Hari-hari di bulan pertama kerja di kantor baru, aku masih belum ngerti apa yang jadi kehendak Tuhan bagiku di kantor ini. Aku terus berdoa, berdoa, en berdoa. En tetep aja nggak mudeng, apa sih visi yang Tuhan kasi buatku di kantor ini. Apa sih yang harus kulakuin supaya Kristus jadi nyata melalui hidupku.
Waktu itu masih masa-masa penyesuaian di kantor baru en aku capek banget secara fisik karena kerjaan di kantor baru ini banyak banget (sekalipun seniorku bantuin aku). Jadi waktu-waktu itu aku selalu tepar pas nyampe rumah, belum lagi kalo malemnya masih harus les mandarin. Hidup berasa kayak robot yang cuma gitu-gitu aja aktivitasnya. Fiuhhh.
Aku sempet juga nggak punya waktu untuk anak-anak rohaniku karena kecapekan. Trus ada seorang anggota CG yang protes ke aku, karena beberapa kali aku nggak bisa dateng pemasa karena aku pergi sama temen-temen untuk refreshing, trus sempet juga ada acara pernikahan temen. Dia bilang kalo aku harusnya bisa lakuin lebih, nggak cuma kayak gini doank. Aku tau aku bisa lakuin lebih, tapi aku tau batas kekuatanku, en aku tau batas-batas yang Tuhan tentuin untukku (karena aku bukan ketua CG).
Pas itu aku sempet baca sebuah tulisan en nemuin kata-kata yang menguatkan aku:
“Masalahnya bukan melakukan lebih banyak, melainkan ketaatan total. Berikanlah kepada Tuhan alasan untuk memberkati Anda! Patuhilah Dia sepenuhnya!” (Tommy Tenney, An Ultimate Comeback).
Aku baru nemuin apa yang harus kulakukan ketika aku baca Yohanes 15: 1-8 untuk persiapan SM (Saling Membangun) di pemasa. Jadi intinya, Tuhan pengen aku dieeemmmm aja di kantor ini (bukan berbuat banyak hal, tapi diam en membiarkan karakter Kristus yang nampak melalui kehidupanku). Biar orang lain ngeliat gimana sih anak Tuhan itu, gimana sih orang Kristen yang radikal itu. En hal itu nggak gampang buat diriku yang kolerik akut ini. Hahahaha.
En inilah yang kupelajari:
Yohanes 15:1 --> Tuhanlah pokok kehidupanku, en Bapalah yang memiliki segala sesuatunya, dimana kita harus bertanggung jawab kepada Bapa, Sang Pengusaha.
Yohanes 15:2 --> Masa-masa yang sulit yang kualami di kantor, nggak berarti Dia meninggalkanku. Tapi inilah saat dimana Ia membersihkan hidupku dari hal-hal yang nggak berkenan kepada-Nya, supaya aku lebih banyak berbuah bagi-Nya.
Yohanes 15:3 --> Firman Tuhanlah yang membersihkan kita. Setiap kali kita membaca Firman-Nya, ada hal-hal yang Roh Kudus koreksi, ada hal-hal yang Roh Kudus tegur, serta ada hal-hal yang Roh Kudus singkapkan.
Yohanes 15:4; “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” --> I can do nothing without Christ. Inilah pelajaran berharga yang harus meresap dalam jiwaku, bahwa semua hal yang pernah kucapai di belakang, bukan karena aku hebat, tapi hanya karena Tuhan.
Yohanes 15:5 --> bagian kita adalah TINGGAL dan MELEKAT dengan Tuhan. Sebuah ranting nggak perlu berusaha untuk memperoleh nutrisi makanan, nggak perlu berusaha untuk bertumbuh. Bagiannya adalah tetap tinggal pada pokok sebuah pohon. Ranting hanya bertugas untuk menerima, menyerap, dan tetap melekat pada pohonnya.
Demikian juga dengan hidupku saat ini. Tuhan nggak pengen aku melakukan banyak hal. Dia mau aku diam en menerima apa yang Dia kerjakan dalam hidupku. Dari situlah, maka hidupku akan menghasilkan buah. Diperlukan sebuah kesetiaan untuk tetap melekat sama Tuhan, terutama saat aku nggak ngerti apa-apa.
