iblis lakukan untuk merusak rencana besar Tuhan, sehingga kita ga bisa mengalami keindahan sebuah keluarga yang menggambarkan surga.
Ketika kita menghadapi anak rohani yang sangat sulit dihadapi, penting untuk meminta Tuhan bukakan orang itu akan jadi apa di masa depan secara spesifik, sehingga kita bisa bertahan menghadapinya. Sesulit apapun anak rohani kita untuk dihadapi, selama dia ga "bangun tembok", "bakar jembatan", atau menolak kita; tetaplah berharap bahwa dia akan mengenal Tuhan melalui hidup kita.
Bagaimana kita hidup LEBIH PENTING daripada bagaimana kita melayani!
Kalo kita berhadapan dengan orang yang mati rasa, kita perlu tau mungkin itulah satu2nya cara seseorang untuk menjalani hidup yang begitu berat ketika dia ga berani untuk bunuh diri (bisa karena dididik ga boleh mempermalukan keluarga). Orang mengambil langkah "mati rasa" karena merasa ga ada jalan keluar untuk kehidupannya yang dikelilingi oleh toxic people.
Solusi menghadapi orang yang kehidupannya sangat dramatis karena pengaruh toxic people adalah menerima orang itu apa adanya, bukan mengkoreksi atau menyalahkan perilakunya. Kalo dia merasa diterima, tenang, dan puas; barulah kita bisa masuk ke kehidupannya dan menanamkan nilai2 kebenaran ke dalamnya. Selain itu, perlu doa firman untuk melayani orang tersebut.
***
Dari sesi kali ini, aku belajar buanyak hal tentang pentingnya menggali masa lalu serta menerima seseorang apa adanya ketika memuridkan. Aku sadar bahwa masih banyak pengalaman masa lalu yang mempengaruhi caraku melayani serta memuridkan orang lain. Tapi yang bikin aku lega adalah kata2 validasi dari ce Paulin:
Thanks Jesus buat kepercayaan-Mu untuk kami melayani dan memuridkan orang lain. Thanks karena Engkau menaruh orang2 itu dalam hidup kami, sesulit apapun orang itu untuk dihadapi, apapun background mereka, bagaimanapun sikap en perilaku mereka. Jadikan kami berkat, jadikan kami dewasa sehingga kami menjadi teladan bagi orang2 yang kami muridkan 🙏

No comments:
Post a Comment