"Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali." Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya (I Raja-raja 18:36-38).
Baru-baru ini Tuhan ngajari aku tentang keintiman dengan Dia. Yang namanya keintiman dengan Tuhan tuh ngga melulu bicara sesuatu yang dahsyat, tapi berbicara dari hati ke hati, dengan penuh keyakinan bahwa kami saling percaya dan memahami. Keintiman tuh tentang dua hati yang terpaut satu sama lain, berusaha menyediakan waktu untuk berkomunikasi dalam hal apapun dan kapanpun. Tuhan ngajari aku untuk kembali berbisik ke Dia di tengah kesibukan di kantor, kadang cuma ngomong satu dua hal yang simple, kadang cuma bilang apa yang aku rasakan, kadang cuma bilang "Lord, thankyou and I love You".
Keliatannya hal itu simple en mendasar sekali untuk bangun keintiman dengan Tuhan, tapi faktanya banyak orang yang uda lama jadi Kristen malah uda ngga pernah melakukan hal-hal seperti itu sama Tuhan. Hal-hal yang keliatannya sepele, tapi keluar dari kerinduan hati serta komitmen untuk menjaga komunikasi tuh penting. Aku belajar lagi untuk mendengarkan suara-Nya yang lembut, di tengah hiruk pikuk deadline SPT tahunan. Dan justru suara-Nya itu meredam semua rasa stress dan memberikanku hikmat dalam banyak hal.
Ngomongin tentang keintiman, pasti ada buahnya kan ya. Ayat di atas bicara tentang kuasa yang Elia miliki sebagai buah dari keintiman hubungannya dengan Tuhan. Dia ngga perlu doa panjang lebar, ngga perlu nunggu berjam-jam, ngga perlu metode yang rumit "hanya" untuk mendapatkan jawaban doa. Keintiman mendatangkan percepatan, kuasa, dan mujizat.
Tiba-tiba aku inget soal ilustrasi soal hubungan ortu dan anak. Seorang anak ngga perlu minta ijin ke ortu untuk ambil apapun yang ada di kulkas rumahnya (coklat, es krim, buah, cake, dsb). Semua yang ortunya miliki adalah miliknya, dia bole ambil en makan apapun yang tersedia di kulkas. Beda dengan tamu ato tetangga, ngga mungkin bisa sebebas itu ambil apapun yang ada di meja makan, apalagi kulkas.
Begitu juga dengan kehidupan kita, jika kita dekettt ama Tuhan, bangun keintiman dengan-Nya en jadi kekasih hati-Nya maka kita punya hak istimewa itu. Ngga perlu berbelit-belit ketika pengen sesuatu, ngga perlu bingung nyampein apa yang ada di hati, ngga perlu ragu buat minta pertolongan-Nya saat kita butuh. Keintiman yang dibangun akan menghasilkan buah-buah yang manis.
Sebenernya berkat terbesar dalam hidup ini bukanlah berkat itu sendiri, tapi keintiman dengan Tuhan. Ketika hati kita dan hati Tuhan menjadi satu, apa yang menjadi kerinduan-Nya juga menjadi kerinduan kita, maka kita ngga perlu ngoyo untuk mengajukan permohonan kita. Cukup berbisik dengan segenap hati kepada Pribadi yang kita cintai dan mencintai kita, maka Ia akan hadir.
Bersyukur banget punya Tuhan yang begitu nyata, begitu dekat, dan begitu akrab. Bersyukur banget karena aku punya Pribadi yang selalu ada di sampingku di setiap waktu, siap mendengarkan isi hati dan pikiranku, serta mampu menolongku dengan cara yang ajaib. I love You wholeheartedly, Jesus!
No comments:
Post a Comment