Yohanes 15:6 --> Jikalau aku mulai nggak setia sama Tuhan atau mulai meninggalkan-Nya, maka hidupku nggak akan berguna lagi. Maka aku akan dicampakkan en menjadi kering. Aku butuh Tuhan.
Yohanes 15:7 --> Kalo kita melekat sama Tuhan, apapun yang jadi permintaan kita, keinginan kita akan diselaraskan dengan apa yang jadi kehendak Tuhan, sehingga ketika kita memintanya, maka hal itu akan dikabulkan.
Yohanes 15:8 --> Ketika hidup kita menghasilkan banyak buah, maka Bapa akan dipermuliakan. Setiap proses yang terjadi dalam kehidupan kita, mungkin nggak ada seorangpun yang perlu tau, itu merupakan rahasia antara kita dengan Tuhan. Namun setiap kali kita selesai diproses, buah-buahnya dapat terlihat en dinikmati (memberkati) banyak orang, sehingga Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita. Tapi jangan sampai kita menghasilkan buah yang pahit atau tawar. Setiap proses yang kita alami, seharusnya menghasilkan buah yang matang dan manis dalam hidup kita :D
Sekedar sharing:
Di halaman depan rumahku ada sebuah pohon mangga. Mama nanam pohon itu pas adekku masih bayi (sekarang dia berumur 20 tahun). Karena tanah di halaman cuma sedikit en jarang dipupuk, maka pohon mangga itu nggak berbuah. Bertahun-tahun pohon itu nangkring di depan rumah, malahan bikin kotor pas daun-daunnya berguguran. Berkali-kali aku bilang ke mama supaya tuh pohon ditebang aja, karena waktu itu sempet banyak semut merahnya en capek banget nyapu daun-daun yang rontok, tanpa pernah nikmati buahnya. Tapi mama nggak mau, katanya biarin deh supaya nyejukkin rumah.
Sekitar 1 atau 2 tahun lalu, mama sempet denger kotbah yang bilang bahwa ada kuasa dalam perkataan kita. Jika kita memperkatakan kehidupan untuk sesuatu yang mati, hal itu bisa hidup. En anehnya, mama praktek ke si pohon mangga. Tuh pohon didoain, diperkatakan yang baik-baik. Aku mikir, mama ada-ada aja deh.
Ternyata apa yang mama lakuin tuh menghasilkan suatu perubahan. Doa emang bener-bener punya kuasa yang dahsyat, bahkan atas sebuah pohon :P Mulai tahun lalu, tuh pohon berbuah. Buahnya banyak banget, sekali berbuah bisa sampai 100-an. Tapi buahnya harus cepetan dipanen sebelum diambil maling, jadi masih mangga muda gitu. Puji Tuhan!
Tapi tahun lalu, pohon itu nghasilin buah yang kecuuutt minta ampun en buahnya nggak enak. Jadi waktu kami bagi-bagi buahnya ke sodara-sodara, mereka protes. Hahaha. Tapi hal itu nggak bikin mama putus asa. En aku pun mulai ikutan berdoa buat tuh pohon, supaya buahnya enak en manis (sekalipun doaku nggak segencar doanya mama :p)
En tahun ini, pohon itu berbuah lagi en ngehasilin buah yang lumayan enak. Orang-orang yang kami bagiin buahnya, seneng en sering minta lagi. Hal ini keliatannya simple en nggak bermakna. Tapi aku belajar dari pohon mangga itu. Ketika pohon itu nggak berbuah, dia hanya bisa menyejukkan rumahku dengan kerindangan ranting-rantingnya. Tapi waktu dia berbuah banyak en manis, dia bisa menjadi berkat buat setiap orang yang memakannya.
Ajar aku untuk nggak sekedar jadi orang Kristen yang baik, Tuhan. Tapi aku mau jadi orang Kristen yang berbuah lebat en manis, supaya aku membawa dampak bagi setiap orang yang kutemui. Amin.
Oct 19, 2013
