Beberapa hari lalu chat ama temen les Mandarin yang ktemu lagi gara2 kami ikut webinar yang sama. Setelah ngobrol2, kami sadar kalo kami ini tipe yang kurang lebih sama, bergumul soal kerjaan, en dulunya kami punya mindset yang sama yaitu hidup adalah perjuangan 😆
Dari webinar yang kami ikuti, banyak pola pikir kami yang diubahkan, banyak kebenaran yang mengubahkan kami sehingga hari ini kami udah ga mudah stress seperti dulu. Kami lebih bisa menikmati dan memaknai hidup, lebih bisa menghargai banyak hal terutama mengasihi diri sendiri. Bersyukur banget kami dipertemukan lagi, sama2 belajar en diubahkan ke arah yang lebih baik.
Ketika chat, kami bahas tentang apa aja yang sedang kami alami en pelajari dalam kehidupan akhir2 ini. Aku cerita kalo aku lagi nonton drama China "To Dear Myself" yang relevan banget buat aku yang bergumul soal kerjaan, sampai aku menyadari karakterku yang suka banget berjuang en mengalahkan keterbatasanku sendiri. Dialog2 dalam film itu banyak menyadarkanku bahwa beberapa karakterku itu sudah tepat, kalopun terjadi hal2 di luar dugaan, itulah tantangan kehidupan.
Ternyata temenku ini juga suka ama drama2 China dimana ceritanya simple tapi menempelak. Dia ngerasa bahwa drama China walopun ga fantastis kayak drama Korea, tapi justru relevan buat kehidupan nyata, sehingga bisa dijadikan pembelajaran. Akhirnya kami saling sharing hal2 apa aja yang jadi pembelajaran kami dari drama2 yang kami tonton, en relevansinya dalam kehidupan kami masing2. Hahahaha.
Trus temenku ini bilang:
"Hidup itu dinikmati. Berproses itu wajib, tapi kita terbuka ama berkat dan kemudahan".
"Kita sebagai cewek juga perlu achievement, dan achievement itu perlu tantangan, ga mungkin didapat dari yang gampang2. Kita tetap hadapi bertahap, dan ga menolak kemudahan yang ada".
"Kemudahan itu sering dilupakan to. Terlalu fokus sama berjuang e, jadi kita lupa kalo kita diberkati dan lupa minta berkat. Lah kita tetep bayar harga tapi bayar e kelebihan, sampe mau bayar terus, lali klaim hasil e".
Dari chat itu, tiba2 aku inget "the ease anointing", yaitu bahwa Tuhan terkadang memberikan urapan kemudahan sehingga apapun yang kita hadapi mendadak jadi smooth, jalan2 yang tertutup jadi terbuka, hal yang njedog tiba2 ada terobosan. Aku sadar kalo aku terlalu fokus berjuang, menikmati rasa sakit dalam proses perjuangan, sehingga lupa bahwa Bapa yang penuh kasih itu terkadang memberikan kemudahan bagi anak2-Nya.
Trus aku mendadak inget ama doa Yabes, "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu (1 Tawarikh 4:10). Yabes jelas2 minta berkat, perlindungan, serta keluputan dari rasa sakit. Yang hebatnya, Tuhan mengabulkan permintaannya itu. Siapakah aku ini yang sok2an menikmati rasa sakit dalam proses? Ahahahaha.
Aku diingatkan ama temenku bahwa sebenernya ketika mindset kami sudah diubahkan, kami udah bisa handle stress, kami udah bisa punya waktu untuk bersantai (ga kerja mulu) tuh berarti kami udah ada di jalur yang benar. Kami hanya tinggal "let go and let God". Kami perlu menyadari keterbatasan kami sebagai manusia, ga mungkin handle semua kerjaan, ga mungkin bisa selesaikan semua masalah, ga mungkin punya excellent performance 24 jam. Kita perlu let go hal2 yang ada di luar kendali kita, dan mengizinkan Tuhan ikut campur tangan di dalamnya. Ini hal simple, tapi kayaknya gue ga lulus2 yaa, hadehh 🙆
Thank you ce Vera buat obrolan2nya yang mengingatkan en menempelak. It's good to see you again 😁
No comments:
Post a Comment