October 18, 2021

DILUPUTKAN

"Be thankful for closed doors, bad vibes, and stuff that falls apart. It'll protect you from things not meant for you" 


Sekitar 3 minggu lalu, aku dikontak sama mantan anak buah di kantor yang terakhir. Lalu bergulirlah cerita tentang kondisi mereka sekarang. Setelah berbulan2 penuh masalah yang ga ada habisnya, stress berkepanjangan, ketidakjelasan owner maupun direktur utama, kemarahan para customer; akhirnya mereka mulai agak tenang karena semuanya sudah hampir selesai. Lalu direktur utama juga ga jelas kinerjanya apa, ga bisa dijadikan teladan sama sekali. Disitu aku ngerasa bener2 bersyukur resign di bulan Mei kemarin. 


Walopun selama hampir 5 bulan ini rasanya hidupku ga berbuah, tapi ternyata Tuhan luputkan aku dari masalah dan stress yang ga perlu. Resign-ku kali ini memang dramatis, tapi Tuhan ijinkan untuk memaksaku rest sepenuhnya, menyadari hal yang terutama adalah mengenal Dia. Aku tau bahwa kalo aku ga resign, keuntungan yang kudapat cuma gaji, ditambah dengan persoalan yang hanya akan bikin aku stress tak berujung. 


Disitulah aku bersyukur ama Tuhan. Dia tau apa yang akan terjadi dan Dia melindungiku dengan cara-Nya yang unik. Kalo aku ga kena anxiety disorder, aku ga akan resign di masa pandemi ini. Kalo aku bisa handle stressku, pasti aku akan kena masalah bertubi2 karena emang owner-nya sama sekali ga tanggung jawab. Tuhan menjagaiku dengan kasih dan pengertian-Nya yang tak terselami. 


Jadi, aku belajar memandang hidup ini dengan lebih beriman. Aku percaya bahwa dalam setiap musim, Dia itu teramat baik, sekalipun aku ga ngerti rancangan-Nya. Aku percaya bahwa Dia menyediakan semua yang mataku ga pernah lihat, telinga ga pernah dengar, maupun yang ga pernah timbul dalam hatiku. Dia tau aku butuh rest dalam hadirat-Nya. Dia tau jalan yang terbaik yang harus kutempuh. Dia tau kapan waktunya aku harus berhenti dari suatu tempat.


Hari2 ini ketika tampaknya hidupku ga berbuah secara finansial, aku tau bahwa Dia sedang mengerjakan banyak hal di hatiku. Dia mengubahkan pola pikirku, prioritasku dalam hidup, serta memberiku banyak kesempatan untuk menabur bagi keluargaku. Aku bersyukur di waktu resign ini, penyakit di kaki mama terdeteksi, aku bisa nemeni beliau ke dokter bahkan bantu pekerjaan rumah. Awal2 rasanya hampa, karena aku terbiasa menilai diriku dari pencapaian yamg kuraih. Saat2 seperti ini, aku kembali disadarkan bahwa menemani dan merawat orangtuaku adalah sebuah kesempatan indah. 


Dan aku sangat bersyukur karena pengalamanku kena anxiety disorder ini Tuhan pakai untuk menolong dan menguatkan beberapa orang yang juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Memang mental health menjadi issue terbesar selama pandemi ini berlangsung, tapi ga semua orang menyadari kondisi mentalnya ataupun tau cara mengatasinya. Aku bersyukur buat malam2 panjang penuh kesempatan untuk berbagi dengan beberapa orang tentang jalan menuju kesembuhan mental. 


Jujur aja, di masa pandemi gini, sebenernya aku lebih memilih buat dapet gaji tetap tiap bulan. Tapi kalo pun Dia ijinkan aku masih stay di rumah, aku yakin Dia yang akan take care soal kebutuhan hidup keluargaku. Aku percaya bahwa bulan2 ini Dia sedang menyediakan suatu berkat yang melampaui uang bagi keluargaku. 


Aku bersyukur buat hikmat Tuhan yang ga terselami, buat hati yang baru yang bisa menerima segala hal yang terjadi, buat pengenalan akan Dia di level yang lebih dalam. Ga ada pencapaian apapun yang sebanding dengan semua proses serta kebaikan yang kuterima di bulan2 ini. I adore You, Jesus 😍

No comments: