Sabtu
25 Mei 2013, aku janjian sama laoshi buat ketemuan di mall lalu dikenalkan ke
temannya (orang Taiwan) yang akan buka usaha di Surabaya dalam waktu dekat.
Temannya laoshi ini butuh karyawan yang bisa ngomong mandarin untuk kerja di
perusahaannya sebagai accounting staff,
translator, dan ahli hukum. Jadi hari
itu, laoshi membawa 3 muridnya (termasuk aku) untuk dikenalkan ke temannya itu.
Selama ini, di tempat les mandarin aku termasuk murid yang selalu dapet nilai ujian yang bagus. Aku selalu bisa menangkap setiap materi yang diajarkan dengan baik, bisa berbicara sedikit-sedikit (walopun belum lancar) dalam bahasa mandarin. Teman-teman lesku selalu menganggap aku pintar, laoshi pun sering memujiku.
Selama ini, di tempat les mandarin aku termasuk murid yang selalu dapet nilai ujian yang bagus. Aku selalu bisa menangkap setiap materi yang diajarkan dengan baik, bisa berbicara sedikit-sedikit (walopun belum lancar) dalam bahasa mandarin. Teman-teman lesku selalu menganggap aku pintar, laoshi pun sering memujiku.
Tapi
hari itu, pas aku ketemu dengan 2 orang Taiwan yang merupakan pemilik
perusahaan en diajak ngomong dalam bahasa mandarin, aku nggak ngeh sama sekali. Dieennkk. Waktu itu kami bertiga seperti di-interview kecil-kecilan oleh mereka.
Untungnya, salah satu murid laoshi berbaik hati sama aku, dia bantuin nerjemahkan
sehingga aku bisa berkomunikasi denagn mereka. Aku menyadari kalo kosakataku
dalam bahasa mandarin masih terlalu sedikit. Aku perlu banyak belajar supaya
bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa mandarin.
Aku
belajar satu hal hari itu. Benarlah ungkapan “di atas langit masih ada langit”.
Walopun di tempat les mungkin aku termasuk murid yang cukup pintar, namun
faktanya aku masih perlu banyak belajar untuk bisa benar-benar menjadi pintar.
Hahahaha. Peristiwa hari itu bikin aku mengurungkan niatku untuk berhenti les
mandarin :p
Aku
jadi memahami perkataan Yesus, “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku?
Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku” (Yohanes 8:43). Dalam kasus ini,
orang Israel tidak bisa memahami maksud kedatangan Yesus untuk mati di kayu
salib karena mereka nggak ngerti bahwa pembebasan yang dijanjikan Bapa bukanlah
seperti yang mereka mau. Mereka mengharpkan Mesias datang untuk membebaskan
mereka dari perbudakan orang Romawi, padahal Bapa bermaksud untuk membebaskan
mereka dari perbudakan dosa.
Kejadian
yang aku alami bikin aku paham bahwa seringkali aku pun nggak bisa menangkap
maksud Bapa (bukan karena Bapa ngomong pake bahasa asing ya) karena aku nggak
ngerti maksud hati-Nya. Bahasaku BERBEDA dengan bahasa-Nya. Apa yang aku pikirkan
seringkali NGGAK NYAMBUNG dengan apa yang Dia pikirkan. Itulah yang bikin aku
sering banget salah ngerti atopun ngambek sama Dia (bener-bener hal yang nggak
patut ditiru >_<).
So
gimana caranya kalo kita mau memahami maksud hati Bapa? Kenalilah bahasa-Nya,
pelajarilah firman-Nya, bersekutulah secara intim dengan Dia. Seringkali bahasa
kita adalah aku, buat aku, dan untukku. Tapi bahasa Bapa adalah kasih, kasih,
dan kasih. Seringkali firman-Nya masuk ke otak kita, tapi nggak masuk ke hati
kita sehingga kita nggak bener-bener paham. Itulah pokok permasalahannya.
Persekutuan yang intim adalah kunci untuk menyelaraskan hati kita dengan hati
Bapa sehingga kita bisa memahami apa yang menjadi kehendak-Nya.
Sama
seperti saran yang laoshi kasi ke aku, “Kalo kamu sering dengar, lihat, en
ngomong, lama-lama kamu pasti bisa”, demikian juga kalo kita sering bersekutu
dengan Bapa, maka lama kelamaan kita pun pasti dapat memahami maksud-Nya.
NB:
Sejak awal aku memutuskan untuk les mandarin, papaku selalu bilang “Bahasa
mandarin tuh susah, nggak gampang buat dipelajari”. Tapi aku nggak mau nyerah.
Memang sampai hari ini (udah sekitar 20 bulan aku les mandarin), aku belum bisa
ngomong dengan lancar pake bahasa mandarin, tapi aku tahu kalo aku ngalami
peningkatan. Yang namanya belajar tuh butuh proses, butuh waktu, butuh
kesabaran. Demikian juga dengan memahami hati Tuhan, nggak bisa instan kan.
Tapi kalo kita tekun, pasti ngalami yang namanya PROGRESS. So, jangan nyerah,
jangan putus asa! Tetap maju en mendekat pada-Nya.
May 27th 2013
No comments:
Post a Comment